Banda Aceh (Waspada Aceh) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya meningkatkan asupan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Salah satu yang merasakan manfaat tersebut adalah usaha telur asin Boh Itek Masen Aceh (BIMA) milik E. Ginting (55), yang akrab disapa Ayahcek.
Ayahcek mengatakan, permintaan telur asin meningkat sejak usahanya mulai memasok kebutuhan dapur MBG pada awal tahun 2026.
“Kurang lebih tiga sampai empat bulan lalu kami mulai terlibat. Awalnya melalui distributor di Pasar Induk, kemudian dapur MBG juga mengambil langsung dari rumah produksi kami,” kata Ayahcek saat ditemui di stan UMKM pada kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Sinergi Ekonomi Kerakyatan di Taman Budaya Aceh, Jalan Teuku Umar, di Banda Aceh, Kamis (16/4/2026).
Rakor yang digelar Direktorat Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat tersebut bertujuan memperkuat peran UMKM, koperasi, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mendukung implementasi program MBG pascabencana di Provinsi Aceh.
Menurut Ayahcek, permintaan telur asin dari dapur MBG bersifat fleksibel karena menyesuaikan dengan menu yang disiapkan. Namun, dalam satu kali pemesanan, jumlahnya dapat mencapai sekitar 3.000 butir dengan harga Rp2.900 per butir.
“Sejauh ini sudah ada sekitar tiga dapur MBG di wilayah Aceh Besar yang mengambil produk kami. Salah satunya bahkan pernah memesan sekitar 2.800 butir dalam sekali pengambilan,” ujarnya.
Sebelum terlibat dalam program MBG, produksi telur asin BIMA berkisar 10.000 butir per hari. Dengan adanya program tersebut, produksi mengalami peningkatan yang turut memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar.
“Kami berharap program ini menjadi stimulan ekonomi bagi masyarakat, terutama UMKM. Jangan sampai kebutuhan MBG hanya dipasok oleh perusahaan besar, sementara pelaku usaha kecil tidak dilibatkan,” tambahnya.
Utamakan Bahan Baku Lokal
Ayahcek menjelaskan bahwa bahan baku telur bebek yang digunakan berasal dari peternak lokal di sejumlah wilayah di Aceh, seperti Aceh Besar, Banda Aceh, Qceh Barat Daya dan beberapa kabupaten kota.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat rantai pasok lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak.
“Kami selalu mengutamakan pasokan dari peternak lokal. Jika pasokan kurang, barulah kami mengambil dari luar daerah,” jelasnya
Ia menambahkan, hingga saat ini tidak ada kendala berarti dalam ketersediaan bahan baku. Bahkan, ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan usaha peternakan bebek guna memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Pria asal Sumatera Utara yang telah lama menetap di Aceh ini mulai mengembangkan usaha BIMA sejak 2008. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, ia melihat pangsa pasar telur asin sangat menjanjikan karena permintaannya tinggi, terutama untuk berbagai acara seperti pesta dan peringatan maulid.
Di Aceh, telur asin dikenal dengan sebutan “Boh Itek Jruek”, yang kerap disajikan sebagai hidangan untuk memuliakan tamu. Rumah produksi BIMA sendiri berlokasi di Jalan Tanggul, Kuta Alam, Banda Aceh.
Ia berharap semakin banyak peternak bebek di Aceh yang mengembangkan usahanya agar mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, terutama sejak hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Harapan kami, semakin banyak peternak lokal yang berkembang sehingga manfaat ekonomi dari program MBG bisa dirasakan lebih luas,” tutup Ayahcek. (*)



