“Banjir tak hanya merenggut rumah, tetapi juga pakaian, kelambu, dan perlengkapan dasar milik nenek Jariyah”
Nenek Jariyah (70) duduk tenang depan tenda pengungsi di Desa Lueng Tuha, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.
Wajahnya menyimpan letih yang panjang, seolah merekam banjir besar yang merenggut hampir seluruh miliknya. Rumah yang puluhan tahun ia tempati hanyut, tak bersisa.
Sejak banjir itu, Jariyah tak lagi punya tempat pulang. Ia menumpang dari rumah ke rumah kerabat, berpindah dengan perasaan tak ingin merepotkan. Pilihan hidupnya kini sederhana: bisa bertahan.
“Semuanya habis. Rumah hanyut,” ucapnya lirih saat ditemui, Rabu (28/1/2026).
Di usia senja, Jariyah memilih jalan yang bagi sebagian orang mungkin terdengar asing, yakni bersuluk. Bukan semata soal ibadah, tetapi juga cara bertahan hidup.
Di tengah keterbatasan, suluk memberinya ruang tinggal sementara, meski dengan biaya yang tak ringan bagi seseorang yang kehilangan segalanya.
Untuk bisa tinggal di tempat suluk, ia harus membayar Rp300 ribu per bulan dan menyediakan kebutuhan pokok seperti beras. Bagi Jariyah, biaya itu terasa berat.
“Uang nggak ada,” katanya jujur.
Banjir tak hanya merenggut rumah, tetapi juga pakaian, kelambu, dan perlengkapan dasar milik nenek Jariyah. Semua lenyap terbawa arus. Jariyah sebenarnya bukan orang baru dalam suluk. Selama 12 tahun terakhir, ia kerap mengikutinya. Namun kali ini berbeda.
Bencana banjir memaksanya menjadikan suluk sebagai pilihan paling mungkin, dibandingkan hidup tanpa kepastian tempat tinggal.
Jariyah adalah ibu tunggal. Suaminya meninggal dunia 12 tahun lalu karena sakit. Ia memiliki lima anak, semuanya perempuan, dan telah berkeluarga. Mereka pun hidup dalam keterbatasan.
Tak ada anak laki-laki yang bisa menjadi sandaran utama dalam kondisi darurat.
Di tengah himpitan ekonomi, kesehatan Jariyah ikut tergerus. Debu dan kondisi lingkungan pascabanjir membuatnya kerap sesak dan batuk.
Ia mengaku tidak menerima bantuan khusus lansia, hanya sesekali bantuan sosial. Namanya tercatat sebagai penerima bantuan tenda darurat Kementerian Sosial (Kemensos). Namun tenda bukan jawaban bagi perempuan 70 tahun yang membutuhkan rumah layak dan aman.
Harapannya sederhana: sebuah rumah.
“Kalau ada rumah dari pemerintah, senang,” katanya, matanya menerawang.
Di Desa Lueng Tuha, Jariyah bukan satu-satunya korban. Banyak rumah rusak, banyak warga kehilangan tempat tinggal.
Jelang Ramadhan, Jariyah berharap setidaknya ia bisa menjalani suluk dengan tenang dan nyaman, berdamai dengan keadaan pascabanjir. Harapan itu sederhana, namun biayanya tak kecil bagi seseorang yang telah kehilangan segalanya.
Ketika air telah surut dan perhatian perlahan beranjak pergi, Jariyah masih menunggu di antara doa, suluk, dan harapan akan sebuah rumah yang bisa ia sebut pulang.
Untuk diketahui, banjir bandang dan tanah longsor berdampak pada 124.549 kepala keluarga atau 433.064 jiwa. Data posko tanggap darurat per 28 Januari 2026 pukul 12.32 WIB mencatat 246 orang meninggal dunia, 210 titik pengungsian, serta 9.242 KK atau 33.261 jiwa masih mengungsi. (*)



