Banda Aceh (Waspada Aceh) – Ribuan manuskrip Nusantara yang masih tersimpan di rumah warga, tempat ibadah, hingga lokasi terpencil dinilai menghadapi ancaman kerusakan.
Kondisi itu mendorong pakar manuskrip dari Indonesia dan Malaysia menyerukan percepatan digitalisasi untuk menyelamatkan warisan intelektual tersebut sekaligus membuka akses riset bagi masyarakat dunia.
Desakan itu mengemuka dalam Seminar Seri Jilid 2 Webinar Kajian Studi Islam yang diselenggarakan Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (14/7/2026).
Seminar bertajuk Digitalizing Nusantara Manuscripts for Intellectual Sustainability, Cultural Resilience, and Global Knowledge Exchange menghadirkan Dr. Farid Mat Zain dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) secara daring dan Abdullah Maulani, dari DREAMSEA-PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof. Eka Srimulyani mengatakan manuskrip Nusantara bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga menyimpan tradisi keilmuan dan identitas budaya yang harus dijaga.
“Warisan intelektual ini perlu dilestarikan melalui pemanfaatan teknologi digital agar tetap relevan, memperkuat ketahanan budaya, sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan secara global,” ujarnya saat membuka seminar.
Menurut Eka, kolaborasi antarperguruan tinggi dan lintas negara menjadi faktor penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi, katanya, tidak lagi dapat berkembang sendiri tanpa jejaring akademik yang kuat.
Dalam pemaparannya, Abdullah Maulani mengungkapkan masih banyak manuskrip Nusantara berada di tangan masyarakat dan komunitas lokal.
Sebagian disimpan di ruang yang lembap, tempat sakral, maupun lokasi yang sulit dijangkau sehingga rentan mengalami kerusakan.
Ia menjelaskan, melalui program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA), manuskrip milik perseorangan dan komunitas didigitalisasi untuk menyelamatkan kandungan informasi di dalamnya sebelum rusak atau hilang.
“Hasil digitalisasi tersedia secara open access sehingga dapat dimanfaatkan oleh peneliti maupun masyarakat luas,” katanya.
Abdullah menambahkan, tantangan pelestarian manuskrip tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik naskah, tetapi juga akses menuju lokasi penyimpanan, keterbatasan listrik saat proses digitalisasi, hingga keberlanjutan konservasi.
Karena itu, DREAMSEA menggandeng berbagai lembaga, termasuk Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, untuk menyediakan penyimpanan yang lebih aman. Pemilik manuskrip juga memperoleh salinan digital dan sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas upaya pelestarian.
Menurut Abdullah, digitalisasi juga membuka peluang pemanfaatan manuskrip sebagai sumber inovasi budaya. Sejumlah naskah kuno, kata dia, telah diadaptasi menjadi motif batik, komik digital, hingga materi edukasi agar lebih mudah dikenalkan kepada generasi muda.
Sementara itu, Dr. Farid Mat Zain menilai manuskrip Melayu merupakan sumber penting untuk memahami sejarah peradaban, perkembangan Islam, bahasa, sastra, hukum, dan pemikiran masyarakat Melayu di Asia Tenggara.
Ia mengatakan digitalisasi harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya sebatas memindai naskah. Identifikasi, katalogisasi, transliterasi, penelitian, hingga publikasi ilmiah juga perlu dilakukan agar manuskrip memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Farid juga mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, perpustakaan, lembaga arsip, peneliti, dan komunitas pemilik manuskrip di Indonesia, Malaysia, serta negara-negara Asia Tenggara.
Menurutnya, sinergi lintas negara menjadi kunci untuk memastikan warisan intelektual Nusantara tetap lestari dan dapat diakses oleh masyarakat akademik dunia. (*)



