Beranda Laporan Khusus Melihat Kehadiran Rumah Garam, Rumah Aspirasi bagi UKM dan IKM di Aceh

Melihat Kehadiran Rumah Garam, Rumah Aspirasi bagi UKM dan IKM di Aceh

BERBAGI
Rumah Garam Aceh diresmikan oleh Ketua Tim Pengerak PKK Aceh, Dyah Erti Idawati, yang juga Ketua Dekranasda Aceh, didampingi Ketua Rumah Aspirasi UKM dan IKM Aceh, T. Tansri Jauhari, di Gampong Pande, Banda Aceh, Jumat (27/8/2021). (Foto/Kia Rukiah)

“Hadirnya rumah garam memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan benar, sehingga bisa menjadi spririt bagi IKM atau UMKM di Aceh”

— Ketua Dekranasda Aceh, Dyah Erti Idawati —

Yodium merupakan mineral penting bagi kesehatan. Tubuh membutuhkan mineral ini untuk mendukung fungsi kelenjar tiroid, terutama dalam menghasilkan hormon. Salah satu langkah utama untuk mencegah kekurangan zat gizi mikro ini yaitu dengan mengonsumsi yodium.

Mengutip dari laman https://hellosehat.com/, masyarakat negara berkembang termasuk Indonesia tidak luput dari risiko kekurangan yodium dan berbagai dampaknya. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Indonesia akhirnya mewajibkan penambahan yodium ke dalam produk garam dapur sejak 1973.

Negara-negara lain di berbagai belahan dunia pun telah melakukan langkah serupa sebelum tahun 1980-an. Upaya ini dinilai sebagai cara yang efektif dan terjangkau untuk mencegah kekurangan yodium masyarakat di seluruh dunia.

Produk ini dipilih karena masyarakat selalu menggunakan garam untuk memasak makanan setiap hari. Hampir tidak ada masakan rumahan yang tidak mengandung garam. Hal inilah yang mempermudah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan yodiumnya.

Selain itu, harga garam dapur relatif murah sehingga semua kalangan masyarakat mampu membeli dan menggunakannya sebagai penyedap masakan.

Tapi juga harus diketahui bahwa kebutuhan garam sebenarnya bukan hanya untuk kepentingan dapur (memasak). Produk garam juga dapat digunakan untuk bahan kecantikan, obat-obatan dan lain sebagainya.

Permintaan Garam Tinggi

Selain untuk kebutuhan rumahan, garam merupakan salah satu bahan baku penting bagi industri pangan dan non pangan, sehingga jumlah permintaan terhadap produk ini cukup tinggi. Bahkan Indonesia harus mengimpor garam dari nagara luar.

Produk-produk yang tersedia di Rumah Garam, yang pendiriannya difasilitasi Rumah Aspirasi UKM dan IKM Aceh. (Foto/Kia Rukiah)

Beranjak dari tingginya permintaan, hingga harus mengimpor dari negara lain, menggerakkan Rumah Aspirasi UKM dan IKM Aceh menggagas hadirnya Rumah Garam di Aceh. Kehadiran Rumah Garam, selain untuk membantu para petani garam yang ada di Aceh, juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas produk yang memiliki rasa asin ini.

Ketua Rumah Aspirasi UKM dan IKM Aceh, T. Tansri Jauhari, dalam acara launching Rumah Garam Aceh, pada akhir Agustus 2021 mengatakan, Rumah Garam Aceh hadir untuk membantu petani garam menciptakan produk dengan ragam varian dan produk turunanya, seperti garam kebutuhan dapur, garam kosmetik, garam milk bath, garam lulur mandi, garam skincare, garam foot salt dan sebagainya.

Pada launching yang dihadiri Ketua Dekranasda Aceh, Dyah Erti Idawati itu, Tansri mengatakan, industri garam di Indonesia, termasuk Aceh umumnya masih bersifat tradisional, di mana pemenuhan standar produk industrinya masih sangat minim.

“Beranjak dari kondisi tersebut, Rumah Aspirasi UKM dan IKM Aceh menggagas bekerjasama dengan PT. PLN (Persero) UIP Sumbagut menghadirkan Rumah Garam Aceh yang terletak di Gampong Pande, Banda Aceh,” ucap Tansri.

Tansri juga menyampaikan, Rumah Aspirasi UKM dan IKM Aceh selama ini telah memfasilitasi berbagai bentuk kegiatan dan pelatihan bagi para pengrajin atau petani garam sebanyak 21 orang. Di antara pesertanya, 15 orang dari Kabupaten Aceh Besar, 2 orang dari Pidie, 2 orang dari Pidie Jaya dan 2 orang dari Banda Aceh.

