Banda Aceh (Waspada Aceh) – Dua perusahaan asal Jepang disebut berminat mengelola blok migas baru di wilayah bekas kerja Repsol di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Saat ini proses pengembangan blok tersebut masih berlangsung di tingkat kementerian.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Nasri Djalal dalam kegiatan Ramadhan Energy Meeting and Gathering bertajuk “Soliditas Stakeholder untuk Ketahanan Operasi Migas WK Aceh” yang digelar di kompleks kantor BPMA, Banda Aceh, Sabtu (7/3/2026).
“Kabar gembira, dua blok baru di atas wilayah Pidie Jaya yang sebelumnya merupakan bekas wilayah kerja Repsol telah diminati oleh dua perusahaan Jepang, yaitu Japex dan Jogmec. Saat ini prosesnya sedang berjalan di kementerian,” kata Nasri.
Menurut dia, jika pengembangan blok tersebut berjalan lancar, investasi itu berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.
Nasri menjelaskan, potensi migas Aceh masih sangat besar dan tersebar di berbagai wilayah, mulai dari kawasan utara dan timur hingga barat selatan.
“Alhamdulillah, Aceh dianugerahi potensi minyak dan gas yang luar biasa. Ini merupakan peluang besar bagi kita untuk mengembalikan kejayaan migas Aceh seperti pada era 90-an,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini BPMA mengelola enam kontraktor migas yang beroperasi di Aceh.
Menurut Nasri, pengelolaan sektor hulu migas tidak dapat dilakukan BPMA sendiri, melainkan membutuhkan dukungan kuat dari seluruh pemangku kepentingan.
“BPMA dalam menjalankan kegiatan tentu tidak dapat berjalan sendiri. Kami membutuhkan dukungan seluruh stakeholder untuk bersama-sama meningkatkan ketahanan energi sesuai dengan cita-cita Pemerintah Aceh,” ujarnya.
Karena itu, kegiatan Ramadhan Energy Meeting digelar sebagai wadah memperkuat komunikasi dan sinergi antara pemerintah daerah, BPMA, serta pelaku industri migas yang beroperasi di Aceh.
Acara tersebut dihadiri perwakilan pemerintah daerah, kontraktor kontrak kerja sama (K3S), serta sejumlah pemangku kepentingan sektor energi.
Perwakilan K3S dari Conrad Asia Energy, Radian, mengatakan momentum seperti ini penting untuk memperkuat kerja sama seluruh pihak dalam pengelolaan sektor energi di Aceh.
Menurutnya, keberhasilan industri migas sangat bergantung pada komunikasi terbuka serta kepercayaan antar pemangku kepentingan.
“K3S yang beroperasi di Aceh berkomitmen meningkatkan kinerja operasi, memperkuat eksplorasi dan pengembangan lapangan, serta mengelola investasi berkelanjutan di sektor hulu migas Aceh,” ujarnya.
Sementara itu, Pemerintah Aceh yang diwakili Kepala Dinas Pertanahan Aceh T. Aznal Zahri menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam mendukung kelancaran investasi dan kegiatan industri migas di Aceh.
Menurutnya, pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam memastikan berbagai aspek pendukung, termasuk tata kelola lahan dan regulasi daerah, dapat berjalan selaras dengan kebutuhan pengembangan sektor energi.
Di sela kegiatan, acara juga diisi dengan tausiah Ramadhan, penyerahan santunan kepada anak yatim, serta buka puasa bersama. (*)



