Pidie Jaya (Waspada Aceh) – Sebanyak 4.000 bibit pohon ditargetkan ditanam di enam desa di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dalam gerakan “Bersama Kolaborasi untuk Selamatkan Bumoë Aceh”, Sabtu-Minggu (15–16/8/2026).
Gerakan tersebut melibatkan komunitas, organisasi relawan, serta masyarakat untuk mendukung pemulihan wilayah yang terdampak bencana hidrometeorologi. Penanaman difokuskan pada pemulihan ekosistem, penguatan kawasan bantaran sungai, serta penyediaan tanaman produktif bagi masyarakat.
Pada tahap awal, sebanyak 2.600 bibit dibawa untuk kegiatan penanaman. Jumlah tersebut kemudian ditambah 1.400 bibit sehingga total bibit yang ditargetkan mencapai 4.000.
Sejumlah komunitas dan organisasi yang terlibat antara lain Natural Aceh, Daratan Samudera, Yayasan Darah untuk Aceh, DCAB ID Chapter Aceh, LandCab Aceh, SAR Pidie, PMI Pidie Jaya, KNPI Pidie Jaya, PMII Pidie Jaya, Aceh Green, Pramuka Pidie Jaya, FAJI Pidie Jaya, serta relawan dan masyarakat setempat.
Selain itu, dukungan bibit juga datang dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS). Sebanyak 2.400 bibit disediakan untuk mendukung kegiatan penanaman di enam desa terdampak bencana.
Sebanyak 122 relawan terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari 40 relawan dari Banda Aceh yang berasal dari DCAB, Daratan Samudera, dan Natural Aceh serta 82 relawan dari Pidie Jaya.
Keenam desa yang menjadi lokasi pendampingan dan penanaman yakni Meunasah Mancang, Pante Beurene, Dayah Usen, Blang Cut, Meunasah Lhok, dan Meunasah Raya.
Field Officer Natural Aceh, Wahdini, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap proses pemulihan wilayah terdampak bencana.
“Kami berharap kegiatan penanaman ini dapat membantu proses pemulihan dan restorasi lahan di daerah yang terdampak bencana, sekaligus mendukung pemulihan ekosistem dan lingkungan masyarakat secara berkelanjutan,” kata Wahdini.
Perkuat bantaran sungai
Ketua DCAB ID Chapter Aceh, Rahmat, mengatakan penghijauan kembali kawasan terdampak banjir penting dilakukan untuk memperbaiki kondisi ekosistem dan memperkuat kawasan tangkapan air.
“Dengan adanya penanaman atau penghijauan kembali daerah yang terkena banjir, kita bisa memperbaiki ekosistem di daerah terdampak dan memperkuat kembali tangkapan air, terutama di daerah bantaran sungai,” ujar Rahmat.
Menurut dia, kegiatan tersebut juga diharapkan membantu masyarakat memulihkan lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka yang kehilangan tumbuhan produktif akibat bencana.
“ Kegiatan ini juga membantu masyarakat memulihkan kondisi wilayah terdampak banjir yang kehilangan tumbuhan produktif di kebun maupun halaman rumah,” katanya.
Sementara itu, Direktur Daratan Samudera, Shinta Devi, mengatakan penanaman tidak hanya diarahkan untuk pemulihan lingkungan, tetapi juga untuk mendukung perekonomian masyarakat.
Menurut Shinta, vegetasi penguat tanggul dan tanaman produktif yang ditanam di kawasan bantaran sungai diharapkan dapat membantu mitigasi dampak bencana sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
“Melalui aksi penanaman vegetasi penguat tanggul dan distribusi tanaman produktif di bantaran sungai pascabencana hidrometeorologi, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pemulihan ekosistem dan mitigasi abrasi, tetapi juga membangkitkan kemandirian ekonomi masyarakat Aceh secara berkelanjutan,” kata Shinta.
Ia mengatakan bibit produktif tersebut didistribusikan ke enam desa di Kabupaten Pidie Jaya.
Kolaborasi lintas komunitas tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman. Para relawan dan masyarakat juga didorong untuk menjaga tanaman yang telah ditanam agar dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memulihkan kawasan terdampak bencana sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan, memperkuat ketahanan ekosistem, dan membangun sumber penghidupan yang berkelanjutan. (*)



