Jakarta (Waspada Aceh) – Pada Senin (9/3/2026) waktu setempat, langit di bagian selatan Tel Aviv berubah menjadi merah membara setelah rudal balistik milik Iran menghujani wilayah tersebut, hanya beberapa detik setelah sirene tanda bahaya meraung-raung di seantero Israel.
Insiden yang mengundang kepanikan ini terekam dalam sejumlah video amatir warga yang menampilkan bola-bola api membelah kegelapan malam, menimbulkan kekacauan di kalangan penduduk setempat.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, serangan udara skala besar ini merupakan yang pertama dilancarkan Teheran sejak penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran, menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei.
Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu, yang menurut otoritas Iran juga menewaskan lebih dari 1.200 orang lainnya dan melukai lebih dari 10.000 orang.
Dunia internasional menilai serangan ini sebagai pesan “salam kenal” sekaligus bukti nyata dari janji balas dendam Mojtaba Khamenei atas kematian sang ayah. Hanya dalam hitungan jam setelah resmi memegang tongkat kepemimpinan, Mojtaba langsung mencatat serangan langsung ke jantung pertahanan Israel.
Langkah agresif ini membuktikan kekhawatiran banyak pihak bahwa Mojtaba Khamenei adalah sosok yang jauh lebih militan dan tidak ragu-ragu mengambil opsi konfrontasi terbuka demi menjaga harga diri negaranya.
Menurut keterangan pers Kedutaan Besar Iran di Jakarta, pada Senin (9/3/2026), gelombang ke-30 operasi militer yang menargetkan pangkalan AS dan wilayah Israel berada di bawah komando Mojtaba Khamenei.
Operasi ini diberi nama “Janji Setia 4” (Va’deh Sadegh 4) dan dilaksanakan dengan mengerahkan rudal Khorramshahr-4, rudal Fattah, rudal Kheibar Shekan, serta armada drone. Serangan tersebut diklaim berhasil mengenai pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah dan sejumlah target di Israel bagian utara.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ali Mohammad Naini, menyatakan bahwa Teheran dapat melanjutkan perang intensif selama enam bulan melawan AS dan Israel. Ia juga menambahkan bahwa sejauh ini Iran baru menggunakan rudal generasi pertama dan kedua, namun dalam beberapa hari ke depan akan menggunakan rudal jarak jauh yang lebih canggih dan jarang digunakan.
Selain itu, Iran juga telah memasukkan aset ekonomi AS ke dalam daftar target serangan, sebagai tanggapan atas pernyataan pejabat AS dan Israel yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap rakyat Iran.
Serangan Iran ini memicu reaksi beragam dari dunia internasional. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen meminta Iran untuk segera menghentikan serangan dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri dari eskalasi lebih lanjut. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan merupakan ancaman terhadap keamanan regional.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta penghentian segera permusuhan dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri secara maksimal. China dan Rusia juga menimbang krisis ini, namun tidak secara terbuka mengkritik Iran, melainkan hanya menyerukan penahan diri dan penyelesaian masalah melalui cara politik dan diplomatik. (*)



