Teheran (Waspada Aceh) – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak secara drastis pada awal Maret 2026, memicu gelombang kejut yang dirasakan hingga ke pasar energi global. Pemicu utama adalah penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak dan gas paling vital di dunia.
Penutupan selat ini telah diumumkan oleh pejabat tinggi Iran, disusul ancaman keras terhadap kapal-kapal yang mencoba melewatinya. Iran juga telah melancarkan serangan drone terhadap Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Riyadh, Arab Saudi. Peristiwa ini langsung membuat harga minyak dunia melonjak tajam.
Peringatan keras tersebut disampaikan oleh Ebrahim Jabbari, penasihat Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), melalui siaran televisi pemerintah pada Senin waktu setempat, dan dikonfirmasi kembali pada Selasa (3/3/2026) melalui kantor berita semi-resmi Tasnim serta media internasional seperti Reuters dan Al Jazeera.
Jabbari dengan tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz dalam status tertutup dan tidak ada kapal yang diizinkan melewati wilayah tersebut. “Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kapal-kapal yang nekat masuk “pasti akan menghadapi respons serius dari kami.” Tidak hanya menutup jalur pelayaran, Jabbari juga mengancam akan menyerang jalur pipa minyak di wilayah tersebut dan mencegah ekspor minyak dari daerah itu.
“Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini,” katanya dengan tegas.
Jabbari juga menyoroti ketergantungan AS terhadap minyak di kawasan tersebut. Ia menyatakan bahwa “Amerika Serikat, dengan utang miliaran dolar, bergantung pada minyak di kawasan ini, tetapi mereka harus tahu bahwa bahkan setetes minyak pun tidak akan sampai kepada mereka.”
Selat Hormuz memang memiliki peran yang tak tergantikan dalam pasokan energi global. Sekitar seperlima minyak dan gas dunia melewati selat ini, menjadikannya titik transit yang sangat krusial bagi stabilitas pasar energi dunia. Penutupan jalur ini tentu saja memiliki dampak langsung yang besar, dan ancaman kenaikan harga minyak hingga US$200 per barel telah membuat pasar global gelisah.
Harga minyak yang sudah mulai meroket sejak pengumuman tersebut diperkirakan akan terus naik jika ketegangan tidak segera mereda.
Sementara itu, respon dari AS tidak kalah keras. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa “serangan terberat” terhadap Iran “masih akan datang.” Dalam pernyataannya, Rubio menambahkan bahwa dia tidak akan memberikan rincian upaya taktis mereka, menandakan bahwa langkah-langkah selanjutnya dari AS masih disiapkan dan akan dijalankan dengan strategi yang terencana.
Pernyataan ini juga didukung oleh Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya telah menyatakan bahwa dia mengambil keputusan untuk melancarkan perang terhadap Iran, karena itu adalah “kesempatan terakhir dan terbaik” untuk menghentikan rezim yang berkuasa di negara itu.
Berbicara di Gedung Putih untuk pertama kalinya sejak AS menyerang Iran, Trump mengumumkan bahwa AS terus melakukan “operasi tempur skala besar” di wilayah tersebut. (*)



