Senin, Juni 24, 2024
Google search engine
BerandaAcehProf. Hamid Sarong: Bangsa Ini Kehabisan Tenaga Berdebat Hal yang Tak Perlu

Prof. Hamid Sarong: Bangsa Ini Kehabisan Tenaga Berdebat Hal yang Tak Perlu

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Konflik akan selalu terjadi jika masyarakat hanya melihat perbedaan dan kesalahan orang atau kelompok lain. Padahal, tanda bangsa yang maju adalah ketika berhasil menjalin rekonsiliasi antar generasinya.

Demikian diungkapkan T.Sulaiman Badai, mantan Ketua DPP Koniry Aceh, dalam seminar kebangsaan bertema, “Penguatan Wawasan Kebangsaan sebagai Landasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Aceh dalam Bingkai NKRI,” di Aula Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Kamis (28/11/2019).

“Selama rekonsiliasi belum terjadi, sulit bagi negara untuk melakukan lompatan perubahan seperti yang dicita-citakan dalam konstitusi negara,” ujar Sulaiman.

Dia juga mengaku prihatin dengan perilaku elit politik yang tidak solutif menghadapi persoalan masyarakat. Alih-alih mencari jalan tengah, para elit malah senang memanas-manasi.

“Mereka lebih suka membenturkan realitas dan harapan masyarakat, lalu menggiringnya agar terlibat dalam konflik kepentingan mereka,” kata Sulaiman.

Jika terus larut dalam situasi seperti ini, katanya, dikhawatirkan masyarakat Aceh jadi lupa pada persoalan utama mereka, yakni angka kemiskinan yang kian akut.

Karena itu, Sulaiman mengimbau semua pihak lebih baik fokus mengawal berbagai terobosan pemerintah, seperti di bidang pendidikan. Diantaranya dengan mengangkat anak muda inovatif sebagai menteri. Menurutnya ini penting untuk mengakselerasi kualitas pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Belajar Mengelola Keberagaman

Wakil Ketua FKUB (Forum Kerukunan Ummat Beragama) Aceh, Prof. Hamid Sarong, dalam diskusi itu mengingatkan masyarakat tidak lagi menghabiskan energi untuk berdebat pada persoalan yang tidak prinsipil.

“Masyarakat dipertentangkan tentang isu-isu lama yang menyebabkan terjadi silang pendapat dan perpecahan dalam masyarakat,” katanya.

Padahal keragaman itu, sambung Hamid, merupakan peluang untuk belajar saling mengenal pikiran-pikiran lain. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini ialah kemampuan mengelola keragaman tersebut.

“Dan ternyata banyak orang yang kurang pengetahuan yang mendominasi wacana ini (isu-isu lama) dan kemudian memprovokasi masyarakat,” sesalnya.

Dia juga menyebut bahwa ceramah dan pengajian saat ini lebih banyak membicarakan heroisme Islam di masa lalu, namun materi yang menyentuh isu-isu terkait dengan kepentingan masyarakat Muslim masih sedikit sekali.

“Bicarakan lah tentang kemiskinan, mewujudkan kesejahteraan dan lain-lain,” pungkasnya. (Fuadi)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER