Pembelajaran Berbasis Outdoor Jadi Solusi di Tengah Pandemi

    BERBAGI
    Anak-anak TK IT Syeikh Abdurrauf saat melakukan pembelajaran outdoor di komplek Pelabuhan Ulee Lheue. (Foto/Kia)

    Di bawah pepohonan rindang dengan hembusan angin sepoi-sepoi, tampak anak-anak TK sedang bermain dipandu para guru mereka. Anak-anak dan guru bernyanyi bersama. Sesekali terdengar suara tertawa lepas di sekitar areal Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, tersebut.

    Anak-anak tampak berbaris melingkar sambil berpegangan tangan satu sama lain dan tidak boleh lepas. Selang empat anak diisi oleh guru yang juga ikut dalam permainan tradisional itu. Memainkannya pun cukup sederhana, sehingga para guru tidak rumit untuk menjelaskanya. Hanya dengan menutup mata sambil menebak seseorang yang berada di dalam lingkaran.

    Dalam lingkaran tersebut terdapat satu orang yang berdiri di tengah sambil menutup mata dengan kain.  Dengan mata tertutup, anak yang berdiri di tengah lingkaran dia harus bisa menebak dengan tepat, orang yang dia sentuh berada di barisan lingkaran.

    Permainan dimulai dengan berjalan melingkar, sambil menyanyikan lagu bersamaan sampai berakhirnya lagu. Dengan berjalan melingkar terjadi perubahan posisi dari posisi pertama, sehingga tidak mudah untuk ditebak.

    Saat anak yang berada di tengah lingkaran mampu menebak dengan tepat, maka dia pun digantikan oleh anak yang berhasil dia tebak. Seketika itu pula terdengar suara tertawa lepas yang memecah keheningan menjadi ramai dan riuh kembali.

    Kemudian, salah satu guru memberikan sebuah aba-aba tentang kegiatan selanjutnya. Para siswa dianjurkan untuk mengumpulkan sampah dan ranting-ranting kayu yang ada di sekitar areal pelabuhan.

    Setelah itu anak-anak pun berlanjut pada kegiatan inti, dibawa ke Pelabuhan Ulee Lheue, tepat di tengah taman penambatan kapal.

    Anak-anak dengan serius mengamati bentuk sebuah kapal. Anak-anak TK ini beserta gurunya dipandu seorang petugas pelabuhan yang memberikan penjelasan tentang pelabuhan tersebut.

    Kepala TK IT Syeikh Abdurrauf, Dina Fajria, kepada Waspadaaceh.com, Jum’at (15/10/2021) mengatakan, pandemi COVID-19 membuat beberapa guru dan kepala sekolah memutar otak untuk mengubah konsep belajar.

    Tak terkecuali TK IT Syeikh Abdurrauf Jl. Sultan Iskandar Muda Blang Oi Kec. Meuraxa Kota Banda Aceh ini juga mengalami hal yang sama.

    “Kegiatan kita hari ini sebenarnya sedang menjalankan salah satu project dari program TK kita, yaitu tentang kendaraan laut, macam-macam kendaraan laut, serta melihat jenis-jenis kapal. Karena nanti anak-anak akan membuat model kapal, jadi sebelumnya kita sudah perkenalkan lewat video juga. Saat ini anak-anak dituntut untuk mengamati sebuah benda sebelum membuatnya,” ucap Dina.

    Pemilihan tempat dalam menjalankan sebuah project di tengah pandemi, sebut Dina, merupakan hal yang sangat penting, agar anak didiknya bisa mengamati sebuah benda, alam, tanpa harus berinteraksi dengan orang lain.

    Apalagi, sebut Dina, selama Banda Aceh masuk dalam level tiga, sebagian sekolah sudah melaksanakan proses pembelajaran secara langsung atau tatap muka. Walaupun demikian, meski kini zona kuning, di Aceh belum termasuk zona yang aman karena masih ada pembatasan sekolah harus dibagi dalam dua shift.

    Pihaknya berinisiatif untuk melakukan kegiatan pembelajaran outdoor untuk mencegah penularan virus, sekaligus menjalankan projectnya.

    “Anak-anak tampak menikmati saat-saat bersama temannya yang telah lama pakum,” sebutnya. (Kia Rukiah)

    BERBAGI