Rabu, Juli 24, 2024
Google search engine
BerandaDisbudpar AcehSavana, Sekeping “Surga” di Bukit Siron Aceh Besar

Savana, Sekeping “Surga” di Bukit Siron Aceh Besar

“Bukit yang berlekuk-lekuk dengan hamparan rerumputan hijau, menyajikan pemandangan begitu eksotik dari hutan lindung Ulu Masen. Begitulah pesona Bukit Siron”

————

Hari Minggu (22/5/2022) penulis dan beberapa teman jurnalis lainnya, Haris, Mardili, Naufal, Nunu dan Febby, mencoba petualangan kecil untuk menikmati alam. Kami mengunjungi destinasi wisata Bukit Siron yang berlokasi di Desa Siron Krueng, Kecamatan Cot Glee, Kabupaten Aceh Besar.

Untuk menuju lokasi dapat diakses melalui pedesaan kawasan waduk keliling Indrapuri dan juga dapat ditempuh melewati kawasan Jantho. Waktu tempuh dari Kota Banda Aceh sekitar 1 jam 45 menit. Tidak begitu banyak memakan waktu.

Kali ini penulis bersama jurnalis lainnya memilih perjalanan ke Bukit Siron melalui Kota Jantho. Sepeda motor melaju dengan kecepatan 40 Km. Harus melalui jalanan berkelok tapi beraspal mulus, yang membelah perbukitan Jantho, Aceh Besar menembus hingga ke Lamno, Aceh Jaya.

Walau kondisi jalanan sudah mulus, tapi terlihat sepi. Hanya satu atau dua kendaraan yang sesekali melintas. Sepanjang perjalanan, di sisi kiri dan kanan jalan kami disuguhi pemandangan bukit padang savana. Tampak pemandangan hamparan luas dan bukit yang berlekuk. Savana (seperti padang rumput) ini terlihat begitu luas. Hanya ditumbuhi rumput dan ilalang setinggi pinggang orang dewasa atau kurang lebih 50 Cm. Sebagian tumbuhan ini terlihat sudah mulai menguning. Di sebelah kiri, tampak lereng pegunungan curam tanpa pepohonan.

Penulis melintasi beberapa jembatan besi. Di bawah jembatan mengalir air sungai yang terlihat jernih dan berbatu. Tampak masih asri. Beberapa satwa di antaranya burung-burung tampak terbang dari satu pohon ke pohon lainnya. Burung-burung penghuni hutan ini memberi hiburan tersendiri melalui kicauannya yang bersahut-sahutan.

Panorama di sekitar Bukit Siron, Aceh Besar. (Foto/ twitter.wisataacehid)

Dalam perjalanan itu, di rerimbunan pohon, satwa lain bagaikan menyambut kedatangan kami. “U…uuk…uuukk,” suaranya memecah keheningan hutan. Tampak gerombolan Siamang. Satwa berbulu tebal yang dilindungi ini bergelantungan dari satu dahan ke dahan lainnya.

Sekira satu jam berikutnya, penulis melihat papan yang dipakukan ke satu pohon, bertuliskan “Destinasi Wisata.” Papan ini sebagai penunjuk jalan. Sekitar 500 meter dari situ, penulis dan teman-teman mencapai sebuah pondok berukuran sekitar 3×3 meter. Pondok ini berbahan kayu dan beratap seng. Kami istirahat sejenak di pondok tersebut.

Sekitar 70 meter dari pondok, terlihat sebuah rumah panggung dari kayu beratapkan daun rumbia. Sepertinya rumah itu tidak berpenghuni, atau penghuninya hanya sesekali datang kerumah itu untuk melihat kebunnya. Meskipun beratapkan daun rumbia, rumah itu tampak asri, bagai sebuah vila.

“Destinasi Wisata ini disebut dengan ‘Belvile’ atau Belakang Vila,” kata Masbro kepada penulis pada siang itu.

Lelaki paruh baya ini memang tinggal di pondok yang kami datangi. Dia adalah orang yang dipercaya untuk mengelola kawasan wisata tersebut. Sambil ngobrol, Masbro dan para jurnalis menikmati nasi bungkus yang kami beli dan bawa dari Jantho.

“Awal tahun ini sudah semakin ramai wisatawan yang berkunjung ke sini. Bahkan juga ada yang berkemah,” lanjut Masbro dengan logat khas Sumatera Utara.

Masbro mengatakan, lokasi wisata itu mulai ramai setelah viral di beberapa postingan media sosial. Untuk pengelolaan destinasi wisata tersebut, saat ini mereka belum mengenakan biaya retribusi. Tapi pengelola memberikan kebebasan kepada pengunjung untuk menyumbang seikhlasnya. Hasil sumbangan itu akan digunakan untuk biaya perawatan tanaman dan pemeliharaan fasilitas.