Pada saat ini juga, kata Tansri, Rumah Aspirasi UKM dan IKM Aceh telah mendaftarkan legalitas usaha petani garam, baik secara IUMK, NIB, Halal, Merek serta SNI. Untuk saat ini ada 6 IKM dalam proses SNI di Kementerian Perindustrian RI di Jakarta, dan sisanya telah masuk dalam usulan SNI untuk tahun depan.

“Rumah Aspirasi UKM dan IKM Aceh yang telah menggagas hadirnya Rumah Garam Aceh siap berkontribusi memberi nilai tambah pada produk hasil petani garam tradisional menjadi garam beryodium. Juga mempersiapkan lahirnya berbaga produk turunannya sesuai permintaan pasar di seluruh Aceh,” sebut Tansri pada acara yang dihadiri Kasi Industri Agro Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Dewi Navulan Sari.

Dia juga menyampaikan, sebelumnya telah dilaksanakan beberapa kegiatan pelatihan bersama PT. PLN UIP Sumbagut, yaitu penguatan legalitas pelaku industri agar UMKM naik kelas, penanaman pohon mangrove sebagai upaya mencegah intrusi air laut, erosi dan abrasi.

Selain itu, pelatihan pembuatan garam higienis dan ber-SNI, pameran digital di Jakarta untuk promosi produk garam dan kopi, pendirian Rumah Garam Aceh, pelatihan dan sertifikat produk garam Aceh.

Sementara itu, Manajer Komunikasi dan TJSL PT. PLN (Persero) Unit Induk pembangunan Sumatra bagian Barat, Eviati Polapa, mengatakan bahwa pelaku usaha Rumah Garam Aceh ini agar tetap memiliki semangat.

Bekerjasama dengan BUMN untuk menjalankan regulasi dalam membantu UMKM atau IKM dari segala sisi, baik dari sisi bantuan dana, pembelian alat dan sertifikasi.

Evi berharap dengan mengadakan pelatihan sertifikasi dari PT. PLN dapat meningkatkan perekonomian dan taraf hidup keluarga besar dari UMKM atau IKM di Aceh.

Produk Garam Beryodium 

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh, Dyah Erti Idawati mengatakan, produksi garam banyak dan potensi garam di Aceh sangat melimpah, tetapi faktanya Indonesia masih mengimpor 3 juta ton garam dari luar.

Dyah mengatakan, sebagaiaman yang diketahui bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, apalagi Aceh. Namun produk garam dari petani garam di Aceh sendiri selama ini belum mampu mencukupi kebutuhan. Bahkan produk garam petani Aceh belum ada yang ber-yodium sehingga garam yang digunakan adalah garam pabrikan.

“Hadirnya rumah garam memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan benar, sehingga bisa menjadi spririt bagi IKM atau UMKM di Aceh,” kata Dyah Erti.

Dyah yang juga istri Gubernur Aceh itu menyampaikan, pembuatan garam sendiri yang masih dilakukan secara manual atau tradisional. Untuk itu Dyah mengatakan, dua secara langsung akan mencoba menggalang kerjasama dengan universitas di Aceh, seperti Universitas Syiah Kuala (USK) dan pihak lain, tentang bagaimana meningkatkan kualitas produk garam dari para petani garam di Aceh.

“Pembuatan garam beryodium ini sudah sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat dan juga pemerintah. Aceh harus bisa memproduksi garam beryodium,” lanjut Dyah.

Kata Dyah, semangat yang telah disampaikan oleh Gubernur Aceh, bahwa semua pihak harus mencintai produk lokal. Jadi nantinya jangan sampai terjadi, sudah ada produksi lokal yang bermutu, tapi tidak ada yang membeli, ujar Dyah yang juga menjabat Ketua Tim Penggerak PKK Aceh itu.

Dyah berharap, pembukaan Rumah Garam bukan hanya sebagai ajang launching saja, tetapi juga harus mencari solusi bagaiman memasarkannya dan meningkatkan produksinya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Ir.Mohd Tanwier. (Foto/Cut Nauval Dafistri)

Disperindag Aceh Dukung IKM Rumah Garam

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Mohd Tanwier, mengatakan untuk mendukung peningkatan perekonomian daerah, produk lokal, khususnya yang diproduksi IKM (Industri Kecil Menengah), seperti produk garam harus ditumbuh-kembangkan.

Sebab bila aktivitas IKM di Aceh berjalan lancar, maka roda ekonomi masyarakat juga akan tumbuh dan berkembang, ujarnya,

“Sektor IKM yang sampai saat ini terlihat masih bertahan dan mendukung perekonomian daerah. Karena itu kita patut mendukung sektor IKM ini, khususnya untuk akses pemasaran produk mereka,” kata Mohd Tanwier. (Kia Rukiah)