Banda Aceh (Waspada Aceh) – Partisipasi dan kepemimpinan orang muda menjadi salah satu persoalan yang paling banyak disoroti dalam pemetaan kebutuhan pemuda di Aceh.
Isu tersebut mencapai 38 persen dari hasil pemetaan yang melibatkan sekitar 200 orang muda dari berbagai komunitas dan pegiat UMKM.
Temuan itu kemudian ditindaklanjuti melalui GerakDampak Academy 2026 yang mendorong orang muda tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi mampu menerjemahkannya menjadi aksi di komunitas.
Sebanyak 25 orang muda terpilih mengikuti Intensive Course GerakDampak Academy 2026 selama dua hari, 19–20 September 2026, di Warnawana Creative Space, Banda Aceh.
Founder YouthID Foundation, Bayu Satria, mengatakan persoalan partisipasi pemuda membutuhkan lebih dari sekadar ruang untuk menyampaikan pendapat. Orang muda juga perlu memiliki kemampuan memahami persoalan, mendengarkan pengalaman berbeda dan membangun kolaborasi.
“Orang muda tidak cukup hanya diberikan ruang untuk berbicara. Mereka perlu dibekali kemampuan untuk memahami persoalan, mendengarkan pengalaman yang berbeda, membangun kolaborasi, lalu menerjemahkan gagasan menjadi aksi yang nyata,” katanya, Sabtu (19/6/2026).
GerakDampak Academy 2026 merupakan rangkaian program YouthID Foundation bersama Indika Foundation melalui Program Impact Collaboration 2026.
Sebelumnya, YouthID Foundation bersama Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh menggelar Rembuk Pemuda Aceh pada Mei dan Juni 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 200 orang muda untuk memetakan persoalan dan kebutuhan yang dihadapi orang muda di Aceh.
Dari proses tersebut, isu partisipasi dan kepemimpinan menjadi salah satu persoalan yang paling menonjol. Hasil pemetaan juga menunjukkan masih dibutuhkan ruang yang lebih inklusif dan kolaboratif bagi orang muda untuk terlibat dalam proses pembangunan.
Proses dilanjutkan melalui Mini Bootcamp yang menjadi ruang pembelajaran sekaligus seleksi. Sebanyak 25 orang kemudian terpilih mengikuti Intensive Course.
Selama dua hari, peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan diri, regulasi emosi, keterbukaan pikiran, keberagaman, compassion, GEDSI, partisipasi bermakna orang muda, integritas hingga perancangan aksi.
Pembelajaran mengintegrasikan Kurikulum HARMONI dari Indika Foundation, pendekatan GEDSI, media partisipatif LINKaran Kita dan kerangka Inovasi Sosial Canvas.
Kabid Pemberdayaan Pemuda Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh, Syarifah Irma Henni, mengatakan pengembangan kapasitas perlu diarahkan agar pemuda memiliki ruang untuk mengambil peran dalam menjawab persoalan di lingkungannya.
“Pemberdayaan pemuda harus memberi ruang bagi anak muda untuk belajar, menyampaikan gagasan, berkolaborasi, dan menghasilkan aksi,” ujarnya.
Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk perempuan, orang muda dengan disabilitas dan peserta lintas iman. Salah seorang peserta Tuli, Lia, mengatakan ruang belajar yang inklusif membuat dirinya dapat terlibat aktif sekaligus berbagi pengalaman dengan peserta lainnya.
“Bagi saya, pelibatan sebagai Tuli bukan hanya tentang bisa hadir dalam kegiatan, tetapi juga tentang bagaimana saya dapat berpartisipasi, menyampaikan pengalaman, dan didengar,” katanya.
Dalam proses pembelajaran, peserta dibagi menjadi lima kelompok dan mendapatkan pendampingan co-fasilitator. Masing-masing kelompok diarahkan menyusun rencana aksi berdasarkan persoalan yang mereka temukan di masyarakat.
Program tersebut menargetkan lahirnya lima kelompok aksi serta lima draf Action Plan dan Inovasi Sosial Canvas. Rencana tersebut selanjutnya akan menjadi dasar pelaksanaan Community Action.
Rangkaian GerakDampak Academy 2026 tidak berhenti pada Intensive Course, tetapi berlanjut ke tahap Community Action hingga Reflection & Showcase. (*)