Masbro berharap Pemerintah Aceh juga bisa melirik dan ikut mempromosikan destinasi wisata alam tersebut. Dia juga berharap Pemerintah Aceh dapat mendukung keberadaan objek wisata dan membantu pengelolaanya.

Usai makan siang bersama Masbro, penulis mulai melanjutkan petualangan kecil dengan berjalan kaki menuju bukit. Sepeda motor kami titipkan kepada Masbro yang menunggu di pondok. Ketika menaiki bukit, di tanjakan pertama, medannya cukup curam. Begitupun kami bisa tetap melanjutkan pendakian dengan bantuan tali yang tersedia di tanjakan itu.

Setelah mencapai puncak petama, tanjakannya mulai melandai hingga kami dengan mudah bisa melewatinya. Pepohonan yang tumbuh di sekitar, melindungi kami dari sengatan panas sinar matahari. Sebelum mencapai puncak tertinggi, penulis juga sempat menikmati sejuknya air terjun mini setinggi 2 meter yang ada di situ. Keberadaan air terjun ini mungkin yang menyebabkan iklim di sekitar pendakian terasa sejuk.

Kala berada di puncak, meski cuaca panas, tapi juga merasa puas. Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa penulis. Terasa sejuk. Penulis merasa lega dan nyaman berada di puncak karena udara pegunungan yang bergitu bersih dan segar.

Hamparan hijau yang terlihat dari Bukit Siron, Aceh Besar. (Foto/Ist).

“Setelah tadi berjuang dalam pendakian, semuanya terbayar dengan keindahan alam yang bisa kita lihat dari atas bukit ini. Wih keren,” kata Febby, rekan kami dari Provinsi Riau saat mencapai Bukit Siron.

Bentang alamnya tampak unik, memiliki hamparan bukit yang bercabang-cabang. Bukitnya terlihat bergelombang. Itulah yang menambah pesonanya. Keindahan alam itu tak disia-siakan. Penulis dan teman-teman berfoto ria. Untuk sekadar memotret pemandangan sekitar atau foto bersama.

Kawasan yang indah, bersih, nan eksotis menjadi salah satu objek wisata idola para wisatawan. Khususnya mereka yang suka dengan wisata petualangan, di alam yang masih terjaga keasriannya.

Bukit Siron sangat cocok untuk hiking dan camping. Juga direkomendasikan untuk yang hobi hunting foto. Pengunjung bisa menikmati air terjun alami, atau sekadar merebahkan diri di atas rerumputan hijau beratap langit biru.

Seperti yang penulis rasakan, benar-benar ada kedamaian di tengah hutan yang keasliannya masih sangat dijaga. Inilah penampakan nyata dari keindahan alam di Tanah Tencong, khususnya di Kabupaten Aceh Besar yang indah dan memesona.

Disbudpar Apresiasi Wisata Bukit Siron

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Jamalauddin, melalui Kabid Destinasi Disbudpar Aceh, T Hendra Faisal, mengapresiasi inisiatif dari masyarakat yang berupaya mengembangkan lokasi-lokasi potensial wisata yang ada di daerahnya menjadi kawasan destinasi wisata. Salah satu contohnya Bukit Siron yang ada di Aceh Besar.

Dia menyarankan pengelola dan masyarakat Aceh Besar mempromosikan lokasi wisata baru tersebut kepada pubik agar lebih dikenal. Tentu pengelola wisata arus terus meningkatkan pelayanannya melalui penyediaan fasilitas yang memadai dan didukung dengan akses yang mudah, ujarnya. Masyarakat sekitar bisa menyediakan produk-produk lokal, baik barang kerajinan ataupun kuliner, yang akan menjadi oleh-oleh bagi pengunjung.

“Kita mendorong semua daerah yang memiliki potensi wisata agar lebih kreatif dan inovatif untuk mengembangkan daerahnya menjadi daerah kunjungan wisata yang bisa diandalkan. Tentu jika wisatanya maju akan memberikan kontribusi ekonomi kepada masyarakat sekitar,” sebut Jamaluddin.

Dia menyebutkan bahwa 12 kategori destinasi wisata di Provinsi Aceh telah masuk menjadi nominator Anugerah Pesona Indonesia (API) tahun 2022. Sedangkan pada tahun 2021 Provinsi Aceh memperoleh penghargaan sebagai juara umum API Awards 2021. Sedangkan tahun ini Aceh menjadi tuan rumah API Award 2022, dan berharap bisa mempertahankan prestasi sebagai juara umum.(Cut Nauval Dafistri)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER