Turut Berduka Insiden Malang, DPRK Banda Aceh: Jangan Sampai Terjadi di Stadion Dimurthala

    BERBAGI
    Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, yang menewaskan 129 orang, Sabtu malam (1/10/2022). (Foto/tangkapan layar)

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Politisi PKS Irwansyah ST mengingatkan kepada suporter dan pendukung setia Persiraja Banda Aceh agar insiden di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, tidak terjadi di Stadion H Dimurthala Banda Aceh.

    Irwansyah menyampaikan keprihatinan dan dukacita mendalam atas insiden Malang. Dari data terakhir menyebutkan, 150 orang lebih tewas. Apalagi insiden anarkis pernah juga terjadi di kandang Laskar Rencong itu pada Senin malam (5/9/2022).

    Insiden di Stadion H Dimurthala, Lampineung, Banda Aceh terjadi awal bulan lalu, saat penonton kecewa akibat laga Persiraja vs PSMS Medan digelar malam hari dan lampu stadion padam hingga tengah malam. Akibatnya penonton yang sudah menunggu berjam-jam marah dan merusak fasilitas stadion.

    “Kita prihatin dan sangat berduka atas insiden yang terjadi di Malang. Ini adalah bencana besar dunia sepakbola tanah air, bahkan menjadi atensi FIFA dan media luar negeri. Tidak ada sedikitpun hasil positif yang kita dapatkan atas semua bentuk tindakan ceroboh dan emosional kita,” kata Ketua Komisi III DPRK Banda Aceh ini kepada wartawan, Minggu (2/10/2022).

    Irwansyah mengatakan tragedi di Malang harus menjadi pelajaran bagi semua dan insiden terakhir. Tidak boleh lagi ada insiden serupa terjadi, termasuk di Banda Aceh, jangan sampai terjadi.

    “Termasuk di Aceh, kita harapkan agar semua kita bisa menjaga sportifitas dan ketertiban. Baik selama pertandingan dan usai pertandingan. Kemarin kita juga menyayangkan masih ada insiden pemukulan wasit dan chaos di laga tarkam di Abdya. Hal-hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi,” ujar politisi muda potensial ini.

    Irwansyah dikenal sebagai sosok yang peduli pada Persiraja Banda Aceh ini mengungkapkan dalam insiden Kanjuruhan, Malang itu semua akan dirugikan. Bisa kena sanksi, bahkan pemain yang anarkis dan memukul bisa dipidana, penonton yang anarkis juga bisa dipidana.

    “Kita tidak mengharapkan hal itu terjadi. Apalagi, saat ini PSSI resmi menghentikan Liga 1 Indonesia sebagai evaluasi terhadap seluruh perangkat pelaksanaan. Jika sudah demikian maka yang dirugikan adalah pemain, klub, suporter dan pecinta sepakbola yang tidak bisa lagi bermain,” jelasnya.

    Irwansyah kembali mengingatkan sanksi berat dari FIFA akan menanti untuk Indonesia akibat insiden tersebut. Tentunya, sangat disayangkan ditengah prestasi dan performa Timnas Indonesia yang sedang naik malah dibayangi dengan sanksi FIFA yang berdampak pada sepakbola nasional. (*)