Minggu, Mei 26, 2024
Google search engine
BerandaWisata & TravelPetugas Humanis di Bandara Changi Singapura

Petugas Humanis di Bandara Changi Singapura

Ada satu cerita nyata nan lucu di Bandara Changi Singapura (Changi Singapore). Kejadiannya di bulan Ramadhan 3 tahun yang lalu (2019). Dua teman yang tinggal di Medan berangkat ke Singapura. Ini merupakan perjalanan mereka untuk pertama kali ke luar negeri.

Dinamakan Bandara Changi karena bandara ini terletak di daerah Changi di bagian timur Negara Singapura. Bandara Changi salah satu bandara tersibuk di dunia, yang menjadi hub dengan fasilitas penerbangan terbaik di dunia.

Di tengah kemajuan ekonomi, teknologi dan banyaknya gedung pencakar langit, Singapura tetap menjadi negara yang tidak melupakan akar sejarahnya.

Nama tempat dengan cerita dan sejarah lokalitasnya tetap dipertahankan. Nama-nama kota atau daerah di sana masih menggunakan nama-nama lama, seperti Bukit Batok, Bukit Merah, Bukit Panjang, Bukit Timah, Sungai Kadut, Museum, Tengah, Paya Lebar, dan masih ada beberapa nama lainnya. Tidak hanya itu, bangunan-bangunan tua masih tetap dipertahankan.

Kembali ke cerita teman tadi. Keduanya nekat ke Singapura walaupun tidak bisa berbahasa Inggris. Keduanya berangkat dengan tujuan untuk membantu usaha bisnis teman mereka di Singapura. Teman mereka adalah warga negara Singapura yang pernah tinggal di Indonesia.

Sesampai di Bandara Changi, keduanya diinterogasi oleh petugas bandara. Ditanya oleh dua orang petugas dalam bahasa Inggris, apa tujuan mereka datang ke Singapura. Kedua teman ini terdiam dan bingung. Keduanya saling lirik, tidak tahu mau jawab apa, karena keduanya tidak bisa bahasa Inggris.

Dalam pikiran mereka,”Waduh, mati aku.” Akhirnya salah satu dari mereka bicara, memaksakan diri dengan bahasa Inggris yang super terbata-bata. Yang penting nekat! Bingung juga dia mengungkapkan kalimatnya. Tambah ia bicara, malah petugas bandara bertambah bingung.

Karena melihat temannya terbata-bata waktu bicara, teman yang satu ingin membantu dengan nekat juga berbahasa Inggris yang juga super terbata-bata. Keduanya bicara silih-berganti. Makin keduanya bicara, semakin bertambah bingung kedua petugas. Lalu teman yang pertama bicara menyampaikan ke temannya,”Pening aķu lihat kau bicara. Diam aja kau! Biar aku aja yang ngomong.” Agak lumayan lama juga mereka diinterogasi.

Berhubung tidak mendapat jawaban, akhirnya kedua petugas memanggil satu orang rekannya etnis Melayu untuk bantu menginterogasi. Sungguh menarik pendekatan yang digunakan oleh petugas etnis Melayu. Dia bertanya dengan lembut, terlebih dahulu memperkenalkan diri dalam bahasa Melayu sebagai petugas yang beragama Islam.

Kira-kira ungkapannya,” Boleh tak nak tahu wat pegi ke Singapore? Kite sesame Islam tak baik menipu, lagilah masa Ramadhan. Kite akan berdosa kalau menipu.”

Mendengar ungkapan ini, akhirnya kedua teman tadi bicara sejujurnya apa tujuan mereka ke Singapura. Lalu mereka minta maaf. Akhirnya kedua teman tadi diizinkan masuk ke Singapura dengan batasan waktu.

Bukankah ini salah satu pendekatan humanis yang diterapkan di Bandara Changi? (Teuku Cut Mahmud Aziz)

  • Penulis adalah Dosen FISIP Universitas Almuslim
BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER