Kathmandu (Waspada Aceh) – Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan longsor yang melanda Nepal serta wilayah Tibet, Tiongkok, terus bertambah. Hingga Kamis (27/8/2026), kepolisian Nepal mencatat sedikitnya 162 orang telah meninggal dunia, sementara 558 orang lainnya masih dinyatakan hilang di wilayah Tibet.
Melansir BBC, dari total korban tewas di Nepal, sebanyak 64 orang ditemukan di wilayah hilir Distrik Chitwan, dan 26 orang lainnya ditemukan di Nawalparasi East. Sebanyak 28 anggota kepolisian juga termasuk dalam ratusan orang yang masih belum ditemukan. Chitwan, salah satu tujuan wisata utama Nepal yang dikenal dengan atraksi safari hutannya, kini berada dalam status siaga tinggi seiring terus meningkatnya ketinggian air banjir.
Sementara itu, di wilayah Gyirong County, Tibet, jumlah orang yang masih hilang mencapai 558 orang, berdasarkan laporan lembaga penyiaran negara Tiongkok, CCTV.
Kehancuran yang meluas ini bermula dari peristiwa geofisika masif di Pegunungan Himalaya yang menyebabkan tanah longsor besar, meluruhkan gletser dan melepaskan aliran air masif ke lembah di bawahnya. Peristiwa itu begitu dahsyat hingga terekam sebagai gempa berkekuatan magnitudo 5,2 oleh seismograf di seluruh dunia.
Pakar geofisika dari Earth Observatory, Universitas Columbia, Goran Ekstrom, menjelaskan kepada ABC News bahwa bebatuan besar meluncur turun dari pegunungan dengan energi luar biasa, memicu kenaikan suhu yang kemudian mencairkan gletser. Hal inilah yang menghasilkan volume air masif yang mengalir sangat deras ke kaki gunung.
“Peristiwa geofisika berskala masif” ini, menurut Ekstrom, menghasilkan banjir dengan ketinggian air yang diperkirakan mencapai 39 hingga 48 meter, bergerak dengan kecepatan hingga 70 kilometer per jam. Campuran es, material reruntuhan, dan air meluncur dengan kecepatan luar biasa ke lembah, memperparah dampak kehancuran.
Meskipun peristiwa serupa pernah terjadi di Himalaya sebelumnya, Ekstrom menegaskan skala kali ini jauh lebih besar. Ia juga menyoroti peran perubahan iklim yang mempercepat pencairan es dan gletser di seluruh dunia. Meski peristiwa semacam ini bisa terjadi tanpa pengaruh iklim, Ekstrom menilai perubahan iklim kemungkinan besar memperparah dampak bencana tersebut.
Hingga kini, pihak berwenang terus berupaya mengevakuasi korban dan menelusuri orang-orang yang masih hilang, di tengah kekhawatiran kerusakan infrastruktur dan keterbatasan akses di wilayah pegunungan yang terdampak. (*)



