Banda Aceh (Waspada Aceh) – Perempuan dan anak muda didorong tidak hanya menjadi penerima manfaat dalam dunia kerja, tetapi juga berperan aktif dalam memperjuangkan hak dan menentukan kebijakan ketenagakerjaan yang adil dan inklusif.
Dorongan itu mengemuka dalam Workshop Pekerjaan Layak (Decent Work) bagi Perempuan dan Orang Muda yang Adil dan Inklusif yang digelar Flower Aceh bersama sejumlah mitra di Desa Mon Ikeun, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Jumat (4/9/2026).
Direktur Flower Aceh, Riswati, mengatakan pekerjaan layak tidak sekadar menyangkut kesempatan mendapatkan pekerjaan. Lebih dari itu, pekerjaan layak mencakup pemenuhan hak, perlindungan, keamanan, kesetaraan, serta kesempatan untuk berkembang.
“Perempuan dan anak muda harus ditempatkan sebagai subjek dalam dunia kerja, bukan sekadar sebagai penerima manfaat. Mereka harus memiliki ruang untuk bersuara, mengambil keputusan, memimpin, dan mendapatkan perlindungan atas hak-haknya,” kata Riswati.
Menurut Riswati, perempuan dan pekerja muda masih menghadapi berbagai persoalan di dunia kerja, antara lain diskriminasi, ketimpangan kesempatan, lingkungan kerja yang tidak aman, hingga minimnya pemahaman terhadap hak-hak ketenagakerjaan.
Karena itu, literasi mengenai pekerjaan layak dinilai penting agar perempuan dan anak muda mampu mengenali hak mereka dan memperjuangkannya secara konstruktif.
“Forum seperti ini diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi dapat melahirkan gagasan dan aksi nyata yang berdampak langsung terhadap kehidupan perempuan dan pekerja muda,” ujarnya.
Workshop tersebut dilanjutkan dengan Forum Group Discussion (FGD) bertema “Kepemimpinan Perempuan dan Pekerja Muda untuk Dunia Kerja yang Adil dan Inklusif”.
FGD diikuti lebih dari 50 peserta yang berasal dari Forum Perempuan Akar Rumput. Sejumlah narasumber hadir dalam forum tersebut, yakni Amrina Habibi, Reza, T. Ayatullah Bani Baeit, dan Maqbul. Diskusi dimoderatori Margvirah dengan Riswati sebagai fasilitator.
Kegiatan menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk memahami hak-hak pekerja sekaligus memperkuat kapasitas kepemimpinan perempuan dan anak muda dalam menghadapi tantangan dunia kerja.
Workshop tersebut merupakan kolaborasi Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Program Studi Sosiologi Agama (SA), Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Ar-Raniry, Himpunan AFI, Sekolah HAM Perempuan Flower Aceh, Flower Aceh, serta Inspire Asia-WSM Belgia.
Pentingnya jaminan sosial pekerja
Dalam kegiatan itu, Muhammad Reza, Account Representative Khusus Kantor BPJS Ketenagakerjaan Banda Aceh, turut menjelaskan pentingnya perlindungan jaminan sosial bagi pekerja.
Menurut dia, jaminan sosial ketenagakerjaan memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko sosial dan ekonomi pekerja, termasuk risiko kecelakaan kerja dan kematian sesuai program yang diikuti peserta.
“Semakin banyak pekerja yang terlindungi, semakin kuat pula fondasi kesejahteraan masyarakat,” kata Reza.
Ia mengatakan perluasan kepesertaan, terutama bagi pekerja sektor informal dan pelaku usaha mikro, membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Monitoring dan evaluasi serta penguatan jejaring di tingkat masyarakat, kata dia, penting untuk memperluas edukasi sekaligus akses masyarakat terhadap program jaminan sosial ketenagakerjaan.
Menurut Reza, perluasan kepesertaan tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya jumlah peserta, tetapi juga memastikan masyarakat memahami manfaat jaminan sosial dan menjadikannya sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Dunia kerja aman dan bebas eksploitasi
Ketua panitia workshop, Rizky A. Nasution, yang juga peserta magang di Flower Aceh, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat mendukung terwujudnya perlindungan sosial yang menyeluruh serta lingkungan kerja yang aman.
“Pekerja muda dan perempuan dapat bekerja dalam kondisi yang terlindungi dari eksploitasi, memiliki kepastian jaminan kesehatan serta masa depan, dan terbebas dari ancaman kekerasan maupun pelecehan di tempat kerja,” ujar Rizky.
Menurut dia, perlindungan terhadap pekerja merupakan bagian dari upaya memperkuat pemenuhan hak asasi manusia dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Rizky menilai dunia kerja yang adil bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu. Mahasiswa dan generasi muda juga memiliki peran dalam mendorong perubahan sosial.
“Pekerjaan yang layak bukan semata-mata tentang mendapatkan pekerjaan, tetapi tentang bagaimana seseorang dapat bekerja dengan aman, dihargai, mendapatkan perlindungan, memiliki kesempatan yang setara, serta terbebas dari diskriminasi, kekerasan, dan eksploitasi,” katanya.
Ia mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menjadi pengalaman penting untuk membangun kesadaran kritis mengenai hak-hak pekerja.
“Dunia kerja yang adil bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu. Ini merupakan tanggung jawab bersama, termasuk mahasiswa sebagai generasi yang akan menjadi bagian dari dunia kerja sekaligus sebagai kelompok yang dapat mendorong perubahan sosial,” ujarnya. (*)



