Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
BerandaBeritaKorban Tewas Cisarua Capai 34 Orang, 61 Hilang Termasuk Anggota Marinir

Korban Tewas Cisarua Capai 34 Orang, 61 Hilang Termasuk Anggota Marinir

Bandung (Waspada Aceh) – Sebanyak 34 orang ditemukan tewas dan 61 masih hilang termasuk anggota Marinir, akibat tertimbun longsor yang terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Terkait korban anggota Marinir, KSAL Laksamana Muhammad Ali mengkonfirmasi bahwa hingga saat ini empat orang dari 23 anggota marinir telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara proses pencarian korban lainnya masih berlangsung.

“Saya menyampaikan terkait dengan kejadian bencana alam yang terjadi di Jawa Barat. Memang terdapat 23 anggota marinir yang tertimbun longsor,” ujar Ali usai rapat kerja Komisi I DPR di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).

“Saat ini sudah ditemukan baru empat personel dalam kondisi meninggal dunia dan lain belum ditemukan, masih diadakan upaya pencarian.”

Pada awalnya, alat berat belum dapat memasuki lokasi bencana akibat kendala cuaca dan akses jalan yang sempit. Namun, seiring berjalannya waktu, tim SAR gabungan telah dapat menggunakan alat berat serta metode lain seperti pencarian manual, drone UAV, dan anjing pelacak untuk mempercepat proses pencarian.

Hingga pukul 16.57 WIB pada hari yang sama, data Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat menunjukkan bahwa jumlah korban yang berhasil ditemukan telah mencapai 34 jenazah, dengan 20 di antaranya telah diidentifikasi.

Selain anggota Marinir, longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) juga menimbun puluhan rumah dan menyebabkan puluhan warga hilang, dengan total korban tewas hingga saat ini mencapai 34 orang, 23 orang selamat, dan sekitar 61 orang masih dalam pencarian.

Pakar Geologi Longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadi Sun, menjelaskan bahwa kejadian longsor ini merupakan hasil interaksi faktor alamiah yang kompleks dengan faktor manusia.

Wilayah Bandung Barat berada pada produk vulkanik tua dengan lapisan pelapukan tebal, dan hujan yang berkepanjangan menyebabkan tanah jenuh air sehingga menurunkan kekuatan geser lereng.

Selain itu, terdapat indikasi longsoran di hulu sungai yang membentuk bendungan alam, menyebabkan akumulasi sedimen dan memperparah aliran lumpur.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) juga tengah mendalami penyebab utama kejadian ini, dengan dugaan sementara terkait alih fungsi lahan dari kawasan hutan menjadi lahan pertanian sayuran, meskipun hal ini belum dapat dipastikan sebelum hasil kajian tim ahli rampung.

Proses evakuasi korban menghadapi tantangan akibat kondisi jalur yang terjal, sehingga petugas harus melakukan evakuasi estafet sebelum jenazah dapat dibawa ke mobil ambulans.

Pemerintah melalui berbagai instansi terus berkoordinasi untuk memberikan bantuan dan mempercepat proses pencarian serta penanganan korban bencana. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER