Teheran (Waspada Aceh) – Sebuah tragedi kemanusiaan yang mengerikan terjadi di Iran selatan pada akhir Februari 2026. Serangan udara AS-Israel menimpa Sekolah Dasar Shajareh Tayebeh di kota Minab, Provinsi Hormozgan, menewaskan 168 pelajar, menurut laporan pemerintah Iran.
Insiden pada Sabtu pagi itu telah memicu kemarahan luas dan saling menuduh antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.
Analisis citra satelit yang telah diverifikasi menunjukkan adanya sejumlah serangan dan reruntuhan bangunan yang hangus terbakar di sekitar sekolah tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa lokasi tersebut dihantam lebih dari sekali, dalam serangan yang terjadi pada hari itu.
Selain itu, kerusakan yang luas juga terlihat di kompleks Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang lokasinya berdekatan dengan sekolah. Pakar amunisi, N R Jenzen Jones, menyatakan bahwa daerah tersebut “dihantam oleh beberapa serangan simultan atau hampir simultan”.
Dua bangunan yang rusak dapat terlihat jelas dalam gambar: satu bangunan rata dengan tanah di dalam pangkalan IRGC dan bangunan sekolah yang sebagian runtuh.
Rekaman yang telah diverifikasi dari dampak langsung serangan tersebut menunjukkan pemandangan yang menyedihkan. Sejumlah keluarga berteriak panik dan orang-orang sibuk mencari korban di antara reruntuhan. Dalam beberapa video, terlihat orang-orang mengangkat tas sekolah dan buku anak-anak ke arah kamera, menjadi bukti nyata bahwa tempat itu adalah tempat belajar yang penuh dengan harapan dan mimpi anak-anak.
Tiga hari kemudian, rekaman udara memperlihatkan setidaknya 100 kuburan yang ditandai atau baru digali dalam kondisi rapi, menunjukkan skala besarnya korban jiwa yang jatuh.
Para pejabat Iran langsung menyalahkan AS dan Israel atas serangan itu. Namun, tidak satu pun dari kedua negara tersebut yang merasa bertanggung jawab.
Israel menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya operasi di daerah tersebut pada waktu kejadian. Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, justru menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Meskipun demikian, sejumlah analisis forensik yang dilakukan oleh media internasional, termasuk The New York Times, CNN, dan Associated Press, mengindikasikan bahwa ledakan yang menghantam sekolah tersebut kemungkinan besar berasal dari serangan presisi militer AS. Analisis tersebut menyebutkan bahwa serangan itu terjadi hampir bersamaan dengan operasi militer yang menargetkan pangkalan angkatan laut IRGC di sekitar lokasi sekolah.
Selain itu, dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya juga mengatakan kepada Reuters bahwa penyelidik militer “meyakini kemungkinan besar” pasukan AS bertanggung jawab atas serangan itu. Namun, mereka juga menegaskan bahwa kesimpulan tersebut masih bersifat sementara dan belum menjadi keputusan final, serta tidak menutup kemungkinan adanya bukti baru yang dapat membebaskan AS dari tanggung jawab.
Pemadaman internet yang sedang berlangsung di Iran telah mempersulit verifikasi independen terhadap detail insiden tersebut. Pihak independen internasional, termasuk BBC News, belum dapat memverifikasi secara mandiri jumlah korban tewas yang dirilis oleh pemerintah Iran.
Kendala visa bagi organisasi berita internasional juga sering kali membatasi kemampuan jurnalis asing untuk mengumpulkan informasi langsung di lapangan.
Insiden ini telah menarik perhatian dunia internasional dan memicu reaksi dari berbagai pihak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan penyelidikan yang tidak memihak atas serangan tersebut. Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, mengutuk serangan itu sebagai “insiden yang benar-benar tragis” dan menekankan perlunya akuntabilitas.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, juga menyatakan bahwa tindakan tersebut berisiko “memicu serangkaian peristiwa yang tidak dapat dikendalikan siapa pun di wilayah paling bergejolak di dunia” dan menyebutnya sebagai “kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan”. (*)



