BerandaInternasionalGol Kemenangan Iran Dianulir VAR, Apakah Sesuai Aturan?

Gol Kemenangan Iran Dianulir VAR, Apakah Sesuai Aturan?

Banda Aceh (Waspadaaceh) – Matchday penentu grup G Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Mesir vs Iran pada Sabtu (27/6/2026) berakhir dengan tensi tinggi dan drama yang menguras emosi. Pada saat Belgia sukses melaju ke babak 32 besar karena sukses membantai Selandia Baru, laga Mesir melawan Iran justru menyajikan klimaks yang gila hingga detik terakhir pertandingan.

Pertandingan Mesir melawan Iran memang sudah penuh drama sejak menit pertama dimulai. Mesir langsung tancap gas begitu peluit sepak mula dibunyikan. Hasilnya, baru lima menit laga berjalan, The Pharaohs sukses memecah kebuntuan. Berawal dari umpan silang Mohamed Salah yang sempat dihalau pertahanan Iran, bola liar langsung disambar oleh Mahmoud Saber dengan sepakan keras ke pojok kiri bawah gawang. Skor berubah 1-0.

Namun, drama sesungguhnya baru dimulai pada menit ke-10. Bek Mesir, Mohamed Abdelmonem, melakukan pelanggaran keras di kotak penalti yang berujung hadiah penalti untuk Iran. Beruntung bagi Mesir, kiper Oufa Shobeir tampil heroik dengan sukses membaca dan menepis eksekusi penalti Mehdi Taremi.

Petaka penalti tersebut berbuntut panjang. Abdelmonem mengalami cedera serius akibat pelanggaran yang dilakukannya dan terpaksa digantikan oleh Yasser Ibrahim pada menit ke-14.

Kehilangan konsentrasi akibat pergantian pemain darurat ini langsung dihukum tunai oleh Iran. Hanya beberapa saat setelah laga dilanjutkan, Ramin Rezaeian melepaskan tembakan spekulatif dari sudut yang sangat sempit dan hampir mustahil, namun bola berhasil bersarang ke gawang Mesir. Skor imbang 1-1.

Memasuki babak kedua dengan skor sama kuat 1-1, pelatih Mesir Hossam Hassan langsung melakukan penyegaan dengan memasukkan Omar Marmoush dan Marwan Attia. The Pharaohs sempat menggebrak di menit ke-50 lewat aksi Trezeguet, namun kiper Iran Alireza Beiranvand tampil gemilang menggagalkan peluang emas tersebut.

Stadion kemudian berguncang pada menit ke-57 ketika megabintang Mesir, Mohamed Salah, terjatuh di lapangan akibat cedera serius. Salah terpaksa ditarik keluar dan digantikan oleh Zizo, sebuah kehilangan besar yang sempat membuat alur serangan Mesir limbung.

Iran yang mendominasi penguasaan bola menjelang akhir laga terus mengurung pertahanan Mesir hingga drama sesungguhnya pecah pada masa injury time. Pada menit ke-90+4, seluruh stadion terdiam ketika Shoja Khalilzadeh berhasil mencetak gol pembalik keadaan memanfaatkan bola muntah di depan garis gawang.

Skuad Iran berlari merayakan gol keramat tersebut yang tampak akan mengunci kemenangan mereka menjadi 2-1. Namun, wasit Szymon Marciniak menghentikan laga untuk berkomunikasi dengan ruang VAR pada menit ke-90+5. Setelah peninjauan yang menegangkan, wasit menganulir gol tersebut karena terjadi offside dalam proses membangun serangan, yang memicu protes keras hingga Khalilzadeh diganjar kartu kuning.

Keputusan krusial pada menit ke-90+6 tersebut sempat membingungkan penonton,  pasalnya masih ada satu pemain Mesir yang posisinya di atas Shoja Khalilzadeh yaitu bek Hamza Abdelkarim. Kok bisa Shoja Khalilzadeh dinyatakan berdiri pada posisi offside?

Jika merujuk pada aturan resmi sepak bola, keputusan VAR justru 100% akurat. Berdasarkan Law 11 tentang Offside dari Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), seorang pemain dinyatakan berada di posisi aktif jika posisinya lebih dekat ke garis gawang lawan daripada bola dan pemain lawan kedua terakhir (second-last opponent).

Dalam kondisi normal atau tidak offside, dua pemain lawan paling belakang ini adalah kiper dan satu orang bek. Nah, dalam kondisi pertandingan Mesir melawan Iran, situasinya seperti ini.

Saat situasi kemelut di pertahanan Mesir terjadi, kiper Oufa Shobeir sudah terlanjur maju ke depan meninggalkan sarangnya demi menghalau bola. Ketika kiper berada di depan, maka posisinya otomatis dihitung sebagai pemain lawan pertama. Alhasil, garis batas offside seketika berpindah dan patokannya mutlak dihitung dari posisi bek kedua terakhir Mesir yang saat itu adalah Hamza Abdelkarim.

Karena saat umpan dikirimkan penyerang Iran hanya menyisakan satu orang bek di depannya, bukan dua pemain seperti syarat regulasi. Jadi Shoja Khalilzadeh sudah ada di posisi offside meski ada bek mesir di atasnya.

Jadi posisi Shoja Khalilzadeh  tidak sah dan gol harus dianulir. Penonton yang ada di lokasi memang tidak menyadari aturan tersebut sehingga banyak yang tidak puas atas keputusan Szymon Marciniak.  Apalagi keputusan tersebut membuat mimpi Iran langsung masuk babak 32 besar Piala Dunia 2026 musnah. Mereka kini harus menunggu tiga pertandingan lain untuk mengetahui apakah lolos atau justru pulang ke negaranya. (*)

Sumber : Beritasatu.com

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER