Kasus Cek Kosong, Presiden Persiraja Senggol Pj Gubernur Aceh dan Tim Transisi

    BERBAGI
    Presiden Persiraja Zulfikar Sby saat konferensi pers, Jumat (20/1/2023) di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh, terkait sengketa cek kosong dengan Presiden Persiraja sebelumnya Nazaruddin Dek Gam, senilai Rp650 juta. (Foto/sulaiman achmad)

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Presiden Persiraja Zulfikar Sby menggelar konferensi pers, Jumat (20/1/2023) di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh, terkait kasus cek kosong dengan Presiden Persiraja sebelumnya Nazaruddin Dek Gam, senilai Rp650 juta.

    Dalam perjalanan pengalihan saham Persiraja, Ustaz Zul — sapaan akrabnya — menilai dirinya terjebak.

    Ustad Zul juga menyenggol beberapa pihak dalam keterangannya kepada wartawan. Salah satunya, peran Pj Gubernur, Pj Wali Kota dan Tim Transisi Persiraja dengan Ketua Reza Kamilin (Kadispora Banda Aceh) dan Sekretaris Ardianyah (Staf Ahli Wali Kota).

    Zul menyatakan, awal mula mengambil alih PT Lantak Laju Persiraja itu dari Nazaruddin Dek Gam, atas keperihatinannya terhadap klub itu di zona kritis atau “sakaratul maut”.

    “Dengan niat awal saya, keprihatinan atas kondisi klub Persiraja. Klub yang dicintai masyarakat Aceh, maka saya bertemu dengan Pj Gubernur Aceh Pak Ahmad Marzuki, membicarakan ini,” kata Zulfikar.

    Berita terkait: Presiden Persiraja Zulfikar Tersandung Kasus Cek Kosong Terkait Saham Klub

    Zul kemudian memfasilitasi komunikasi yang dilakukan Pj Gubernur kepada Dek Gam. Saat itu juga, Pj Gubernur mengarahkan Dek Gam agar menyerahkan saja Klub Persiraja kepada Zulfikar.

    “Dari komunikasi itu, saya mengakui bahwa saya tidak punya pengalaman dan kemampuan termasuk materi atau uang. Tapi Pak Pj Gubernur saat itu menyatakan akan membantu nanti. Namun, kenyataan sampai saat ini tidak ada bantuan apapun,” tuturnya.

    Kemudian, komunikasi berlanjut ke Pj Wali Kota Banda Aceh Bakri Siddiq. Zulfikar juga mengaku berkomunikasi dan mendapat motivasi dari Pj Wali Kota untuk bisa menyelamatkan Persiraja.

    “Saat bertemu dengan Dek Gam dan negosiasi, saat itu saya disuruh membayar 1 miliar rupiah, namun saya sampaikan tidak punya uang. Saya hanya bayar 350 juta dan disuruh 650 juta dibuat dalam bentuk cek untuk pengikat saja,” jelasnya.

    Dari situ, sejak awal, kata Zul, dia sudah menyatakan tidak punya uang lagi sebesar itu. Bahkan dia sudah menyampaikan juga jangan pernah menggunakan cek itu karena memang tidak ada uangnya. Kemudian, Dek Gam menyatakan nanti akan terbayar dengan tambahan subsidi dari PT LIB sebesar Rp800 juta.

    “Nanti akan terbayar, karena klub dapat subsidi dari LIB 800 juta jadi bisa melunasinya. Jadi, cek itu hanya jaminan kemudian nanti ada pemasukan klub dari tiket penonton dan lainnya,” tuturnya.

    Kenyataannya, musibah terjadi di pertandingan perdana Persiraja vs PSMS Medan hingga akhirnya Liga 2 resmi dihentikan. “Pada saat proses negosiasi itu juga, sebetulnya sudah berjalan baik, apalagi ditambah munculnya Tim Transisi yang membuat Bang Dek Gam marah saat itu ke Ketua Tim Reza Kamilin dan Ardiansyah,” ungkapnya.

    Zulfikar menuturkan saat selesai serah terima itu, dia juga sempat berbicara kepada Dek Gam terkait keterangan apa yang disampaikan ke publik selama proses ini. Dalam menjaga marwah Dek Gam sebagai Anggota Komisi III DPR RI, kata Zul, maka dirahasiakan proses peralihan itu dengan pembelian senilai Rp 1 miliar.

    “Kita akan siap menghadapi proses hukum jika memang nantinya berjalan,” tutupnya seraya menyatakan bahwa dia kaget kenapa prosesnya terjadi begini.

    Terkait hal itu, Tim Kuasa Hukum Dek Gam, Askhalani menyatakan Zulfikar tidak perlu mengurai proses negoasiasi yang terjadi. Terpenting baginya lebih baik Ustaz Zul menyelesaikan saja permasalahan atau sangkutan sisa pembayaran yang belum selesai kepada kliennya.

    “Kita bicara fakta otentik itu saja,” tegasnya. (*)