Senin, April 15, 2024
Google search engine
BerandaKulinerLeumang Po Hafsah, Makanan Berbuka Puasa yang Diburu Konsumen

Leumang Po Hafsah, Makanan Berbuka Puasa yang Diburu Konsumen

BAMBU yang telah terisi bahan untuk membuat leumang tertata di perapian. Muhammad Yacub, terlihat sibuk meratakan bara api sembari membolak-balik ratusan bambu muda tersebut.

Hawa panas dari perapian tak membuat surut pria berusia 45 tahun ini menjaga di perapian. Menggunakan sarung tangan, bambu buluh dirapikan dengan penjepit terbuat dari besi.

Asap terus mengepul. Sesekali dia harus mengusap kedua bola matanya karena perih efek dari asap. Namun, dia tetap tak berjarak dari perapian bambu yang berisi bahan untuk membuat leumang buatan Po Hafsah. Meskipun sesekali dia harus menjaga jarak, agar kedua bola matanya tak perih. Tongkat sepanjang dua meter pun selalu ada di tangannya.

Tongkat itu dipergunakan untuk memisahkan bara api, agar di perapian tidak terlalu besar api menyala. Leumang hasil olahan Po Hafsah, bara apinya selalu stand by dijaga Muhammad Yacub. Cara memanggangnya bukan dengan api besar, tetapi dengan bara api sedang, agar kematangan sesuai yang diinginkan.

“Kalau terlalu besar api bisa hangus, enggak enak jadinya,“ katanya kepada penulis saat menyambangi lokasi pembuatan leumang.

Meski dalam usia yang sudah agak uzur dan dalam kondisi tidak kuat lagi, Po Hafsah yang dibantu anak laki-lakinya Muhammad Yacub, meneruskan usaha yang dirintisnya sejak dulu. Po Hafsah yang sudah berusia 70-an tahun sudah tidak terlalu kuat lagi terjun langsung memasak leumang. Usaha ini sudah digeluti oleh Hafsah selama 20 tahun lalu, kini masih dilanjutkan bersama anak pertamanya, Muhammad Yacub.

Po Hafsah yang dibantu anaknya Muhammad Yacub mengolah dan menjual leumang di Jalan Syiah Kuala, Gampong Lamdingin, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Leumang milik Po Hafsah, memiliki tiga jenis bahan baku dasar, yaitu beras ketan putih, ketan hitam, dan ubi.

Sebelum dimasak, Hafsah dan anaknya Muhammad Yacub, yang dibantu oleh beberapa orang pekerja, terlebih dahulu memasukkan bahan baku leumang ke dalam bambu buluh yang beragam ukuran.

Selama bulan Ramadhan, dia membuat tiga jenis leumang, yaitu leumang ubi, ketan hitam dan ketan putih, kemudian dicampur dengan santan, gula dan sedikit garam agar terasa gurih. Memasaknya dengan cara dibungkus dengan daun pisang, lalu dimasukkan ke dalam seruas bambu buluh. Setelah itu dibakar di atas bara api hingga matang.

Memasak leumang cukup menyita waktu. Dimasak dengan bara api membutuhkan waktu antara 4 sampai 6 jam. Sejak pukul 09:00 WIB sudah mulai bekerja dan memanggang leumang pada pukul 10:30 WIB dan baru masak pada pukul 15:00 WIB. “Setelah itu langsung siap dijual,“ jelasnya.

Harga yang dibandrol pun tergolong tidak membuat kantong Anda koyak. Pelanggan bebas memilih, apakah hendak membeli per potong dengan harga Rp5.000 sampai dengan Rp20.000, sedangkan bila ingin membeli satu bambu buluh, harga berkisar antara Rp40.000 hingga Rp100.000.

“Tergantung besar dan kecilnya ukuran bambu buluh itu,“ jelasnya.

Muhammad Yacub mengaku memasak leumang hanya pada bulan Ramadhan saja, ini karena ibunya sudah tua. Setiap hari selama Ramadhan dia bisa menghabiskan 75 sak beras dan ubi 20 kilogram dengan keuntungan lumayan.

“Modal yang harus dikeluarkan Rp2,5 juta sampai Rp3 juta, pendapatannya bisa mencapai Rp5,5 juta per hari,“ jelas Po Hafsah.

Di perapian, ada 200 batang bambu buluh berisi ketan yang dimasak setiap harinya. Setelah matang baru dibawa ke lapak jualannya. Sebagian dipotong-potong ukuran kecil untuk dijajakan sebagai takjil berbuka puasa.

Selama bulan Ramadahan, banyak warga yang berburu berbagai makanan. Salah satunya yang paling diminati adalah leumang milik Po Hafsah yang memiliki cita rasa gurih dan cocok untuk dimakan dengan air tebu saat berbuka puasa.(aldin nl).

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER