BerandaAcehPengusaha Said Zulhasri Bantu Atasi Persoalan Air Bersih di Lokasi Pengungsian Aceh...

Pengusaha Said Zulhasri Bantu Atasi Persoalan Air Bersih di Lokasi Pengungsian Aceh Tamiang

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Pascabencana yang melanda wilayah Aceh Tamiang, puluhan pengungsi di hunian sementara (huntara) Batang Ara, Kecamatan Bandar Pusaka, harus bertahan di tengah keterbatasan akses air bersih.

Selama sekitar tiga bulan terakhir, sebanyak 20 kepala keluarga di lokasi tersebut kesulitan memperoleh air layak pakai. Air sumur bor yang tersedia dalam kondisi keruh, berwarna kuning, serta berbau karat sehingga tidak dapat digunakan secara maksimal untuk kebutuhan sehari-hari.

Kondisi itu membuat para pengungsi harus mengambil air bersih sejauh sekitar 600 meter. Untuk mandi dan kebutuhan MCK lainnya, sebagian warga bahkan terpaksa menggunakan fasilitas di masjid sekitar.

Melihat kondisi tersebut, seorang pengusaha di Banda Aceh, Said Zulhasri membantu mengatasi persoalan air bersih di kawasan huntara tersebut. Said menyebut, upaya itu bermula saat dirinya dihubungi pimpinan BNPB, Berton Panjaitan, untuk melakukan pengolahan air di lokasi pengungsian.

Said mengatakan, komunikasi tersebut bermula atas rekomendasi Prof. M. Dirhamsyah yang memberikan nomor kontak dirinya kepada Berton Panjaitan untuk membantu penanganan air bersih di lokasi pengungsian.

“Beliau menanyakan apakah saya sanggup membantu pengolahan air di sana. Saya jawab, Insya Allah sanggup,” ujar Said kepada Waspadaaceh.com, Minggu (17/5/2026).

Berbekal pengalaman puluhan tahun di bidang water treatment, owner Monmata itu bersama tim langsung bergerak menuju Aceh Tamiang pada 9 Mei 2026.

Perjalanan menuju lokasi huntara tidak mudah. Said dan tim harus menggunakan sepeda motor, menyeberang menggunakan getek, hingga melewati jembatan gantung untuk mencapai titik pengungsian.

“Medannya cukup menantang dan memacu adrenalin,” katanya.

Setibanya di lokasi, proses pengerjaan instalasi pengolahan air dimulai pada 10 Mei 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Hanya dalam waktu sekitar empat jam, warga huntara mulai mendapatkan akses air bersih.

“Pukul 18.00 masyarakat sudah mendapat air bersih,” ujarnya.

Pengerjaan instalasi tersebut rampung sepenuhnya pada 14 Mei 2026. Setelah selesai dipasang, alat pengolahan air itu kemudian dioperasikan oleh salah seorang ibu penghuni huntara yang telah mendapat pelatihan langsung dari Said dan tim.
Kini, para pengungsi tak lagi harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih.

“Saat ini mereka tinggal membuka kran di hunian masing-masing,” kata Said.

Ia mengatakan, proses penjernihan dilakukan melalui empat tahap filtrasi dengan memadukan teknologi penyaring terbaru.

Said Zulhasri telah menekuni bisnis pengolahan air (water treatment) sejak 1994 saat bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Pada 2006, ia mendirikan mini pabrik air minum Mon Mata. Kemudian pada 2019, ia meluncurkan produk air minum pH 7 dengan kandungan oksigen tinggi.

Ia juga memperlihatkan perbedaan kondisi air sebelum dan sesudah proses penyaringan, termasuk perubahan nilai Total Dissolved Solid (TDS) yang menunjukkan peningkatan kualitas air secara signifikan.

Sebelum melalui proses penyaringan, nilai TDS air berada di angka 189 mg/liter. Setelah dilakukan pengolahan, nilainya turun menjadi 91 mg/liter yang menandakan kualitas air jauh lebih jernih dan layak dikonsumsi.

Said menyebut, sistem pengolahan air yang digunakan merupakan perangkat miliknya sendiri dengan teknologi penyaringan yang telah lama ia kembangkan.

Alat yang dirakit tersebut merupakan teknologi tepat guna yang dirancang agar mudah dalam perawatan maupun pengoperasiannya.

Teknologi karya anak Aceh itu bahkan mendapat respons positif dari warga karena dinilai mampu menghasilkan kualitas air terbaik di kawasan huntara tersebut.

Tak hanya dimanfaatkan penghuni huntara Batang Ara, air bersih dari instalasi itu kini juga mulai digunakan warga di sekitar lokasi pengungsian. Kehadiran fasilitas tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa karya dan kemampuan anak Aceh mampu menjawab persoalan dasar masyarakat di tengah kondisi bencana.

Atas kerja keras tersebut, tim BNPB yang terdiri dari Berton Panjaitan, Bulu, dan Riswandi disebut sangat mengapresiasi hasil kerja nyata yang dilakukan Said Zulhasri bersama tim di lokasi pengungsian.

Dedikasi Said dalam membantu penyediaan air bersih di wilayah terdampak bencana juga disebut membuka peluang dirinya dipercaya menangani pengolahan air di sejumlah titik lainnya.

Kini, sebanyak 20 kepala keluarga di huntara Batang Ara dapat menikmati akses air bersih langsung dari kran di hunian mereka masing-masing.

Kehadiran instalasi pengolahan air tersebut tidak hanya membantu kebutuhan sehari-hari warga, tetapi juga memberi rasa lega bagi para pengungsi yang selama berbulan-bulan hidup dalam keterbatasan pascabencana.

Said juga mengembangkan alat penjernih air portable multifungsi yang dapat digunakan untuk menghasilkan air bersih maupun air minum. Total terdapat tujuh unit alat yang telah disalurkan, masing-masing dua unit di Aceh Tamiang, empat unit di Bireuen, dan satu unit di Pidie Jaya. Dengan daya listrik rendah, alat tersebut mampu menghasilkan air minum setara reverse osmosis (RO).

Bagi masyarakat atau pihak yang membutuhkan layanan pengolahan air bersih dapat menghubungi Said Zulhasri di nomor +62 852-7777-7366. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER