Beranda Laporan Khusus Jembatan Aroih Lampuyang, Sebuah Harapan di Pulau Aceh

Jembatan Aroih Lampuyang, Sebuah Harapan di Pulau Aceh

BERBAGI
Rancangan jembatan "Aroih Lampuyang" yang akan menghubungkan Pulau Breuh dengan Pulau Nasi. (Foto/Ist)

“Karena kita lihat di Pulo Aceh ini banyak potensi yang kita miliki, dan itu belum terangkat ke permukaan”

Laporan: Aldin NL dan T.Mansyursyah

KEMAJUAN suatu daerah harus dilengkapi fasilitas pendukung atau insfrastruktur yang memadai. Salah satunya infrastruktur di bidang transportasi yang keberadaannya sangat vital, tapi dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Meski terkadang, untuk membangun infrastruktur, akan menyedot anggaran tidak sedikit.

Itulah yang kini tengah direncanakan oleh BPKS (Badan Pengusahaan Kawasan Sabang). BPKS telah memprogramkan, proyek pembangunan jembatan menghubung di Pulau Aceh, untuk mempercepat lanju kebangkitan ekonomi di kawasan itu.

Jembatan yang diberi nama “Aroih Lampuyang”  itu akan menghubungkan dua pulau, yakni Pulau Breuh dengan Pulau Nasi. Jarak kedua pulau ini hanya sekitar 250 meter melintasi laut, dengan kedalaman laut 15 meter dan berarus deras, berada di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.

“Insya Allah jembatan penghubung dua pulau terluar Indonesia ;ini akan kita mulai pada 2021 mendatang,” ujar Plt. Kepala BPKS Sabang, Razuardi Ibrahim, kepada wartawan yang berkunjung ke Pulau Aceh itu. Para wartawan melakukan kunjungan jurnalistik ke Pulau Aceh selama dua hari, (21-22/9/2019).

Plt Kepala BPKS, Razuardi Ibrahim, bersama sejumlah pimpinan media dan para editor, dalam perjalanan dengan kapal kayu, menuju Pulau Aceh, Sabtu (21/9/2019). (Foto/Ist)

Kata Razuardi, BPKS telah menyiapkan tipe jembatan Aroih Lampuyang dalam bentuk Detail Engineering Design (DED), pada tahun anggaran 2015, yang nantinya akan digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembangunan.

Rencana fisik jembatan menggunakan teknologi super struktur pelengkung baja kelas A. Panjang bentangannya 430 meter, lebar 9 meter, tinggi jembatan dari permukaan laut 50 meter. Selain itu, konstruksi pondasi menggunakan pondasi bore pile (pondasi dalam yang berbentuk tabung) dan memiliki dua abutment dan dua buah pilar.

“Jadi kita perkirakan jembatan penghubungan ini membutuhkan anggaran sebesar Rp400 miliar. Artinya, tahapan-tahapan yang telah kita lakukan. Untuk saat ini DED-nya udah ada, master plan atau gambarnya sudah layak, tinggal Amdalnya yang belum dan perlu koordinasi dengan pihak terkait. Karena jembatan ini nantinya akan mengena kawasan hutan lindung,” kata Razuardi.

Menurutnya, dengan adanya jembatan tersebut maka diharapkan akan memudahkan transportasi warga serta meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat.

“Artinya, dengan potensi yang saat ini dimiliki oleh Kecamatan Pulo Aceh, baik pariwisata maupun perikanannya, maka akan semakin meningkat dengan adanya jembatan penghubung tersebut,” tutur Essex, panggilan akrab Razuardi.

Karenanya, BPKS akan berupaya semaksimal mungkin agar program pembangunan jembatan Aroih Lampuyang dapat terwujud sebagaimana mestinya, hingga program kerja pengembangan daerah dapat terwujud demi kepentingan masyarakat Pulo Aceh, dan Provinsi Aceh pada umumnya, ujar Razuardi.

Pulau Aceh bukan hanya memiliki potensi perikanan, tapi juga memiliki kekayaan di sektor pariwisata. (Foto/Ist)

Dia menyebutkan, Pulo Aceh yang luas wilayahnya 240,1 Km2 lebih luas dari Kota Sabang yang hanya 153 Km2, juga banyak memiliki potensi. Baik itu perikanan atau sport wisata seperti lampu mercusuar yang unik dan pantai-pantai yang indah. Misalnya pantai Nipah, pantai Balu, Alue Raya, pantai Malingge pulau Tenom dan juga berbagai jenis ikan.

