Beranda Opini Semangat Sang Pemuda Penggerak

Semangat Sang Pemuda Penggerak

BERBAGI
Kelompok 7 Modul Nusantara Pertukaran Mahasiswa Merdeka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya pada parade Surabaya Juang 2022. (Foto/Ist)

Penulis Nabila Safira

Mahasiswa. Jika mendengar kata tersebut pastilah tak jauh dari seseorang yang menjalani pendidikan yang lebih tinggi di sekolah tinggi, institut, akademi, politeknik, atau yang paling umumnya adalah universitas.

Seringkali juga ada anggapan bahwa mahasiswa merupakan remaja kemarin sore berdarah muda dan idealisme yang membara, tak segan mengeluarkan opininya mengenai isu yang terjadi di tengah masyarakat.

Kritikan yang tampak belum matang jika mereka berdiskusi dengan para “senior” yang lebih tua, namun itulah yang menarik dari mahasiswa. Ideologi dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar harus selalu menjadi satu dengan identitas tersebut.

Jika kita lihat pada kasus di lapangan, maka kita akan paham bahwa mahasiswa sebagai pemuda penggerak, saat ini sedang mengalami krisis kritis.

Mereka sedang dalam masa krisis untuk mengkritisi berbagai fenomena yang sedang terjadi di sekitar. Terutama pengaruh dari kemajuan teknologi membuat para pemuda seperti hampir “amnesia” akan rasa nasionalisme yang ada.

Hendaknya kita sebagai pemuda penggerak atau agent of change mampu untuk sadar akan hal sekitar, contohnya tetap terus memberdayakan dan menanamkan nilai-nilai nasionalis dan semangat perjuangan yang diteruskan kepada untuk Indonesia yang lebih maju.

Maka jika ditilik ke masa lalu, semangat yang para mahasiswa yang dikobarkan saat ini tak jauh berbeda dengan semangat para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Kemiripan dari segi inilah yang mestinya harus dijaga dan memang, hingga saat ini rasa semangat itu ada dan terus kita lihat hingga masa kini. Berbagai polemik, isu, momok yang sedang marak melingkupi berita di Indonesia menuntut mahasiswa untuk semakin kritis juga analitis terhadap informasi-informasi dewasa ini.

Tak lepas dari hal itu, baru-baru ini dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda, maka pada 6 November lalu, dari inisiatif para manusia-manusia berdarah muda khususnya Arek-arek Suroboyo maka diperingatilah perjuangan para pahlawan di Parade Surabaya Juang yang menjadi sebuah momen yang tak terlewatkan.

Parade Surabaya Juang adalah salah satu contoh dari bagaimana rasa cinta tanah air dalam mengenang pahlawan tak meredup ditekan zaman. Berbagai kalangan berlomba menunjukkan hasil terbaik mereka pada acara yang semarak ini.

Tiap-tiap kecamatan baik tau dan muda tak lepas semangat untuk meramaikan suasana dari Para Surabaya Juang. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya walaupun kita saat ini tengah diterpa berbagai macam masalah yang datang dari sana sini, tetap teguh dalam konsisten untuk menjaga jati diri sebagai anak manusia yang hidup di tanah air Ibu Pertiwi Indonesia.

Namun ternyata semangat tersebut tidak hanya berkobar di pikiran dan jiwa para pemuda saja, karena para veteran, masyarakat umum juga ikut meramaikan parade tersebut dengan berbagai macam aksi dan teaterikal mengagumkan yang meremangkan tubuh.

Aksi-aksi yang ditunjukkan seperti marching band, teaterikal hari-hari bersejarah, bahkan pertunjukan cosplay, dan lainnya menjadi sumbu penyemangat di tengah terik Surabaya. Keseruan tersebut adalah bentuk penghormatan dari penerus bangsa kepada para pendahulu yang telah berjuang untuk Indonesia.

Mahasiswa dan pahlawan, kehadiran dari dua kata yang berbeda zaman. Namun memiliki tujuan yang sama untuk memberikan perubahan, pahlawan seperti Bung Tomo dengan pidatonya membakar adrenalin pemuda tempo dulu untuk melawan sekutu telah membawa perubahan skala besar bagi Indonesia di masa sekarang.

Maka peran mahasiswa dan pemuda pada saat ini adalah untuk terus menjaga agent of change bagi masyarakat sekitar agar apa yang telah diwariskan tak pernah dilalaikan apalagi terlupakan.

* Penulis mahasiswa Unimed. Saat ini sedang ikut program Kampus Mandiri di Universitas 17 Agustus Surabaya

Waspada Aceh on TV

BERBAGI