Sabtu, Maret 2, 2024
Google search engine
BerandaAcehSemangat Nurhayati Mengais Rezeki di Usia Senja

Semangat Nurhayati Mengais Rezeki di Usia Senja

Nurhayati berharap, usahanya ini bisa terus berkembang dan memberi kesejahteraan bagi keluarganya.

Di usia 65 tahun, Nurhayati masih bersemangat menjalankan usaha ikan asin yang menjadi mata pencahariannya.

Nurhayati tampak sibuk membersihkan ikan-ikan yang baru saja ia beli dari nelayan. Ia membelah ikan menjadi dua bagian, lalu menaburinya dengan garam. “Ini lagi bersihkan ikan untuk dibuat ikan asin,” katanya saat ditemui Waspadaaceh.com, Selasa (30/1/2024).

Nurhayati berjualan di sebuah pondok kayu di pinggir jalan Dusun Musafir, Alue Naga, Banda Aceh. Pondok kayu itu menjadi saksi bisu perjuangan Nurhayati dalam menghidupi keluarganya. Di pondok itu, ia menata dan menimbang ikan asin yang siap dijual.

Lalu lalang kendaraan, sesekali ada pembeli yang singgah ke pondoknya dan membeli beberapa jenis ikan asin beberapa ons. Nurhayati menyambut mereka dengan ramah dan memberi harga yang terjangkau. “Kalau beli ikan asin di sini, lebih murah dan lebih segar daripada di pasar. Saya sendiri yang buat ikan asinnya,” ujarnya.

Ikan asin adalah makanan favorit masyarakat Aceh, terutama saat musim hujan. Ikan asin memiliki rasa gurih dan renyah yang cocok disantap dengan nasi hangat dan sambal.

Tak jauh dari pondoknya, terlihat beberapa rak bambu yang dipenuhi ikan asin yang sedang dijemur. Nurhayati mengatakan, proses pengeringan ikan asin membutuhkan waktu sekitar dua hari, tergantung cuaca. Ia harus memastikan ikan asinnya kering dan tidak berbau amis.

“Untuk membuat ikan asin yang enak, harus teliti dan sabar. Harus menjemurnya sampai kering, tapi tidak terlalu lama agar tidak keras. Kalau hujan, harus masuk-masukkan ikan asin ke dalam rumah agar tidak basah,” jelasnya.

Nurhayati mendapatkan pasokan ikan dari suaminya yang nelayan, atau membeli dari nelayan lain di daerah Lampulo atau Syiah Kuala. Harga ikan segar bervariasi, tergantung jenis ikan dan musimnya.

“Kalau beli ikan segar, biasanya satu keranjang harganya antara 150 ribu sampai 300 ribu. Kalau sudah diolah jadi ikan asin, harganya bisa naik dua kali lipat atau lebih,” katanya.

Nurhayati mengaku berjualan ikan asin sejak lima tahun lalu. Sebelumnya, ia berjualan sayur mayur. Ia pun beralih ke usaha ikan asin, karena menurutnya lebih menguntungkan dan lebih mudah dikelola.

“Paling banyak yang laku ikan tali pinggang, karena rasanya gurih dan renyah seperti kerupuk. Alhamdulillah, dagangan saya laku. Saya bisa dapat untung Rp100.000 sampai Rp300.000 per hari,” jelasnya.

Ia mengaku cukup puas dengan usahanya ini, meskipun ia harus bersaing dengan pedagang ikan asin lainnya di pasar. Nurhayati berharap, usahanya ini bisa terus berkembang dan memberi kesejahteraan bagi keluarganya.

“Saya bersyukur masih bisa berusaha di usia saya yang sudah tua. Bagi saya dengan beraktivitas seperti ini saya bahagia, Saya tidak mau merepotkan anak-anak saya. Saya ingin mandiri membantu suami dan bermanfaat bagi orang lain. Saya juga berdoa agar usaha ikan asin saya bisa terus maju dan memberi berkah bagi saya dan keluarga saya,” tutur Nurhayati. (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments