Beranda Laporan Khusus Melirik Produk-produk IKM Aceh di Pasar Swalayan atau Mini Market

Melirik Produk-produk IKM Aceh di Pasar Swalayan atau Mini Market

BERBAGI
Produk IKM Aceh tersedia di salah satu toko swalayan di Aceh. (Foto/Cut Nauval Dafistri)

“Saya mengimbau para pelaku bisnis seperti pemilik kafe, mini market maupun swalayan yang ada di Aceh agar dapat menampung produk-produk lokal”

— Kadis Perindag Mohd Tanwier —

Untuk mendukung peningkatan perekonomian daerah, produk lokal, khususnya yang diproduksi IKM (Industri Kecil Menengah), tentu harus ditumbuh-kembangkan. Sebab bila aktivitas IKM di Aceh berjalan lancar, maka roda ekonomi masyarakat juga akan tumbuh dan berkembang.

Pemerintah Aceh melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, memang telah berusaha untuk membangkitkan kembali aktivitas dan produktivitas IKM dan UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah), yang semasa pandemi COVID-19 ini banyak yang terpuruk. Berbagai upaya dilakukan, baik melalui skema permodalan mapun akses pasar.

Terkait akses modal, Pemerintah Aceh melalui bank daerah, yaitu Bank Aceh Syariah, belum lama ini mendapat kepercayaan dari Kementerian Koperasi dan UMKM, untuk menyalurkan bantuan bagi pelaku usaha mikro melalui program BPUM (Bantuan Produktif Usaha Mikro).

Penandatanganan perjanjian kerjasama dilakukan oleh Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM, Eddy Satriya dan Direktur Utama PT Bank Aceh Syariah, Haizir Sulaiman di Jakarta pada 6 April 2021.

Sedangkan untuk akses pasar, saat ini produk-produk tersebut sudah tersedia di toko-toko swalayan, mini market, dan di beberapa kafe serta warkop (warung kopi) di seluruh Aceh. Pantauan Waspadaaceh.com, Selasa (18/5/2021), produk lokal tersebut sudah tersedia di Indomaret, jaringan mini market terbesar di Indonesia. Mini market ini menyediakan sebuah etalase untuk menampung serta menjual produk hasil usaha kreatif para pelaku IKM dan UMKM.

Sebuah etalase yang menampung produk-produk IKM Aceh di salah satu toko swalayan. (Foto/Cut Nauval Dafistri)

Aneka produk pangan olahan, baik makanan dan minuman, yang diproduksi pelaku usaha lokal tampak semakin beragam dan inovatif. Beberapa jenis produk itu antara lain gula aren, kopi biji/bubuk, kopi siap saji (cair), produk makanan ringan, abon ikan tuna, dan berbagai jenis produk olahan lainnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadis Perindag) Aceh, Mohd Tanwier mengatakan, saat ini di Aceh terdapat sekitar 41.675 IKM. Sektor IKM tersebut, kata Mohd Tanwier, selama ini memberi kontribusi cukup besar dalam menggerakkan ekonomi dan menyediakan lapangan kerja di Aceh.

Salah satu upaya untuk tetap menghidupkan sektor industri kreatif dan UMKM di masa pandemi COVID-19, kata Kadis Perindag Aceh, yakni dengan mengajak para pelaku bisnis lainnya, khususnya di sektor ritel, agar menyediakan rak atau etalase untuk menampung produk-produk lokal tersebut.

“Saat ini ada 41.675 IKM di Aceh, dari sekian banyak IKM ada setengahnya yang aktif. Nah, kenapa aktif dan kenapa pasif, ini juga terkendala di pemasaran. Makanya kita carikan solusi yang kreatif dengan program pojok kreatif dan kemitraan dengan usaha-usaha ritel yang ada di Aceh,” kata Mohd Tanwier kepada Waspadaaceh.com, Rabu (19/5/2021).

“Saya mengimbau para pelaku bisnis seperti pemilik kafe maupun swalayan yang ada di Aceh agar dapat menampung produk-produk lokal. Ada tempat-tempat untuk perjualan produk, sehingga bisa memancing kreatifitas masyarakat, khususnya pelaku IKM,” jelasnya.

Kepala Disperindag ini mengatakan, program tersebut sudah dilaunching di Aceh Utara, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Banda Aceh serta kabupaten lainnya. Dia mengatakan, untuk mendukung program tersebut belum tersedia anggaran khusus, untuk itu Disperindag menggandeng para pengusaha kafe, mini market dan swalayan dalam bentuk kemitraan.

Menurutnya, program tersebut bisa berjalan, karena pengusaha kafe dan mini market atau swalayan, hanya menyediakan wadah sederhana di tempat usaha tersebut untuk memajang dan menjual berbagai hasil usaha produk IKM dan UMKM.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Ir.Mohd Tanwier. (Foto/Cut Nauval Dafistri)

Kata Kadis Perindag, skema ini akan memberi keuntungan bagi kedua belah pihak. Baik bagi pelaku IKM karena produknya bisa terjual dan dikenal, mau pun bagi pengusaha kafe, mini market atau swalayan, karena bila produknya terjual, mereka juga akan memperoleh margin (keuntungan). Ibarat “simbiosis mutualisme”.

“Kreatifitas ini bisa ditampung di beberapa tempat, dan program ini sudah launching. Pasca lebaran ini akan dibuka pojok kreatif di beberapa kafe lainnya, seperti di The Gade Cafe, Sepetak dan Dhapu Kupi,” lanjut Mohd Tanwier.

Dia mengatakan, tersedianya pojok kreatif yang memajang produk lokal IKM-UKM ini untuk memperlancar penjualan produk lokal yang nantinya bisa menjadi daya tarik tersediri bagi para konsumen.

Dia menambahkan pentingnya langkah-langkah untuk memajukan usaha kecil dan menengah di daerah agar perekonomian dapat tumbuh dengan baik. Di antaranya adalah terbukanya peluang dan akses pasar, juga sebagai salah satu usaha promosi sehingga produk Aceh bisa lebih dikenal dan menjadi motivasi bagi pengusaha industri kecil di daerah. (Cut Nauval Dafistri)