Beranda Laporan Khusus Ketika Road Show Vaksinasi COVID-19 Sekda Aceh Berakhir di Pulau Weh

Ketika Road Show Vaksinasi COVID-19 Sekda Aceh Berakhir di Pulau Weh

BERBAGI
Sekda Aceh Taqwallah dan Kadisdik Aceh Alhudri, saat meninjau pelaksanaan vaksinasi siswa SMAN 1 Sabang, Sabtu (25/9/2021). (Foto/Aldin NL)

“Selama melakukan sosialisasi vaksinasi COVID-19, kami sudah 12 hari tidak ketemu keluarga”

— Kadisdik Aceh Alhudri —

Dalam kunjungan kerja ke Sabang, sebagai kota terakhir dalam sosialisasi vaksinasi, Sekda Aceh, Taqwallah, kembali meminta para kepala sekolah dan tenaga kesehatan berada di garda depan dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya vaksinasi COVID-19.

Pasca kunjungan Presiden Jokowi ke Aceh, Sekda Aceh Taqwallah dan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri serta Kadinkes Aceh, langsung tancap gas melakukan road show ke kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Sekda dan Kadisdik menyampaikan pentingnya program vaksinasi ke seluruh sekolah SMA, SMK dan SLB.

Road show sosialisasi vaksinasi COVID-19 ini berawal dari pulau Simelue pada 9 September 2021 dan berakhir di Pulau Weh, Sabang, pada Sabtu siang tadi, 25 September 2021.

Sekda Taqwallah seakan tidak kehilangan energi untuk terus mengajak, merayu, meminta bahkan sampai dianggap terkesan setengah “memaksa” agar masyarakat, tidak kecuali pelajar yang menjadi fokus dalam dua pekan terakhir ini, melakukan vaksinasi.

Tentu tujuannya agar para siswa bisa kembali belajar tatap muka. Bagi ASN, pelayan publik dan masyarakat umum, dimaksudkan agar aktivitas kantor pemerintan dan swasta kembali normal, ekonomi kembali bertumbuh dan kehidupan kembali seperti semula.

Semangat Tim Sekda Aceh ini untuk menyukseskan perintah Presiden Jokowi ini bukan tanpa hambatan. Terjadi pro kontra seputar ajakan vaksinasi COVID-19 saat sosialisasi di hadapan para kepala sekolah dan pelajar. Tapi Sekda Aceh ini menganggap hal itu bukan gangguan dan dia bersama tim semakin solid.

Apalagi saat ada masalah efek suntikan vaksin. Seperti adanya reaksi setelah vaksinasi atau yang dikenal dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Jumlah kasusnya sangat-sangat minim, seperti terjadi dengan seorang pelajar di Lhokseumawe. Beberapa pihak menyudutkan Sekda dan Kadisdik, tapi kemudian Kapolda Aceh dan Pangdam Iskandar Muda, yang juga punya misi sama untuk menyukseskan program vaksinasi ini, mendukung kedua pejabat Pemprov Aceh itu.

Suksesnya vaksinasi Klaster I pelajar itu, ternyata menyisakan parnak pernik atau dinamika di lapangan. Kepada awak media, Sabtu (25/09/2021), termasuk Waspadaaceh.com, Sekda Aceh Taqwallah dan Kadisdik Aceh, Alhudri, bercerita pengalaman saat di lapangan. Dari mulai yang normatif, hingga yang seru dan unik serta pernak pernik saat menghadapi pelajar, guru dan kepala sekolah.

Kata Taqwallah, yang paling sulit ialah memberitahu orang yang tidak mau tahu. Tapi prinsifnya, dia terus bekerja dan berbuat. Masalah yang terjadi di lapangan, sudah biasa dan tidak boleh menjadi halangan atau larut dengan masalah itu, maka harus terus bergerak sambil mencari solusinya.

Luar biasa dan patut diapresiasi, semangat tim yang dipimpin Sekda Aceh ini. Kesaksian itu disampaikan Jubir Pemerintah Aceh, Wiratmadinata. Tidak hanya soal waktu, yang semula direncanakan empat hari, bisa menjadi berhari-hari.

Sekda Aceh Taqwallah memberi semangat kepada warga yang sedang divaksin di salah satu pesantren di Sabang, Sabtu (25/09/2021). (Foto/Aldin NL)

“Selama melakukan sosialisasi vaksinasi COVID-19, kami sudah 12 hari tidak ketemu keluarga,” cerita Alhudri. Lalu, Wiratmadinata, menimpali, karena jangkauan diperluas menjadi se wilayah Aceh, terpaksa harus membeli pakaian di jalan lantaran persediaan habis terpakai. “Hahahha,” Wira tertawa, teringat hal unik saat mendampingi Sekda Aceh.

Sekda dan Kadisdik Aceh, memang “berjibaku” menyambangi sekolah-sekolah di kabupaten/kota se Aceh. Semua itu dilakukan agar para pelajar bisa kembali mengikuti proses belajar mengajar (PBM) secara normal (tatap muka).

