Nagan Raya (Waspada Aceh) – Perempuan Beutong Bersatu (PBB) menagih komitmen Komandan Korem (Danrem) 012/Teuku Umar untuk menindaklanjuti petisi penolakan tambang yang disampaikan masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, dalam aksi pada 30 Agustus 2026.
Ketua PBB, Saudah, yang akrab disapa Makwod, mengatakan hingga kini masyarakat belum memperoleh informasi mengenai tindak lanjut petisi tersebut.
Ia mengatakan masyarakat mempertanyakan realisasi petisi penolakan tambang yang telah disepakati dan dititipkan kepada institusi TNI melalui Danrem 012/Teuku Umar.
“Petisi tolak tambang belum ada informasi dari berbagai pihak, termasuk bupati,” kata Makwod, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, petisi tersebut merupakan bentuk sikap masyarakat Beutong Ateuh Banggalang yang menolak aktivitas pertambangan di wilayah mereka.
Makwod mengatakan aspirasi penolakan tambang sebelumnya juga telah disampaikan masyarakat melalui pemasangan bendera di Beutong Ateuh. Saat itu, masyarakat meminta tanda tangan geuchik sebagai bagian dari sikap penolakan terhadap aktivitas pertambangan.
“Waktu naik bendera di Beutong Ateuh, kami sudah minta tanda tangan Pak keuchik. Tidak ada tambang di Beutong,” ujarnya.
Ia menilai petisi yang telah disampaikan kepada Danrem perlu mendapat tindak lanjut dan kejelasan dari pihak terkait.
Karena itu, PBB meminta Danrem memperhatikan aspirasi masyarakat serta memberikan informasi mengenai tindak lanjut petisi yang diserahkan dalam aksi 30 Agustus tersebut.
“Kami mempertanyakan petisi yang diberikan kepada Danrem. Tolong diindahkan dan ditindaklanjuti petisi yang telah kami sampaikan,” katanya.
Makwod menegaskan masyarakat Beutong Ateuh Banggalang masih menunggu kejelasan dari pihak terkait terkait aspirasi penolakan tambang yang telah mereka sampaikan.
Jaga Ruang Hidup
Sebelumnya, ratusan masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, kembali menggelar aksi penolakan terhadap aktivitas pertambangan, Minggu (30/8/2026).
Massa berjalan kaki dari Jembatan Beutong menuju Kantor Camat Beutong Ateuh sambil melantunkan zikir.
Aksi tersebut dilakukan masyarakat sebagai bentuk penolakan terhadap rencana aktivitas pertambangan yang dinilai dapat mengancam ruang hidup dan sumber penghidupan yang selama ini mereka jaga secara turun-temurun.
Masyarakat juga menyatakan siap berada di garis depan untuk menolak aktivitas pertambangan yang dinilai berpotensi mengancam lingkungan dan keselamatan warga.
Bagi masyarakat setempat, persoalan tambang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut ruang hidup dan sumber penghidupan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara turun-temurun. (*)



