Bagi Rini, masa pemulihan tidak berakhir saat lantai rumah telah bersih dari sisa lumpur. Itu hanyalah permulaan.
Di tepi jalan yang ramai menuju Gampong Masjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, berdiri sebuah bangunan kecil yang sederhana namun menyimpan makna begitu dalam.
Di balik meja kasir yang sederhana itu, Takdirini, yang akrab disapa Rini, tampak merapikan jajanan yang menggantung di etalase, sementara deretan mi instan, minyak goreng, sabun, telur, hingga air mineral tersusun rapi di atas rak-rak kayu buatan sendiri. Sesekali ia menoleh, menyapa pembeli dengan senyum yang tulus, meski mata itu menyimpan kisah perjuangan yang hanya sedikit orang sanggup melaluinya.
Namanya Cinderella, demikian nama yang ia berikan pada warung kelontong barunya. Bagi perempuan berusia 49 tahun ini, nama itu bukan sekadar panggilan. Ia adalah lambang harapan; keyakinan bahwa dari keterbatasan dan masa sulit, kisah indah kelak akan terukir kembali.
Warung yang baru dibukanya dua pekan silam itu bukan sekadar tempat berdagang, melainkan bukti nyata bahwa semangat hidup tak pernah pudar meskipun takdir berkali-kali mengetuk dengan keras.
Banjir yang melanda wilayah itu bukan sekadar genangan air yang surut dalam waktu beberapa hari. Air bah yang merendam rumah hingga ketinggian dua meter itu turut menghanyutkan segala sesuatu yang telah dibangun dengan keringat dan waktu bertahun-tahun.
Sebelum musibah itu datang, hari-hari Rini berputar di sekitar kantin SDIT An-Nur, tempat ia sekaligus mengelola pesanan makanan dan menjajakan barang kebutuhan warga sekolah. Itulah sumber penghidupan yang menjadi penyangga kehidupan keluarga.
Namun, arus deras yang turut membawa longsoran tanah mengubah segalanya. Bangunan sekolah retak – rusak, lapangan berubah menjadi seperti aliran sungai yang liar, dan aktivitas belajar mengajar terhenti seketika. Kantin yang menjadi tumpuan pun lenyap tak berbekas.
“Sekarang pencarian mati total,” ujar Rini pelan, seolah menahan beban yang terasa berat di pundaknya.

Sejak berpisah dari suaminya, Rini sendirian menggendong tanggung jawab sebagai ayah sekaligus ibu bagi keempat anaknya. Dua di antaranya telah membangun rumah tangga sendiri, namun dua lainnya masih bersekolah dan menggantungkan harapan sepenuhnya pada dirinya.

Kondisi fisik yang ia milik, kedua kaki yang tumbuh lebih kecil dari ukuran biasa dan membuatnya berjalan dengan cara yang berbeda, tidak pernah dijadikan alasan untuk menyerah. Sejak lahir, ia telah terbiasa melangkah dengan caranya sendiri, mandiri dan tangguh.
Dengan sisa keberanian yang ada, berbekal pinjaman kecil serta bantuan dari anak-anaknya, Rini mengubah teras rumahnya menjadi tempat berteduh bagi harapan. Barang-barang dagangan ia beli sedikit demi sedikit dari pasar, lalu hasil penjualannya langsung diputar kembali untuk menambah stok.
Belum ada keuntungan yang bisa disisihkan untuk kebutuhan pribadi, namun baginya, itu adalah langkah awal yang paling berharga.
“Kalau ada uang, langsung saya belikan barang lagi. Jadi belum bisa disisihkan,” tuturnya dengan senyum tipis.
Bagi Rini, masa pemulihan tidak berakhir saat lantai rumah telah bersih dari sisa lumpur. Itu hanyalah permulaan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menata kembali mata pencaharian agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi.
Ia sudah menerima bantuan sembako dan dukungan ekonomi pascabencana, namun kini ia membutuhkan lebih dari sekadar bantuan sesaat. Ia mendambakan tambahan modal agar barang yang dijual lebih lengkap, serta bimbingan sederhana tentang cara mencatat pemasukan, pengeluaran, dan menghitung keuntungan.
“Saya ingin tahu cara mengatur keuangan yang benar, supaya usaha ini bisa tumbuh dan terus bertahan,” ucapnya penuh harap.
Di balik dinding warung kecil bernama Cinderella itu, Rini sedang merajut kembali harapan rizki untuk kehidupannya yang sempat putus. Ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang, dan bencana bukanlah akhir dari segalanya.
Dengan tekad yang tak tergoyahkan, ia berjalan perlahan namun pasti, menuju masa depan yang lebih cerah bagi dirinya dan anak-anak yang ia cintai. (*)



