Minggu, Juli 21, 2024
Google search engine
BerandaDisbudpar AcehKopi Aceh di Lidah Peserta Muktamar IDI, Unik dan Luar Biasa

Kopi Aceh di Lidah Peserta Muktamar IDI, Unik dan Luar Biasa

“Terima kasih untuk Pemerintah Aceh, khusususnya Kadisbudpar atas sambutan ini. Mudah-mudahan, kalau Muktamar IDI ke-32 tahun depan lolos di Bali, kami akan gantian undang”

— dr. Arya Putra dari Tabanan Bali —

Di Aceh sendiri terdapat tiga jenis/varian kopi, yaitu kopi Arabika, kopi Robusta dan belakangan ini diketahui Aceh juga memiliki varian kopi Liberika. Untuk kebutuhan ekspor ke Eropa, Amerika, Jepang dan beberapa negara lainnya, kopi Arabika menjadi unggulan. Bahkan kopi Arabika Gayo yang mayoritas berasal dari daerah Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, menjadi kopi paling populer dan merupakan salah satu kopi terbaik di dunia.

Kopi Arabika Gayo memiliki aroma yang sangat tajam sehingga banyak disukai. Cita rasa kopi Gayo sendiri tidak seperti kebanyakan kopi yang ada. Biasanya kopi masih meninggalkan rasa pahit di lidah, tapi tidak demikian pada kopi Gayo karena rasa pahitnya hampir tidak terasa.

Sedangkan kopi Robusta, biasanya dihasilkan dari tanaman kopi yang berada di dataran rendah, seperti di daerah Aceh Besar, Pidie, Aceh Jaya dan beberapa daerah lainnya di Aceh. Kopi robusta dari Aceh juga memiliki rasa yang khas, berbeda dengan rasa kopi robusta di daerah lain di luar Aceh.

Kopi robusta banyak dijumpai di warung-warung kopi kebanyakan, terutama warung yang menyediakan kopi saring. Beberapa tahun lalu, kopi sanger adalah campuran kopi robusta, gula, dan susu kental manis. Rasa pahit dan aroma khas pada kopi robusta Aceh menjadikan cita rasa kopi sanger menjadi nikmat.

Namun dalam perkembangannya, kini kopi sanger juga tersedia dari bahan kopi arabika. Umumnya kafe-kafe di Banda Aceh mau pun di daerah, telah menyediakan kopi sanger arabika. Sedangkan kopi liberika, beberapa tahun belakangan ini mulai diperkenalkan oleh pengusaha kopi yang berasal dari Pidie. Kopi liberika kini banyak ditanam di daerahTangse, Kabupaten Pidie. Jadi kini semakin banyak pilihan varian kopi dari Aceh.

Tidak heran, karena begitu kayanya Aceh dengan varian kopi, para dokter yang menjadi peserta Muktamar IDI se Indonesia, memuji Aceh sebagai daerah yang memiliki ciri khas, baik kopinya mau pun kilinernya.

Menjamu Peserta Muktamar IDI

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh menyambut rombongan peserta Muktamar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di lokasi Festival Kopi Kutaraja 2022 di Taman Budaya Aceh di Banda Aceh, Kamis (24/3/2022).

Rombongan dokter tersebut disambut langsung Kadisbudpar Aceh, Jamaluddin, didampingi Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Teuku Hendra Faisal, dan Kepala UPTD Taman Budaya, Azhadi Akbar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin. (Foto/Ist)

Para dokter dari berbagai daerah di Indonesia yang menjadi tamu di Taman Budaya Aceh tampak antusias mengunjungi beberapa stan yang menyajikan kopi Aceh. Mereka juga mencicipi varian kopi dan kudapan yang telah disajikan oleh panitia.

Di antaranya, ada Kopi Khop, espreso, mi Aceh, dan beraneka ragam kuliner khas Aceh lainnya yang siap disantap para dokter di sela-sela kegiatan Muktamar IDI di Kota Banda Aceh.

Tak hanya sekadar menikmati kuliner, sejumlah peserta Muktamar IDI juga turut mencoba sensasi meracik kopi saring ala Aceh dan tampil membawakan tembang lagu di panggung.

Para dokter yang hadir di festival kopi menganggap sambutan yang diprakarsai Disbudpar Aceh untuk mereka luar biasa. Para dokter dengan beragam keahliannya masing-masing, begitu senang melihat dan mencicipi kopi Aceh dan kuliner.

“Saya telah mengikuti Muktamar IDI empat kali, tapi ini (Aceh) luar biasa, sambutannya terbaik,” kata dr. Ardiyanto Panggeso asal Palu.

“Terima kasih untuk Pemerintah Aceh, khusususnya Kadisbudpar atas sambutan ini. Mudah-mudahan, kalau Muktamar IDI ke-32 tahun depan lolos di Bali, kami akan gantian undang,” sebut dr. Arya Putra dari Tabanan, Bali.

Uniknya Kopi Aceh 

Sebagian warga Aceh mempunyai cara unik dalam menyeruput kopi. Salah satunya saat menyeruput kopi dengan posisi gelas terbalik atau biasa disebut Kopi Khop.

Sehingga kopi khas dari Meulaboh ini turut menjadi incaran para dokter yang hadir di Festival Kopi Kutaraja 2022.

Salah seorang peserta Muktamar IDI sedang mencoba menyeduh kopi saring khas Aceh. (Foto/Ist)

“Kopi Khop ini unik dari sisi penyajiannya dan cara minumnya, sangat nikmat. Apalagi dinikmati dengan cara yang unik,” sebut dr Ardiyanto. Hal senada juga disampaikan dr. Widiasa. Kata dia, kopi Aceh sangat enak.

“Minum Kopi Khop ini sangat unik. Sebelum minum, kopinya panas, ditiup dulu sampai kopinya keluar terus baru disedot lagi,” ungkapnya antusias.

Kopi Aceh, Keren!

Ketua IDI Bali, dr. Rudi menilai festival kopi di Banda Aceh ini sangat menarik. Pasalnya, dia melihat kolaborasi antara anak muda dan orang tua sungguh kentara di event ini.

“Kami dari Bali melihat festival ini sungguh luar biasa, karena di sini ada perpaduan anak muda dengan orang tua bisa berkumpul bersama. Melalui kreasi ini, bisa mengundang investasi juga,” kata dr. Rudi.

Menurutnya, pagelaran Festival Kopi Kutaraja 2022 bisa membangkitkan perekonomian masyarakat di tengah pandemi, serta juga menjadi sarana promosi pariwisata Aceh.

“Kami bawa (kopi Aceh) ke Bali nanti ya. Kopi Aceh beda, rasanya beda sekali. Penyajiannya juga luar biasa sekali. Cara minumnya juga beda, pokoknya keren,” pungkasnya. [*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER