BerandaAcehMeniti di Atas Air: Kisah Perjuangan Anak-Anak Plu Pakam Aceh Utara

Meniti di Atas Air: Kisah Perjuangan Anak-Anak Plu Pakam Aceh Utara

“Pernah suatu ketika tali penarik putus di tengah sungai. Perahu terbalik dan anak-anak jatuh berhamburan ke air”

Kabut tipis masih menyelimuti permukaan Krueng Keureuto di Aceh Utara, saat matahari baru mulai menyapa bumi. Di tepian Dusun Biram, Desa Plu Pakam, suara riuh rendah anak-anak memecah kesunyian pagi.

Puluhan bocah berseragam rapi berdiri berjejer, menanti giliran mereka menyeberang. Di hadapan mereka terbentang sungai selebar 100 meter yang menjadi satu-satunya penghalang menuju gerbang ilmu pengetahuan.

Tanpa jembatan, tanpa fasilitas yang memadai, harapan mereka bertumpu pada sebuah perahu fiber sederhana yang bergerak bergantung pada seutas tali tambang melintang di atas air. Setiap pagi, perahu kecil itu memuat beban berat: bukan hanya tubuh anak-anak, melainkan mimpi-mimpi besar yang ingin mereka gapai.

Kepala Dusun Biram, Nariman, menatap perahu itu dengan mata yang penuh cerita. Ia menjelaskan, setiap harinya tidak kurang dari 40 pelajar mulai dari TK hingga SMA harus menempuh jalur berbahaya ini. Mayoritas dari mereka adalah siswa SD Negeri 7 Blang Paya Bakong.

“Pernah suatu ketika tali penarik putus di tengah sungai. Perahu terbalik dan anak-anak jatuh berhamburan ke air,” kisah Nariman dengan nada berat.

“Beruntung saat itu debit air sedang rendah, sehingga tidak ada nyawa yang melayang. Tapi seragam basah kuyup, buku-buku hancur terendam lumpur. Itu adalah saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah pendidikan di sini.”

Bagi anak-anak ini, menyeberangi sungai yang berpotensi membahayakan nyawa adalah rutinitas harian. Pilihan lain memang ada, namun terasa mustahil. Jika ingin lewat jalur darat yang aman, mereka harus memutar jalan sejauh puluhan kilometer. Jarak yang terlalu jauh untuk ditempuh sepeda kecil di kaki mereka.

Yang membuat hati semakin terharu, fasilitas seadanya ini bukanlah pemberian negara, melainkan hasil gotong royong warga sejak tahun 2005. Setiap siswa rela menyisihkan uang saku sebesar Rp2.000 untuk biaya operasional perahu, demi satu tiket menuju sekolah.

Menanti Jembatan Harapan

Bagi warga Plu Pakam, sebuah jembatan bukan sekadar tumpukan beton dan besi. Ia adalah urat nadi kehidupan, jalan penghubung masa depan.

“Kami sudah berkali-kali mengajukan permohonan. Sudah dua kali tim dari kabupaten datang meninjau lokasi, tapi sampai sekarang hanya tinggal janji manis,” ujar Nariman.

“Kami berharap para pemangku kebijakan bisa melihat dan merasakan langsung. Jangan tunggu ada korban jiwa yang melayang dulu baru ada tindakan nyata,” pintanya.

Keprihatinan juga terdengar dari pihak sekolah. Guru SD Negeri 7, Rina Fariani, mengaku prihatin melihat kondisi muridnya. Dari total 201 siswa, 30 orang di antaranya berasal dari desa ini dan paling terdampak.

“Seringkali mereka datang dengan celana basah karena terpeleset di bantaran sungai. Keterlambatan sudah menjadi hal yang lumrah karena harus berjalan kaki sejauh 600 meter setelah mendarat. Apalagi saat hujan deras dan arus sungai mengamuk, banyak bangku kelas yang kosong melompong karena mereka takut menyeberang,” tutur Rina.

Di tengah keterbatasan dan risiko yang mengintai, semangat belajar anak-anak ini tak pernah padam. Mereka membuktikan bahwa tekad yang kuat mampu mengalahkan segala rintangan.

Kini, tinggal harapan besar yang menggantung, menunggu kepedulian untuk hadir menjemput mereka, sebelum terlambat. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER