“SMSI Aceh Award 2026 menempatkan nama H. Zulkifli H. Adam sebagai salah satu tokoh yang dinilai berperan dalam menggerakkan pariwisata dan pembangunan di Kota Sabang”
Dari ujung barat Indonesia, Sabang menyimpan modal yang tak dimiliki banyak daerah, laut yang membentang luas, pulau-pulau kecil, pantai, serta lanskap alam yang sejak lama menjadi magnet wisatawan.
Namun keindahan alam saja tidak cukup untuk membangun sebuah kota. Di balik panorama yang mengundang orang datang, ada masyarakat yang membutuhkan pekerjaan, rumah yang layak, layanan kesehatan, pendidikan dan ruang ekonomi.
Di situlah ikhtiar Wali Kota Sabang, H. Zulkifli H. Adam, menemukan arahnya. Ia ingin pariwisata tidak berhenti sebagai urusan mendatangkan wisatawan. Pariwisata harus menjadi penggerak ekonomi sekaligus membuka jalan bagi kesejahteraan masyarakat.
Atas ikhtiar tersebut, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Aceh menganugerahkan SMSI Aceh Award 2026 kategori Tokoh Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Aceh kepada Zulkifli H. Adam. Penghargaan itu diterima langsung Zulkifli dalam Malam Anugerah SMSI Aceh Award 2026 di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Sabtu malam (5/9/2026).
Ketua Umum SMSI Pusat, Firdaus, bersama Ketua SMSI Aceh, Aldin NL, menyerahkan penghargaan tersebut.
Penghargaan itu datang ketika Zulkifli tengah memimpin kembali kota Sabang. Bersama Wakil Wali Kota Suradji Junus, ia kembali dipercaya masyarakat melalui jalur perseorangan atau independen. Pada masa sebelumnya, yakni tahun 2012—2017, Zulkifli H Adam juga pernah memimpin sebagai Wali Kota Sabang. Kemudian dia maju lagi pada Pilkada 2024, dan kembali terpilih.
Keduanya dilantik pada 14 Juni 2025 sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sabang periode 2025-2030. Mandat tersebut membawa pekerjaan besar. Sabang harus terus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata, tetapi pada saat yang sama pembangunan harus menjangkau masyarakat yang hidup jauh dari pusat kota.
Bagi Zulkifli, membangun kota wisata bukan hanya mempercantik destinasi.
Ada pekerjaan yang lebih mendasar: memastikan tata kelola pemerintahan berjalan baik, pelayanan publik hadir dan masyarakat ikut menikmati geliat ekonomi yang muncul dari sektor pariwisata. Karena itu, pembangunan di Sabang bergerak dalam sejumlah bidang.
Pemerintah Kota Sabang mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk ke-14 kalinya secara berturut-turut. Sejumlah penghargaan juga diraih dalam penanggulangan kemiskinan, Universal Health Coverage (UHC), keterbukaan informasi publik, percepatan pelayanan perizinan hingga pengelolaan lingkungan.
Bagi sebuah kota kecil di ujung barat Indonesia, capaian itu menjadi bagian dari upaya membangun fondasi pemerintahan yang sehat.
Namun pembangunan tidak berhenti di atas laporan dan penghargaan. Di kawasan pesisir, pemerintah membangun desa nelayan di tiga kawasan dan menyediakan 100 rumah bagi nelayan.
Sebanyak 724 unit Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) juga memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang lebih layak.
Di bidang pendidikan, program wajib belajar 12 tahun didorong untuk memastikan anak-anak Sabang mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih panjang. Pencegahan stunting, subsidi energi dan layanan kesehatan juga menjadi bagian dari agenda pembangunan.
Semua itu bermuara pada satu hal, bagaimana pertumbuhan sebuah kota wisata tidak meninggalkan orang-orang yang sejak awal tinggal dan menggantungkan hidup di sana.
Sabang Tak Cukup Hanya Menjadi Destinasi
Tantangan berikutnya adalah bagaimana Sabang keluar dari ketergantungan pada sektor kunjungan wisata. Karena itu, pengembangan sektor lain menjadi penting.
Rumah Sakit Terpadu Sabang berhasil masuk dalam daftar peluang investasi nasional. Masuknya proyek tersebut membuka kemungkinan baru bagi Sabang. Kota ini tidak hanya dipersiapkan sebagai tempat orang berlibur, tetapi juga sebagai pusat layanan dan aktivitas ekonomi di kawasan barat Indonesia.
Bagi Zulkifli, investasi dan pariwisata seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya harus saling menguatkan. Destinasi yang hidup membutuhkan infrastruktur. Investasi membutuhkan pelayanan publik. Dan pertumbuhan ekonomi membutuhkan masyarakat yang memiliki akses terhadap pekerjaan serta layanan dasar.
Karena itu, pembangunan Sabang tidak semata-mata diukur dari berapa banyak wisatawan yang datang. Tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang tinggal di tengah masyarakat.
Sabang memiliki keunggulan sekaligus kerentanan yang sama: alam. Keindahan alam menjadi modal utama pariwisata, tetapi kerusakannya juga dapat mengancam masa depan sektor tersebut.
Karena itu, pembangunan dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan. Zulkifli menghadapi tantangan untuk membuka ruang bagi investasi dan pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian alam.
Sebanyak 20 tokoh dan institusi menerima penghargaan dari SMSI Aceh. Mereka berasal dari berbagai bidang, mulai pemerintahan, legislatif, penegakan hukum, dunia usaha, energi, sosial kemasyarakatan hingga kemanusiaan.
Malam itu juga dirangkai dengan pelantikan Pengurus SMSI Aceh periode 2026-2030, serta penampilan seni Sanggar Cut Nyak Dhien dan pertunjukan musik Origon. (*)



