Aceh Utara (Waspada Aceh) – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara bersama Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh bergerak cepat melakukan aksi nyata dalam pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan.
Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang, turun langsung mendampingi tim RSJ Aceh untuk menjemput warga penderita Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sempat dipasung agar mendapatkan perawatan medis yang layak, Kamis (18/6/2026).
Dalam aksi jemput bola ini pada titik pertama Wakil Bupati Tarmizi turun langsung bersama Direktur RSJ Aceh, dr. Hanif, Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Nurzahri, Kepala Puskesmas (Kapus) Syamtalira Bayu, Anita, juga didampingi Muspika dan aparat Gampong Alue Majron dan Kaye Panyang.
Wakil Bupati Tarmizi Panyang menegaskan bahwa Pemkab Aceh Utara berkomitmen penuh untuk membersihkan wilayahnya dari praktik pemasungan. penderita gangguan jiwa tidak boleh diisolasi, melainkan harus dibantu secara manusiawi.
“Ini adalah tugas kemanusiaan sekaligus tanggung jawab kita bersama. Saudara-saudara kita yang mengalami gangguan jiwa berhak mendapatkan perawatan medis yang tepat agar mereka bisa pulih dan kembali ke tengah masyarakat,” ujar Tarmizi Panyang.
Tarmizi juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada pihak RSJ Aceh di bawah kepemimpinan dr. Hanif atas dukungan penuhnya, mengingat keterbatasan fasilitas dan SDM yang dimiliki daerah.
“Kita telah menginstruksikan Dinas Kesehatan dan seluruh Kepala Puskesmas untuk aktif menyisir desa-desa dan mengedukasi pihak keluarga. Jangan ada lagi yang disembunyikan atau dipasung. Jika masih ada sisa warga kita yang belum terevakuasi, segera laporkan agar bisa langsung dijemput,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur RSJ Aceh, dr. Hanif, menegaskan bahwa tindakan pemasungan terhadap penderita gangguan jiwa sama sekali tidak dibenarkan dari sudut pandang mana pun.
“Dari total target awal 115 pasien yang tersebar di 23 kabupaten/kota di Aceh, tim RSJ Aceh telah berhasil mengevakuasi sekitar 70 pasien, sedangkan faktor penyebab gangguan jiwa sangat kompleks dan saling berkaitan,” ujarnya.
“Banyak kita temukan di lapangan faktor keturunan, penyalahgunaan narkoba, masalah hubungan sosial dan tekanan ekonomi termasuk trauma akibat kekerasan,” pungkasnya. (*)



