BerandaDari Kopi ke Parfum, Ambisi Aceh Bangun Identitas Ekonomi Baru

Dari Kopi ke Parfum, Ambisi Aceh Bangun Identitas Ekonomi Baru

Banda Aceh (Waspada Aceh) — Pemerintah Aceh mulai menggeser narasi ekonominya. Jika selama ini identitas daerah lekat dengan kopi, kini arah baru tengah dibangun: menjadikan Banda Aceh sebagai pusat industri parfum nasional berbasis minyak nilam.

Gagasan “Kota Parfum Aceh” bukan sekadar slogan. Ini adalah strategi hilirisasi komoditas unggulan, dengan nilam sebagai tulang punggung, untuk mendorong ekonomi lokal yang lebih berkelanjutan.

Aceh sendiri saat ini merupakan pemasok utama minyak nilam Indonesia, bahan baku penting dalam industri parfum global. Namun, potensi tersebut belum tergarap maksimal. Baru sekitar 18 kabupaten/kota yang memproduksi nilam.

Padahal, permintaan global minyak nilam diperkirakan mencapai 250.000 ton, sementara produksi yang terserap pasar baru sekitar 2.000 ton. Selisih yang cukup untuk membuat siapa pun bertanya, ini peluang besar atau kita memang hobi setengah-setengah?

Upaya menutup kesenjangan itu kini melibatkan berbagai pihak. International Labour Organization (ILO) melalui proyek PROMISE II IMPACT berperan menghubungkan petani, koperasi, hingga lembaga keuangan daerah.

Manajer proyek PROMISE II IMPACT, Djauhari Sitorus, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong keberhasilan inisiatif ini.

“Keberhasilan inisiatif seperti Kota Parfum Aceh sangat bergantung pada kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku usaha, pekerja, dan masyarakat luas,” ujar Djauhari, Selasa (31/3/2026).

Baca juga  : Hilirisasi Nilam dan Mimpi Jadikan Banda Aceh “Kota Parfum”

Melalui proyek tersebut, ILO tidak hanya membuka akses pembiayaan, tetapi juga membantu pelaku usaha kecil menjangkau pasar global serta mendorong adopsi teknologi dan digitalisasi.

Dampaknya mulai terasa di tingkat hulu. Ketua Kelompok Tani Seulawah Agam, Jakfar Siddiq, mengatakan sekitar 20 hektare lahan di wilayahnya kembali ditanami nilam.

Kebangkitan ini membuka peluang kerja baru bagi masyarakat desa. Namun, tantangan belum sepenuhnya hilang.

Menurut Jakfar, harga masih menjadi faktor penentu utama keberlanjutan usaha. Bagi petani, kualitas hasil panen sangat memengaruhi nilai jual minyak nilam di pasar.

Karena itu, peningkatan keterampilan budidaya, akses teknologi, serta kepastian pasar menjadi kunci untuk menciptakan usaha yang lebih stabil.

Penguatan ekosistem nilam, kata dia, bukan hanya soal meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan petani mendapatkan kepastian usaha dan perlindungan dari fluktuasi harga.

Pendekatan yang inklusif juga mulai diperluas. Program ini membuka peluang bagi kelompok rentan, termasuk perempuan dan pelaku usaha kecil, untuk terlibat dalam rantai nilai industri parfum.

Kepala Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala, Syaifullah Muhammad, menyebut pihaknya bersama Pemerintah Kota Banda Aceh tengah menyiapkan peta jalan pengembangan Kota Parfum selama 10 tahun ke depan.

Pusat riset tersebut berfokus pada pengembangan teknologi pemurnian nilam menjadi patchouli berkualitas tinggi, sekaligus formulasi parfum berbasis minyak atsiri khas Aceh.

“Kami juga menyiapkan sumber daya manusia melalui transfer teknologi kepada anak muda dan UMKM, serta membina petani nilam untuk memastikan keberlanjutan rantai pasok bahan baku,” ujar Syaifullah, Rabu (1/4/2026).

Baca Juga : Menyuling Ulang Nilai Nilam Aceh, Riset Kampus Dorong Kebangkitan Komoditas Rakyat

Kerja sama internasional pun mulai dijajaki. Banda Aceh direncanakan menjalin kemitraan sister city dengan Grasse, Prancis, yang dikenal sebagai salah satu pusat industri parfum dunia. Penandatanganan kerja sama ini dijadwalkan berlangsung pada 26–28 Mei 2026.

Dalam jangka pendek, sejumlah langkah konkret disiapkan, mulai dari pembangunan Banda Aceh Parfum Center, pengembangan akademi parfum, hingga penyelenggaraan festival parfum internasional dan pameran industri halal.

Meski demikian, pengembangan industri ini masih membutuhkan dukungan luas, baik dari sisi kebijakan, pembiayaan, maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Ke depan, transformasi Banda Aceh sebagai Kota Parfum tidak hanya ditargetkan meningkatkan produksi dan ekspor, tetapi juga menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, yang manfaatnya dapat dirasakan hingga ke tingkat petani. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER