BerandaAcehRaih SMSI Aceh Award 2026, Illiza - Wali Kota Penggerak Inovasi Daerah

Raih SMSI Aceh Award 2026, Illiza – Wali Kota Penggerak Inovasi Daerah

Di balik penghargaan itu, ada wajah-wajah warga yang tersenyum karena layanan semakin dekat, anak-anak yang belajar mengenal budayanya, masyarakat yang tumbuh potensinya, dan kota yang semakin hidup karena inovasi.

Sebuah pengakuan hangat telah disematkan pada sosok yang menjadikan pelayanan sebagai panggilan hidup. Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dianugerahi penghargaan bergengsi sebagai Wali Kota Penggerak Inovasi Daerah dalam ajang SMSI Aceh Award 2026.

Penghargaan itu diserahkan di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, pada Sabtu malam (5/9/2026), sebuah momen yang bukan sekadar menandai keberhasilan, melainkan mengukuhkan kehadiran kepemimpinan yang hidup di tengah denyut nadi masyarakat di kota “Serambi Mekkah.”

Penghargaan ini bukanlah hadiah yang jatuh begitu saja dari langit. Ia adalah buah dari ketekunan, kepekaan, dan keberanian untuk memandang masalah bukan sebagai tembok penghalang, melainkan sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Lima program unggulan yang menjadi sorotan utama sekaligus alasan pemberian penghargaan tersebut: mencerminkan wajah Banda Aceh yang baru, kota yang tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga berani melangkah menyapa masa depan dengan inovasi yang menyentuh kehidupan paling dekat warganya.

Pertama, Banda Aceh Academy, sebuah ruang yang dibuka untuk mengasah potensi masyarakat, membuka wawasan, dan menumbuhkan semangat belajar yang tak terbatas. Di sini, inovasi dimaknai sebagai investasi pada manusia, karena pembangunan yang sejati adalah pembangunan manusia itu sendiri.

Kedua, Puskemas Keliling, jawaban nyata atas kerinduan warga akan layanan kesehatan yang tidak hanya ada di gedung-gedung, tetapi hadir di depan pintu rumah mereka. Kesehatan adalah hak setiap warga, dan inovasi ini menjamin tidak ada warga yang tertinggal jauh dari pertolongan.

Ketiga, Seniman Masuk Sekolah, sebuah langkah lembut namun tegas untuk menjaga agar budaya tidak menjadi cerita masa lalu yang kian memudar. Dengan menghadirkan seniman di ruang kelas, anak-anak belajar bahwa identitas mereka adalah kekayaan yang tak ternilai, dan seni adalah bahasa yang menghubungkan generasi.

Keempat, Dokter Saweu Sikula, program yang membawa pelayanan medis mendatangi warga, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. Nama yang sederhana, namun menyimpan makna mendalam: dokter yang datang berkunjung, yang hadir bukan sekadar merawat tubuh, tetapi juga menyejukkan hati warga yang membutuhkan perhatian.

Kelima, penetapan Banda Aceh sebagai Kota Parfum, sebuah gagasan kreatif yang mengangkat potensi lokal menjadi identitas kota sekaligus peluang ekonomi. Dari kearifan lokal, lahir wajah baru kota yang harum namanya, membawa pesan bahwa tradisi dan ekonomi dapat berjalan beriringan.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kadiskominfotik) Banda Aceh, Muhammad Zubir, menyambut penghargaan ini dengan rendah hati. Baginya, apresiasi yang diterima wali kota bukan milik satu orang semata, melainkan milik seluruh warga dan jajaran pemerintahan kota.

“Penghargaan ini milik seluruh warga dan jajaran pemerintahan kota. Kelima program inovasi tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan warga secara nyata, mulai dari pengembangan potensi masyarakat, layanan kesehatan yang semakin dekat, pelestarian budaya, hingga peningkatan kualitas lingkungan kota. Semoga ini menjadi penyemangat untuk terus menghadirkan pelayanan yang lebih baik dan terobosan yang bermanfaat,” ujar Zubir.

Lebih dari sekadar perayaan atas pencapaian, penghargaan ini menjadi titik tolak untuk melangkah lebih jauh. Illiza sebagai Wali Kota Banda Aceh berkomitmen memperluas jangkauan serta meningkatkan kualitas kelima program unggulan tersebut, agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.

Inovasi-inovasi ini tidak dimaksudkan sebagai program sesaat yang hilang berganti musim, melainkan menjadi landasan kokoh bagi pembangunan kota yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.

Yang membuat langkah ini semakin bermakna adalah keterbukaan yang ditawarkan, ruang seluas-luasnya bagi partisipasi masyarakat, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan untuk bersama-sama menumbuhkan ide-ide baru yang kreatif. Sebab, inovasi tidak lahir dari kesendirian, melainkan dari pertemuan gagasan, kerja sama, dan semangat gotong royong yang menjadi napas kehidupan masyarakat Aceh.

Ke depan, Banda Aceh bertekad tumbuh menjadi kota yang tidak hanya unggul dalam pelayanan publik, tetapi juga menjadi cahaya bagi daerah lain, sebuah contoh nyata bahwa inovasi yang berakar pada kebutuhan manusia, pada akhirnya akan menjadi kekuatan yang mengangkat derajat kota dan warganya.

SMSI Aceh Award 2026 hanyalah satu halaman dalam kisah panjang perjalanan itu. Di balik penghargaan itu, ada wajah-wajah warga yang tersenyum karena layanan semakin dekat, anak-anak yang belajar mengenal budayanya, masyarakat yang tumbuh potensinya, dan kota yang semakin hidup karena inovasi.

Dan di tengah semua itu, ada satu keyakinan: ketika pemimpin bergerak dengan hati, dan masyarakat berpartisipasi dengan semangat, maka Banda Aceh tak hanya akan bersinar sebagai kota yang indah, tetapi juga sebagai kota yang penuh kasih, inovatif, dan sejahtera. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER