BerandaAcehBI Ungkap Prospek Ekonomi Aceh 2026, Diproyeksi Tumbuh hingga 5,1%

BI Ungkap Prospek Ekonomi Aceh 2026, Diproyeksi Tumbuh hingga 5,1%

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Aceh memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Aceh mencapai 4,6-5,1 persen sepanjang 2026.

Pemulihan pascabencana hidrometeorologi dan percepatan rekonstruksi menjadi sejumlah faktor pendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyampaikan proyeksi tersebut dalam kegiatan Aceh Economic Forum (AEF) Kamis (22/10/2026) berlangsung di Balai Meuseuraya Aceh.

Agus mengatakan perekonomian Aceh mulai menunjukkan pemulihan setelah mengalami tekanan akibat bencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/kota pada November 2025.

Bencana tersebut berdampak terhadap aktivitas ekonomi Aceh. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Aceh mengalami kontraksi 1,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 tercatat 2,97 persen.

“Pemulihan ekonomi Aceh mulai terlihat pada 2026. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, serta kementerian dan lembaga turut mendukung perbaikan ekonomi daerah,” tuturnya.

Berdasarkan paparan BI, pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan II 2026 mencapai 4,86 persen secara tahunan. Sementara itu, pada triwulan III pertumbuhan tercatat 4,09 persen.

Investasi Swasta dan UMKM Jadi Penopang

Agus juga menyoroti ketahanan investasi swasta di tengah proses pemulihan pascabencana. Sektor pertanian, perdagangan, dan konstruksi menjadi sejumlah lapangan usaha penting dalam perekonomian Aceh.

Dari sisi pembiayaan, BI mencatat pertumbuhan sebesar 25,51 persen pada triwulan III 2026. Sementara itu, pertumbuhan kredit UMKM mencapai 11,05 persen secara tahunan.

Adapun rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat 4,06 persen, masih di bawah ambang batas 5 persen.

Meski demikian, Agus mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong aktivitas usaha agar pemulihan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Harga Pangan Masih Jadi Tantangan

Selain pemulihan ekonomi, pengendalian inflasi masih menjadi perhatian BI Aceh. Kenaikan harga cabai merah dan beras, serta penurunan produksi akibat bencana, turut memberikan tekanan terhadap harga pangan.

BI bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga.

Ke depan, tekanan inflasi diperkirakan berangsur terkendali seiring masuknya masa panen raya. Namun, perkembangan harga pangan dan kelancaran pasokan tetap perlu dipantau.

Di sisi lain, ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah, berpotensi memengaruhi harga komoditas dan rantai pasok.

BI Aceh berharap percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, investasi swasta, serta pelaksanaan program prioritas pemerintah dapat menopang pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2026. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER