Beranda Opini Melihat Pendidikan Tinggi di India

Melihat Pendidikan Tinggi di India

BERBAGI
Penulis (kemeja putih- tengah depan), foto bersama para mahasiswa JNU di Jawaharlal Nehru University, India. (Foto/Ist)

Betapa terkejutnya kami, di tengah kampus yang luas dengan lingkungan sekitar masih seperti hutan belukar, tapi jumlah orang yang berada di dalamnya cukup ramai. Perpustakaan buka dua puluh empat jam dan selalu dipenuhi mahasiswa. 

—————-

Oleh: Teuku Cut Mahmud Aziz

September 2015 menjadi tahun kunjungan pertama saya ke “Negara Anak Benua”. Penulis bersama Almarhum Nurdin Abdul Rahman, Mantan Bupati Bireuen, menghadiri undangan konferensi “Look East and Look Indonesia” yang diselenggarakan oleh Jawaharlal Nehru University (JNU), New Delhi.

Di sana kami mempresentasikan makalah berjudul “Indonesia-India Bilateral Culture and Trade.” Menariknya, yang menjadi panitia konferensi sebagian besarnya adalah mahasiswa JNU yang mengambil kursus Bahasa Indonesia di JNU. Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa internasional yang digemari di JNU. Peminatnya terus bertambah setiap tahunnya.

Ketika sesi istirahat atau ishoma beberapa dari panitia dan mahasiswa peserta konferensi mendekati peserta konferensi yang berasal dari Indonesia. Mereka ingin berkenalan dan mengatakan sungguh senang dapat berjumpa langsung dengan native speaker asal Indonesia karena bisa langsung mempraktekkan bahasa Indonesia. Terlihat mereka begitu antusias.

Ada kejadian lucu sewaktu saya menuju toilet di mana ada seorang mahasiswa mengikuti dan menunggu saya di luar toilet. Ketika saya keluar, ia langsung menyapa dan memperkenalkan diri. Dari pakaian yang dikenakan, tampilannya dia seorang Jamaah Tabligh. Dia mengatakan,”boleh saya bicara kepada Anda? Nama saya Ahmad, mahasiswa Program Studi Linguistik. Saya ingin belajar bahasa Indonesia.” Bahasa Indonesianya masih sangat terbatas, ucapannya terbata-bata tapi sungguh mengagumkan. Dia terus berbicara dan saya mendengar dengan tekun dan membantu membetulkan ucapannya.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada bulan April 2018, Tuhan mentakdirkan saya bertemu kembali dengan Ahmad di satu konferensi di JNU dan di gedung yang sama. Waktu itu saya dan Dr. Ichsan (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh) menghadiri konferensi atas undangan Dr. Gautam Kumar Jha. Keberadaan kami di India atas pendanaan BPPK Kemlu RI (Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri RI), dalam rangka melakukan penelitian dan wawancara terkait peluang dan tantangan dalam membangun kerja sama dan konektivitas antara Indonesia (Aceh) dan India (Kepulauan Andaman & Nicobar).

Saya masih ingat dengan Ahmad dan dia juga masih ingat kepada saya. Saya sungguh terkesan, bahasa Indonesianya sudah begitu lancar. Dia mengatakan,”Bapak, saya sekarang bisa tiga bahasa. Saya belum pernah ke Indonesia atau Malaysia tapi saya bisa bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dan Melayu tidak berbeda sangat. Saya belum pernah ke Arab tapi saya bisa bahasa Arab, dan saya belum pernah ke Israel tapi saya bisa bahasa Ibrani,” ujarnya.

Katanya lagi,”Saya akan belajar terus sampai tua.” Mendengar ungkapan ini, saya benar-benar tertegun. Kata-katanya penuh semangat dan motivasi. Hal yang saya rasakan juga ketika berkomunikasi dengan mahasiswa JNU yang lain.

Salah satu keunikan di JNU adalah kehidupan malamnya yang meriah. Bukan meriah karena pesta tapi meriah karena aktivitas orang belajar, berdiskusi, dan juga makan malam. Saya dan Almarhum Nurdin Abdul Rahman pernah melihat langsung kehidupan malam di sana. Betapa terkejutnya kami, di tengah kampus yang luas dengan lingkungan sekitar masih seperti hutan belukar, tapi jumlah orang yang berada di dalamnya cukup ramai. Ada aktivitas orang berdiskusi, Perpustakaan terlihat penuh. Perpustakaan buka dua puluh empat jam dan selalu dipenuhi mahasiswa. Toko-toko buku juga ramai dikunjungi pembeli.

Pada kesempatan yang lain pada Desember 2018, di tengah kegiatan Market Intelligence BPPK Kemlu RI di Chennai dan Port Blair, saya dan Dr. Muzailin Affan (Dosen Universitas Syiah Kuala/USK) menyempatkan waktu melakukan kunjungan ke IITB Mumbai. Waktu tempuh dari Chennai menuju Mumbai sekitar dua jam perjalanan naik pesawat. Dr. Muzailin diundang oleh koleganya, Arnab Das, Executive Officer of International Relations Office of IITB, untuk melihat langsung kegiatan di kampus IITB sekaligus melakukan penjajakan kerja sama. Sebulan kemudian, Arnab Das yang melakukan kunjungan balasan ke USK, diundang menjadi narasumber atas undangan Kantor Urusan Internasional USK.

Saat ini Kampus IITB merupakan institut terbaik nomor satu di India. Didirikan dan diresmikan oleh PM India, Pandit Jawaharlal Nehru pada tahun 1958. Lulusannya banyak bekerja di industri-industri dan perusahaan-perusahaan ternama dunia. Konsep kampusnya seperti Massachusetts Institute of Technology di Amerika. Pendidikannya tidak hanya fokus pada ilmu-ilmu teknik tapi juga pada kajian-kajian ilmu sosial.

Kampus-kampus di India banyak melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang IT, kedokteran, farmasi, pertanian, arsitektur, lingkungan dan geografi, dan linguistik yang berkelas dunia. Masing-masing kampus memiliki keunggulan pada mata pelajaran dan bidang studinya. Lembaga pendidikan tinggi global “QS Quacquarelli Symonds” merilis QS World University Rankings by Subject 2022 berdasarkan hasil evaluasi terhadap 34 mata pelajaran tertentu dan lima bidang studi yang diajarkan di kampus-kampus ternama di India.

Hasil evaluasi tersebut menempatkan bidang studi English Language and Literature (JNU), Environmental Sciences (IIT Bombay), Medicine (AIIMS), Law and Legal Studies (OP Jindal Global University), Geography (JNU), Mathematics (IIT Bombay), Physics and Astronomy (IISc Bangalore), Architecture and Built Environment (IIT Madras), Philosophy (Delhi University), Agriculture and Forestry (IIT Kharagpur), Earth and Marine Sciences (IISc Bangalore), Chemistry (IISc Bangalore), Business and Management Studies (IIM Bangalore), Politics (JNU), dan Accounting and Finance (IIM Bangalore). (Indiatoday.in, 6/04/2022).

Sebagai gambaran, ada beberapa informasi menarik yang diceritakan mahasiswa Indonesia yang kuliah di beberapa kampus di India. Seperti ketika mengajar, dosennya masih ada yang menggunakan kapur untuk menulis. Tidak menggunakan LCD dan infokus. Bangku kuliahnya pun masih sederhana seperti bangku siswa sekolah dasar dan menengah di Indonesia. Di Aligarh Muslim University, contohnya perkuliahan sering dilakukan di ruang dosen, tidak di ruang kelas. Kalau di Jamia Millia Islamia, proses pembelajaran lebih menekankan pada pembelajaran mandiri. Mahasiswa dituntut untuk aktif membaca, menulis, dan berdiskusi. Penilaian akhir hanya melalui kualifikasi Ujian Akhir Semester. Mahasiswa tidak dituntut harus hadir penuh di perkuliahan. Tidak ada penilaian kuis, tugas akhir, maupun kehadiran.

Namun ada kampus yang menerapkan kualifikasi penilaian berdasarkan tugas akhir dan kehadiran. Masing-masing kampus berbeda metode dan sistem pembelajarannya. Tapi yang menyamakan semuanya adalah kewajiban untuk membaca buku dan jurnal sebanyak mungkin. Bahkan ada kampus yang memberi ujian final yang jawaban per soal ujiannya hampir sama seperti menulis satu makalah. Itu baru satu soal ujian. Kalau ada lima soal berarti ada lima makalah. Mengetahui ini, rasanya hampir tidak percaya. Dapatkah kita bayangkan jika metode ujian seperti ini diterapkan di kampus-kampus di Indonesia? (**)

Penulis adalah Kepala Kantor Urusan Internasional Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (KUI UNIKI)
• Member of the Indonesian Task Force for Aceh-Andaman and Nicobar Islands Cooperation

BERBAGI