“Saya melihat Pak Sekda, pekerja luar biasa, gigih, disiplin dan tulus serta bertanggungjawab. Kami terus bergerak dari satu kabupaten ke kabupaten lain. Kami berkolaborasi mengajak para kepala sekolah, guru dan pelajar untuk mengikuti program vaksinasi COVID-19,” papar Alhudri. Kadisdik ini bercerita didampingi tiga pejabat Kabid di Disdik Aceh, yang ikut mendampinginya selama program vaksinasi tahap 1 untuk Klaster I (pelajar) dijalankan.

Hasilnya? Meski secara angka belum signifikan, namun, target 30 persen kelompok sasaran vaksin hingga 30 September 2021, sudah hampir tercapai.

Kadinkes Aceh, dr Hanif, kepada harian ini menyatakan target yang dipatok untuk vaksinasi Klaster 1 adalah 30 persen. “Posisi sekarang sudah terealisasi 23 persen,” katanya. Total sasaran vaksin Aceh mencapai 4.028. 891 orang (dosis).

Vaksin Klaster II (Santri)

Belum lagi selesai program vaksinasi Klaster I, Sekda Aceh sudah mulai menjajaki vaksinasi Klaster II. Vaksinasi Klaster II adalah lingkungan pesantren atau dayah yang jumlahnya juga cukup banyak di provinsi ujung Sumatera ini.

Karena itu, Sekda Aceh Takwallah, memerintahkan Kepala Badan Pendidikan Dayah Aceh, Zahlul, berlayar ke Pulau Weh, Sabang, untuk bergabung dengan Tim Sekda Aceh, yang satu jam sebelumnya sudah tiba lebih awal di Sabang menaiki kapal baru  Angraini O1.

Sekda Taqwallah minta Zahlul menyiapkan konsep dan format yang jitu untuk melaksanakan program vaksinasi COVID-19 Klaster II untuk lingkungan pesantren di Aceh. Jumlah santri se Aceh diperkirakan lebih 200 ribu orang, sedangkan pelajar umum ada sekitar 577 ribu orang.

Khusus untuk lingkungan pesantren ini, kata Sekda Taqwallah, akan dilakukan sosialisasi kepada pihak-pihak terkait dan insyaAllah sudah bisa bergerak sekitar 05 Oktober 2021.

Nah, sebagai follow up kegiatan itu, para pimpinan, guru pesantren/dayah, MPU dan Kakan Kemenag Sabang dan Sekda Aceh Taqwallah melakukan pertemuan dan sosialisasi di Dayah Almujaddidm Sabang, Sabtu (25/09/2021).

Tentu saja pendekatan dari sekolah umum dan pesantren berbeda. Di sini lebih menekankan pendekatan agamis hingga bisa diterima pimpinan pesantren dan para santriwan dan santriwati.

Mengapa Vaksin Penting?

Sekda Taqwallah yang berlatar belakang pendidikan dokter, tentu saja tidak mengalami kesulitan menjelaskan urgensi program vaksinasi untuk menciptakan herd imunity.

“Kemampuan bapak-ibu lah yang bisa membuat Sabang ini terbebas dari pandemi COVID-19,” kata Sekda saat memberikan arahan kepada puluhan Kepala Puskesmas, Kepala SMP, SMA, SLB dan para pejabat Kota Sabang, Jumat malam (24/09/2021).

Vaksin, kata Sekda sangat penting, di samping untuk mencegah terpapar penyakit juga mencegah penularan kepada orang lain.

Dia pun menceritakan pengalaman bepergian ke pulau seperti ke Sabang sekira 30 tahun lalu. Di mana para tamu harus mengonsumsi obat anti malaria, baik saat datang maupun saat kembali dari Sabang.

Jika malaria sangat berbahaya dan penularannya melalui perantara, yaitu nyamuk, maka COVID-19 lebih berbahaya. Penularan COVID-19 terjadi dari manusia ke manusia tanpa perlu perantara. “Itu ganasnya covid, dan merusak jaringan paru-paru,” kata Sekda.

Muncul pertanyaan, kenapa mereka yang sudah selesai divaksin juga bisa terpapar. Rata-rata jika ditelusuri, maka mereka yang terpapar adalah karena sikap longgar menjalankan protokol kesehatan (prokes), seperti enggan memakai masker dan menjaga jarak. Mereka yang tidak disiplin menjalankan prokes, tetap punya potensi besar tertular. Beruntung, bagi mereka yang terpapar setelah menjalani vaksin, maka efeknya tidak terlalu berbahaya bagi dirinya. Karena tingkat imunitasnya sudah lebih baik setelah divaksin.

Kadinkes Aceh, dr Hanif, yang hadir selain Kadisdik Aceh, Alhudri, menambahkan, berdasarkan hasil penelitian disebutkan 95 persen orang yang terpapar COVID-19 sesudah divaksin, gejala yang dialami jauh lebih ringan. “Pemahaman ini harus diberitakan secara luas,” ujarnya.

Untuk itu, tambah Sekda, agar para Kepala Puskesmas, Kepala SMP, SMA, SLB dan para pejabat Kota Sabang, dapat menjelaskan kepada seluruh masyarakat, baik pelajar ataupun orang tua agar mau divaksin. Mumpung masih gratis dan ketersediaan vaksin masih mencukupi.

“Insya Allah di tangan bapak dan ibu semua lah Sabang ini terbebas dari pandemi,” kata dr Taqwallah, M.Kes, yang mantan Kepala Puskesmas di Kabupaten Simelue tersebut. (Aldin NL)

BERBAGI