Beranda Aceh 157 Santri RIAB Diwisuda, 7 Santri Hafiz Quran

157 Santri RIAB Diwisuda, 7 Santri Hafiz Quran

BERBAGI
Santri RIAB yang hafal qur'an 30 juz mendapat hadiah tiket umroh dari yayasan. (Foto/Aldin NL)
Santri RIAB yang hafal qur'an 30 juz mendapat hadiah tiket umroh dari yayasan. (Foto/Aldin NL)

Banda Aceh (WaspadaAceh): 157 Santriwan/i Madrasah Aliyah Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), Minggu (16/4/2018) diwisuda, dan tujuh santri berhasil menghafal Quran 30 Juz, dan lima diantaranya mendapat hadiah umroh dari yayasan tersebut.

Hadir pada acara wisuda Angkatan XIX tahun 2018 tersebut, sejumlah tokoh penting, antara lain, Pendiiri RIAB, Prof Dr Syamsuddin Mahmud, Prof Dr Sahrizal, Direktur Paska Sarjana UIN Ar Raniry, Kol DR Husein, mewakili Pangdam IM, Kakanwil Kemenag Aceh, Daud Fakeh, Drs Sulaiman Abda, Wakil Ketua DPRA, DR Bustami Usman, Kepala Badan Dayah Aceh, Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT), Fadhil Rahmi, Dr Hasan Yacub, Pengawas dan Ketua Yayasan RIAB Razaly Yusuf, SE serta undangan lainnya.

Para santri berprestasi yang memperoleh tiket untuk berangkat umroh. (Foto/Aldin NL)
Para santri berprestasi yang memperoleh tiket untuk berangkat umroh. (Foto/Aldin NL)

Hadirnya Prof DrSyamsuddin Mahmud, mantan Gubernur Aceh ini, cukup mengejutkan undangan yang hadir. Soalnya Guru Besar Ekonomi Unsyiah yang berusia 83 tahun itu, sebelumnya dilaporkan kurang sehat. Tapi demi menghadiri wisuda angkatan XIX itu, dia hadir walau kondisi kurang fit.

Prof Dr Syamsuddin Mahmud (kemeja putih) bersama Prof Dr Sahrizal dan Razaly Yusuf, Minggu (15/4/2018). (Foto/Aldin NL)
Prof Dr Syamsuddin Mahmud (kemeja putih) bersama Prof Dr Sahrizal dan Razaly Yusuf, Minggu (15/4/2018). (Foto/Aldin NL)

“Saya datang ke Banda Aceh sudah dua hari,” katanya saat Waspada temui seusai makan siang di ruang guru pondok pesantren yang ia dirikan tersebut.

Pak Syam, panggilan akrabnya, sempat ikut pertemuan dengan pejabat dari Departemen Pendidikan Pusat, terkait dengan program pengembangan teknologi komunikasi yang akan dikembangkan di pondok pesantren terpadu tersebut.

Alumni Ponpes Modern di Guegajah, Aceh Besar ini, dilaporkan sudah tersebar hampir di semua tempat. Bahkan banyak yang kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir. Beberapa alumni diantaranya telah mengharumkan nama RIAB. Ustad Hanan Attaqi, misalnya, juga alumni RIAB, beber Ketua IKAT Aceh Fadhil Rahmi, teman dekat ustad Abdul Somad saat kuliah di Universitas Al Azhar.

Kepala Sekolah RIAB, Suryadi, S.Ag melaporkan, di Ponpes RIAB kini telah dikembangkan dayah dan program tahfiz. Dari 157 santriawan/i yang diwisuda ada 7 orang yang berhasil menghafal Al Quran 30 Juz, dan 5 diantaranya mendapat hadiah tiket Umroh, karena berhasil menghafal 30 Juz Al Quran tepat waktu.

Kini jumlah pelajar di Ponpes RIAB sebanyak 510 santri. Tahun ajaran 2018 RIAB menerima santri 7 lokal dengan jumlah 225 santri. Untuk santriwati 4 lokal.

RIAB ini dikelola yayasan yang diketuai Razaly Yusuf, Mantan PJ Walikota Banda Aceh di masa tsunami, dan terus mengalami kemajuan. ” Alhamdulillah, di ponpes ini akan dibangun gedung untuk rumah makan kafasitas 600 siswa,” lapor Suryadi.

Wakil Ketua Yayasan RIAB, menimpali pembangunan di ponpes RIAB ini paling terbuka dan transparan dan semuanya bisa diakses.

Para tokoh yang hadir ikut memberi sambutan yang intinya memotivasi wisudawan/ wisudawati untuk menuntut ilmu di universitas ternama di Indonesia, mau pun luar negeri, khususnya di Timur Tengah.

Pangdam IM, diwakili Kolonel DR Husein Ahmad, menimpali, alumni RIAB bisa menjadi pejuang bangsa, dengan masuk ke sekolah militer seperti Taruna dan lainnya. Sehingga keberadaannya bisa ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga kerukunan ummat beragama.

Kepala Badan Dayah Aceh, Dr Bustami Usman, mewakili Gubernur Aceh, menyebut sekolah di ponpes hasilnya dapat menjaga harmoni antara Imtaq dan imteq yang sangat sesuai dengan Syariat Islam di Aceh.

Dia sependapat untuk mengirimkan putra-putri Aceh menuntut ilmu di sekolah terbaik di Indonesia mau pun di universitas di belahan dunia mana saja sesuai dengan misi Gubernur Irwandi-Nova, menjadikan Aceh hebat dari bidang pendidikan dengan nilai moral yang tinggi.

Kakanwil Kemenag Aceh, Daud Fakeh mengilas balik sistem pendidikan pondok pesantren di Indonesia yang pernah dihancur-leburkan Belanda yang menjajah selama 350 tahun.

Kata dia, sebelum Indonesia dijajah Belanda, sistem pendidikan di Indonesia adalah pondok pesantren. Dia menyebut tokoh seperti Daud Beureueh dan Ali Hasjmy di Aceh adalah murni hasil didikan pondok pesantren. Selain itu, Buya Hamka, dan tokoh tokoh besar lainnya, semua dari pondok pesanteen. Peran besar sejarah ponpes diapresiasi oleh pemerintahan Presiden Jokowi dengan memperingati setiap tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri nasional. (B01)

BERBAGI