BerandaBeritaGelombang Panas Terparah di Eropa Mulai Mereda, Namun 95 Juta Orang Masih...

Gelombang Panas Terparah di Eropa Mulai Mereda, Namun 95 Juta Orang Masih Hadapi Suhu Ekstrem

Jakarta (Waspada Aceh) – Gelombang panas terparah yang pernah melanda Eropa dilaporkan mulai berangsur mereda, namun dampaknya masih terasa nyata bagi jutaan penduduk.

Berdasarkan perhitungan kantor berita AFP, setidaknya 95 juta orang di benua tersebut masih harus menghadapi suhu udara ekstrem yang mencapai 35°C pada Selasa (30/6/2026). Angka ini memang lebih rendah dibandingkan hari Senin (29/6/2026), ketika lebih dari 130 juta orang terpapar suhu serupa, namun tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Suhu tinggi yang datang lebih awal di awal musim panas ini menjadi pukulan berat bagi negara-negara Eropa yang umumnya tidak terbiasa dengan cuaca ekstrem. Dampak buruknya telah meluas, mulai dari lonjakan angka kematian, penutupan sekolah, hingga pembatalan berbagai aktivitas luar ruangan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui pernyataan Kepalanya, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Minggu (28/6/2026) secara resmi mengonfirmasi bahwa gelombang panas yang melanda hampir seluruh wilayah Eropa sejak 21 Juni 2026 telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian yang berkaitan langsung dengan suhu udara yang memecahkan rekor sejarah.

Data dari France24 dan BBC menunjukkan lonjakan suhu yang drastis di berbagai negara. Di Jerman, suhu mencapai 41,7°C di Leipzig, memecahkan rekor tertinggi sebelumnya. Panas yang luar biasa itu bahkan membuat bahan perekat jalan berupa bitumen meleleh, merusak permukaan jalan dan rel trem, sehingga layanan transportasi umum terpaksa dihentikan demi keselamatan. Rekor serupa tercatat di Doksany, Republik Ceko (41,9°C), serta di Slubice, Polandia (40,5°C), sebagai suhu tertinggi yang pernah terukur di negara tersebut.

Saat ini, pusat tekanan panas dikabarkan telah bergeser ke arah timur setelah sebelumnya mencekik kawasan Eropa Barat. Akibat pergeseran ini, dua dari lima orang di Eropa (tidak termasuk Turkiye) diprediksi masih merasakan suhu di atas 30°C pada Selasa, dengan populasi terdampak mayoritas berada di bagian timur dan selatan benua. Di Hongaria, hampir seluruh penduduknya diperkirakan akan merasakan suhu menyengat hingga 35°C.

Kelompok ilmuwan dari World Weather Attribution (WWA) menegaskan bahwa fenomena ini hampir mustahil terjadi tanpa adanya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global. Studi mereka juga menyimpulkan bahwa fenomena El Nino yang sedang berlangsung tidak berperan dalam kejadian ekstrem ini; pemicu utamanya adalah pemanasan global.

“Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada Juni tanpa adanya perubahan iklim,” ungkap Theodore Keeping dari Imperial College London sebagaimana dikutip New Scientist.

Para pakar pun memperingatkan bahwa gelombang panas tahun ini dikhawatirkan dapat memakan korban jiwa jauh lebih banyak lagi di masa mendatang. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER