Banda Aceh (Waspada Aceh) – Muhammad Achdan Tharis, pemuda asal Kabupaten Bireuen, Aceh, terpilih sebagai delegasi Indonesia dalam forum internasional Serve BRICS 2026: Volunteering for a Better Tomorrow.
Ia menjadi satu dari empat pemuda yang lolos mewakili Indonesia dari total 126 pendaftar. Forum ini akan digelar secara virtual pada 29 April 2026 dan mempertemukan relawan muda serta pejabat pemerintah dari negara-negara anggota BRICS.
Kegiatan ini dirancang sebagai forum partisipatif berorientasi aksi yang mendorong peralihan dari sekadar dialog menuju kontribusi nyata melalui diskusi panel terstruktur dan pertukaran pengetahuan, guna menghasilkan dampak yang terukur dan berkelanjutan dalam kerja sama pemuda BRICS di bawah keketuaan India.
Forum ini juga menjadi peluang strategis bagi pemuda Indonesia untuk memperluas jejaring global, terlibat dalam diplomasi berbasis aksi, serta memastikan peran aktif sebagai aktor kunci dalam membentuk agenda kerja sama internasional yang inklusif dan berdampak luas.
Dalam forum tersebut, Achdan akan membawa isu manajemen bencana berbasis komunitas. Ia mengangkat pengalaman Aceh, mulai dari memori kolektif tsunami 2004 hingga inovasi mitigasi banjir bandang Aceh 2025.
Menurut Achdan, ketangguhan masyarakat tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.
“Pemuda tidak hanya menjadi tenaga bantuan, tetapi juga harus menjadi bagian dari perumusan kebijakan di tingkat akar rumput,” ujarnya kepada Waspadaaceh.com, Selasa (27/4/2026).
Ia menilai forum ini menjadi kesempatan penting bagi pemuda Indonesia untuk memperluas jejaring global sekaligus terlibat dalam diplomasi internasional berbasis aksi nyata.
“Ini ruang bagi kita untuk menyuarakan perspektif lokal di tingkat global,” tuturnya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya perlindungan bagi relawan yang bekerja di wilayah berisiko tinggi melalui standar internasional.
Sebelumnya, Achdan aktif dalam berbagai kegiatan kesukarelawanan di Aceh. Ia termasuk yang menginisiasi komunitas Meubumoe di Bireuen yang fokus pada isu lingkungan seperti edukasi mitigasi bencana berbasis perubahan iklim kepada remaja.
Ia juga terlibat dalam kegiatan psikososial bersama Forum Genre Aceh di Bireuen, Langsa, dan Aceh Tamiang. Tak hanya itu, Achdan juga aktif di komunitas Saling Jaga yang menggelar kegiatan kemanusiaan, seperti bantuan sosial, layanan kesehatan, dan pendampingan psikososial di Kabupaten Pidie Jaya.
Achdan mengaku mengetahui informasi pendaftaran dari akun Instagram Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Proses seleksi berlangsung cepat karena pendaftaran hanya dibuka selama satu hari.
Seleksi dilakukan berbasis dokumen, mulai dari profil kegiatan kesukarelawanan, sertifikat, laporan aksi sosial, hingga kemampuan bahasa Inggris seperti TOEFL atau IELTS.
Achdan mengajak generasi muda untuk tidak ragu mengambil peran di ruang-ruang global.
“Jangan pernah meragukan kekuatan suara kita. Bawa ketulusan dan gagasan ke meja diplomasi, karena dunia sedang menunggu kontribusi nyata dari pemuda Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan, perubahan besar bisa lahir dari langkah kecil di tingkat lokal.
“Dari akar rumput, kita bisa membangun ketangguhan dan memberi dampak bagi masa depan dunia yang lebih baik,” tutupnya. (*)



