“Tanpa banyak bicara dan bahkan tanpa ingin namanya disebutkan, sosok baik hati ini menghadiahkan satu unit sepeda motor baru untuk Dina”
Di tengah hiruk-pikuk kota Medan yang tak pernah tidur, ada kisah-kisah kecil yang menyentuh hati. Salah satunya adalah kisah Dina Ayu Herawati, seorang pengemudi ojek online yang sempat kehilangan semangatnya, namun kemudian menemukan kembali harapan berkat kebaikan hati seorang dermawan.
Hari itu, Sabtu, 18 April 2026, langit mulai gelap dan waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Seperti biasa, Dina sedang sibuk melayani pesanan demi pesanan untuk menghidupi keluarganya.
Di kawasan Jalan Ringroad Sunggal, Medan, tepatnya di depan Restoran Sederhana, ia menerima pesanan GoFood. Karena pelanggan meminta dengan terburu-buru, ia memutuskan untuk memarkirkan motornya sebentar.
Motor Honda Vario kesayangannya dikunci stang, namun sayang, gembok cakram pengaman tambahan tidak sempat ia pasang. Lokasi saat itu terasa agak sepi dan minim penerangan, namun Dina berpikir semuanya akan baik-baik saja seperti biasanya.
Namun, takdir berkata lain. Hanya dalam hitungan menit, saat ia kembali keluar membawa pesanan, tempat di mana motornya diparkir kini kosong melompong.
“Saya parkir seperti biasa, tapi karena customer minta cepat, gembok cakram tidak saya pasang. Pas balik, motor sudah hilang,” ujar Dina, Senin (20/4/2026).
Dunia seakan runtuh di hadapannya. Motor itu bukan sekadar kendaraan; itu adalah satu-satunya alat pencari nafkah, tulang punggung ekonomi keluarganya. Keputusasaan dan kesedihan membuatnya menangis histeris di pinggir jalan, terduduk di emperan, menjadi perhatian warga sekitar.
Video momen pilu itu kemudian viral di media sosial. Cukup miris, menyedihkan, banyak orang yang melihatnya.
Kisah pilu Dina ternyata sampai ke telinga seorang dermawan yang hatinya tergerak untuk membantu. Tanpa banyak bicara dan bahkan tanpa ingin namanya disebutkan, sosok baik hati ini menghadiahkan satu unit sepeda motor baru untuk Dina.
Bantuan itu datang seperti hujan di tengah musim kemarau. Mata yang sebelumnya basah oleh air mata kesedihan, kini basah oleh air mata bahagia. Mata Dina kembali bersinar dan bibirnya tersenyum lebar.
Dina tidak perlu lagi bingung memikirkan bagaimana cara mencari makan besok, bagaimana membayar kebutuhan rumah tangga, atau bagaimana harus memulai lagi dari nol.
“Assalamualaikum. Terima kasih, orang baik. Alhamdulillah atas bantuannya, saya bisa mencari nafkah untuk keluarga. Semoga dimurahkan rezekinya, selalu sehat, dan sukses. Alhamdulillah, terima kasih sekali lagi,” ucap Dina, yang kemudian segera sujud syukur.
Kini, dengan motor barunya, Dina sudah bisa kembali memacu motornya, kembali berjuang di jalanan Medan. Rasa syukur dan terima kasihnya tak terhingga kepada sang pemberi, hingga Dina berkali-kali berterima kasih.
“Terima kasih banyak, Pak/Bu. Semoga kebaikan ini dibalas berkali-kali lipat oleh Tuhan,” ucapnya tulus.
Kisah Dina mengajarkan kita bahwa meski hidup kadang memberikan ujian yang berat, kebaikan manusia dan pertolongan Tuhan seringkali datang dari arah yang tak terduga.
Ia membuktikan bahwa di tengah kerasnya kehidupan kota besar, masih ada hati yang peduli dan tangan yang siap menolong. Dan bagi Dina, senyum itu kini kembali mengembang, lebih cerah dari sebelumnya. (*)



