Kutacane (Waspada Aceh) – Bencana alam banjir bandang kembali melanda wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, tepatnya di Desa Lawe Tua Persatuan, Kecamatan Lawe Sigala Gala, pada Sabtu (9/5/2026), sekitar pukul 10.30 WIB.
Musibah ini berawal dari curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam, mulai sore hari hingga menjelang malam. Kondisi itu memicu kenaikan debit air sungai secara drastis dan membawa serta material alam berupa kayu, lumpur dan batu dalam jumlah besar.
Menurut penjelasan Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, Dodi Sukmariga Tajmal, terjangan banjir turut membawa bebatuan besar dan kayu gelondongan yang hanyut dari kawasan hulu.
Akumulasi material ini kemudian menyumbat aliran air pada jembatan penghubung, menyebabkan air sungai meluap dan merendam pemukiman warga, sekaligus menutup total ruas Jalan Nasional Kutacane–Medan yang menjadi urat nadi transportasi lintas wilayah.
“Curah hujan yang terus menerus turun sejak sore hingga pukul 10.30 malam mengakibatkan Desa Lawe Tua Persatuan tergenang air bah. Material yang terbawa arus sangat banyak dan berat, sehingga konstruksi jembatan tidak sanggup mengalirkan volume air tersebut,” ungkap Dodi saat memberikan keterangan resmi pada Minggu (10/5/2026).
Dampak langsung dari tertutupnya jalur utama ini sangat terasa, tidak hanya bagi warga sehari-hari, tetapi juga bagi rombongan Calon Jamaah Haji (CJH) dari wilayah Agara.
Rombongan yang baru saja dilepas keberangkatannya oleh Bupati Aceh Tenggara untuk menuju Bandara Internasional Kualanamu, Medan, terpaksa harus mengubah rute perjalanan dan menggunakan jalan alternatif.

Merespons kondisi darurat tersebut, Pemerintah Daerah melalui BPBD segera mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi kejadian. Tim tersebut bekerja sama erat dengan unsur Pemerintah Kecamatan, personel TNI, dan Polri guna melakukan kajian dampak bencana serta melaksanakan langkah-langkah penanganan darurat.
“Kini proses pembersihan material sisa banjir sedang berjalan. Kami juga telah menurunkan satu unit alat berat untuk mempercepat pembukaan akses jalan yang tertutup, agar mobilitas masyarakat dapat kembali berjalan normal secepatnya,” tambah Dodi.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa wilayah Aceh Tenggara memang memiliki karakteristik geografis yang rawan terhadap banjir bandang saat musim penghujan tiba.
Selain faktor alam, kerapatan vegetasi dan kondisi daerah tangkapan air di hulu juga menjadi faktor utama yang mempengaruhi besar kecilnya dampak bencana yang terjadi. Pihak berwenang terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga kelestarian lingkungan di sepanjang aliran sungai agar risiko bencana serupa dapat diminimalisir di masa mendatang.
Sampai berita ini diturunkan, petugas masih bekerja di lapangan untuk mengangkat sisa material dan memulihkan fungsi jalan nasional tersebut. Warga diimbau tetap berhati-hati dan mengikuti arahan petugas di lokasi. (*)



