BerandaAcehAngin Kencang Porak-porandakan Puluhan Huntara di Langkahan 

Angin Kencang Porak-porandakan Puluhan Huntara di Langkahan 

Aceh Utara (Waspada Aceh) – Sebanyak 35 unit hunian sementara (huntara) yang menjadi tempat tinggal para korban banjir di Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara,i porak-poranda dihantam badai pada Selasa (2/6/2026) sore.

Meskipun tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, hantaman badai sore itu menyisakan trauma mendalam bagi penghuninya. Mereka kembali kehilangan tempat tinggal untuk kedua kalinya dalam setahun, setelah sebelumnya rumah tempat tinggalnya hancur diterjang banjir bandang.

Hal ini menjadi kenyataan pahit yang harus mereka telan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Bayang-bayang kehilangan tempat tinggal pada November 2025 lalu masih melekat.

Camat Langkahan, T. Reza Ichwan, menjelaskan peristiwa itu terjadi pada saat hujan deras yang disertai angin kencang menyapu wilayah tersebut. Akibat kejadian itu sebanyak 35 unit huntara dan satu mushalla mengalami kerusakan parah hingga ringan.

“Dar 35 unit bangunan yang terdampak kerusakan tersebar di beberapa titik gampong (desa) dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda, yang terbanyak Gampong Rumoh Rayeuk (dampak terparah). Dari total 23 unit huntara yang terdampak, 5 unit di antaranya rusak berat hingga rata dengan tanah. Sementara 18 unit lainnya mengalami rusak sedang dan ringan,” jelas T Reza, Selasa Malam (2/6/2026).

Sedangkan di Gampong Buket Linteung (Dusun Leubok Meuku), ada 7 unit huntara dilaporkan rusak berat. Fasilitas ibadah berupa satu unit mushalla di kawasan ini juga mengalami kerusakan cukup parah.

“Di Gampong Langkahan, tercatat sebanyak 5 unit huntara mengalami rusak ringan akibat hempasan angin. Sedangkan di Gampong Geudumbak saat ini petugas masih melakukan pendataan lanjutan guna memastikan kondisi bangunan secara riil serta mendata apa saja kebutuhan mendesak warga yang terdampak,” sebut Reza.

Meskipun dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa maupun luka-luka, namun dampak psikologis dan terganggunya aktivitas sehari-hari menjadi perhatian utama pihak pemerintah setempat saat ini.

“Kami khawatir kerusakan ini akan sangat mengganggu aktivitas harian warga. Bagaimana pun, mereka adalah korban banjir bandang November tahun lalu yang baru saja mencoba bangkit dan menata hidup kembali,” pungkasnya. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER