Kawasan Sungai Singkil selama ini menjadi urat nadi mata pencaharian masyarakat nelayan di Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil. Sungai ini bermuara langsung ke perairan laut.
Sungai Singkil merupakan aliran dari sungai besar Lae Soraya, sungai terpanjang di Aceh, yang terhubung langsung dengan Sungai Lae Alas di Kabupaten Aceh Tenggara. Kawasan DAS (daerah aliran sungai), bahkan alur sungai itu sendiri, menjadi lumbung perekonomian masyarakat nelayan sejak ratusan tahun silam.
Sejak masa kejayaan Singkil, daerah ini merupakan pusat kerajaan yang cukup populer, bahkan sejak pemerintahan Hindia Belanda. Daerah ini dulunya juga dikenal sebagai pusat perdagangan terbesar di Sumatera. Sejak tahun 1861, kolonial Belanda tercatat dalam sejarah, telah datang Singkil Lama yang merupakan Kota Singkil pertama.
Hingga saat ini sebagian besar masyarakat di kawasan pesisir Kecamatan Singkil masih bertahan menggantungkan nafkahnya di Sungai Singkil atau Sungai Batang Ai (dalam bahasa daerah). Namun sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir, nelayan sungai mengaku kesulitan mencari nafkah di sepanjang alur Sungai Singkil hingga ke kawasan Singkil Lama yang bermuara ke laut melalui Muara Berok.
Sejak puluhan tahun silam, nelayan sungai khususnya, melakukan aktifitas perikanan tangkap air tawar, payau, serta bidang usaha mengumpulkan dan mengolah pucuk nipah untuk bahan baku rokok linting (klobot) termasuk pencari lokan (kerang khas Singkil).
Banyak lagi sumber kekayaan yang ada di sekitar Sungai Singkil yang merupakan kawasan daratan rawa dan lahan gambut. Diantaranya berbagai jenis ikan laut dan tawar, siput dan burung punai.
Kemudian hasil hutan non kayu, seperti pucuk nipah (klobot) sebagai bahan baku rokok linting yang juga sudah menerobos pasar ekspor hingga keluar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar dan India.
Sungai ini juga dikenal menjadi habitat dan populasi buaya muara. Meski hewan buas yang ganas ini sempat berkonflik dengan masyarakat, namun banyak wisatawan mancanegara yang sengaja menyewa perahu hanya untuk melihat kemunculan buaya di sungai tersebut.
Namun saat ini, karena hama gulma jenis eceng gondok serta tanaman hutan lainnya telah menutupi alur sungai, sehingga berdampak terhadap usaha masyarakat dan mengganggu perekonomian masyarakat di sana.
Banyaknya eceng gondok yang menutupi permukaan sungai. Kondisi itu menyebabkan nelayan kesulitan melintasi alur sungai dengan perahu menuju Singkil Lama saat mencari nafkah, kata Juli, salah seorang warga setempat.
Apalagi di saat masa pandemi COVID-19 ini, katanya, kondisi penyempitan alur sungai juga sangat dirasakan karena telah menghimpit ekonomi masyarakat di sana. Juli yang setiap hari mencari nafkah dengan memancing, mengaku saat ini kesulitan menjalankan perahunya menyusuri Sungai Singkil hingga ke Singkil Lama.
“Di sisi kanan dan kiri sungai terlihat tumbuhan hutan maupun eceng gondok yang menutupi alur sungai. Sehingga perahu kami sulit masuk dan harus melakukan pembersihan lintasan terlebih dahulu,” ucap Juli
Kondisi tersebut sangat berpotensi membahayakan penguna transportasi air yang hendak melintasi alur sungai, apalagi bila harus berpapasan. Keadaan ini semakin menyulitkan masyarakat untuk mencari nafkah demi bertahan hidup di masa pendemi COVID-19 sekarang ini.
Informasi yang dihimpun Waspada, sejauh ini sungai yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat itu belum pernah sekalipun tersentuh oleh kebijakan untuk perbaikan atau normalisasi melalui anggaran pemerintah.
Sangat disayangkan, sungai yang tidak saja menjadi akses transportasi nelayan, tapi juga sebagai mata pencarian sebagian besar masyarakat di Desa Kilangan, Siti Ambia, Suka Makmur, Ujung, Teluk Rumbia, Rantau Gedang, Takal Pasir dan Teluk Ambon serta beberapa desa lainnya, tidak mendapat perhatian pemerintah.
Masyarakat berharap agar pemerintah bisa melihat kesulitan para nelayan dan bisa melakukan pembersihan alur sungai, mulai dari kawasan daratan Singkil Desa Kilangan hingga ke Singkil Lama. Karena Sungai Singkil akan selalu menjadi harapan ekonomi masyarakat di daerah itu. (Arief.H)