Kecuali itu, sebut Razuardi, BPKS sejak 2009 hingga 2019 telah memplotkan dana untuk pembangunan Pulo Aceh sekitar Rp 800 miliar. Dana tersebut untuk pembangunan insfrastruktur berupa jalan, jembatan, fasiltas pendukung berupa balai serba guna, pematangan lahan inprsastruktur kawasan perikanan Gugop serta pembangunan Pelabuhan Perikanan Samudera Gugop Lampuyang.

Razuardi juga mengharapkan, agar Pulau Aceh ini perlu di ekspos hingga ke mancanegara. Karena destinasi wisata bukan hanya Sabang yang sudah cukup dikenal hingga ke mancanegara, tapi juga Pulo Aceh ini perlu dipromosikan.

“Karena kita lihat di Pulo Aceh ini banyak potensi yang kita miliki, dan itu belum terangkat ke permukaan,” ujar Razuardi.

Dia juga berharap agar ada karya tulis sebagai buku promosi untuk Pulau Aceh. “Kalau Sabang banyak sekali buku-buku tentang promosi Sabang. Namun, buku promosi tentang Pulo Aceh sama sekali tidak pernah ada. Padahal Pulo Aceh ini banyak juga diminati orang, misalnya ada buku tentang cerita tower (mercusuar), itu kan juga bisa menarik minat masyarakat datang ke Pulo Aceh.”

Dalam hal ini, kata Plt Kepala BPKS itu, jangan dianggap pihaknya menganaktirikan Pulau Aceh atau dianggap hanya memperhatikan Sabang saja, sedangkan untuk Pulau Aceh tidak.

Pada hal banyak yang sudah dilakukan BPKS di Pulau Aceh, baik itu pembangunan insfrastruktur berupa jalan dan jembatan, maupun fasilitas lainnya, seperti pembangunan Pelabuhan Perikanan Samudera. Karena, ini kurang terekspos sehingga terlihat BPKS seakan tidak berbuat apa-apa. Padahal BPKS sudah banyak berbuat di Pulo Aceh ini, ungkap Razuardi didampingi Deputi BPKS.

Sementara itu, tokoh masyarakat Pulo Aceh, Nazaruddin, 53, menanggapi rencana pembangunan jembatan penghubung Pulau Breuh dan Pulo Nasi, kepada Waspadaaceh.com mengaku menyambut gembira.

“Ide pembangunan jembatan penghubung ini bagus sekali. Kami sangat mendukung dan berkepentingan sekali agar pembangunan jembatan ini segera direalisasi,” ujarnya.

Mantan Keuchik Desa Lapeng Kecamatan Pulo Aceh ini mengatakan, dengan adanya jembatan penghubung, maka nantinya warga Pulo Nasi akan mudah dalam pengurusan administrasi. “Karena, di Pulo Breuh ini ada Kantor Urusan Agama (KUA) ada kantor camat, jadi mereka ini pengurusannya semua ke Pulo Breueh,” kata Nazaruddin.

Selama ini, kata Nazaruddin, bila ada warga Pulo Nasi ada keperluan adminstrasi maupun keperluan lainnya ke Pulo Breuh, maka mereka harus berlayar dulu ke Ulee Lheu yang berjarak 15 mil atau perjalanan 1,5 jam. Kemudian dari Ulee Lheu berangkat lagi menuju Pulo Breuh. Warga Pulo Nasi tidak bisa melewati Aroih (arus) Lampuyang yang lautnya sangat deras. Begitu juga sebaliknya bila warga Pulo Breuh mau ke Pulo Nasi.

“Jadi beberapa warga harus mengeluarkan uang tidak sedikit untuk itu. Sekali perjalanan naik boat itu perorang harus mengeluarkan uang sebesar Rp25 ribu, belum lagi makan dan minumnya,” ujar Nazaruddin.

Untuk itu, sebut Nazaruddin didampingi Heldi, Mukim Pulo Breuh Selatan, jika jembatan penghubung Pulo Breuh dan Pulo Nasi ini terealisasi dan terkoneksi, maka sangat menguntungkan dan memudahkan transportasi serta melancarkan roda ekonomi di kedua pulau terebut.

Kata Nazaruddin, Pulo Nasi yang berpenduduk sekitar 2.000 jiwa dan Pulau Breuh sekitar 4.000 jiwa itu, sehari-hari berprofesi sebagai nelayan. Ada juga sebagai petani cabe, cengkeh maupun petani kelapa.

“Karenanya, kita meminta pemerintah dalam hal ini BPKS, untuk segera membangun jembatan penghubung Pulo Nasi dengan Pulo Breuh, agar kedua pulau ini bisa bersatu. Kedua pulau hanya berjarak 250 meter, dan bila ada jembatan, itu sangat membantu perekonomian rakyat,” lanjutnya.

Bukti serius rencana membangun jembatan Lampuyang itu, Plt Kepala BPKS, Razuardi MT, didampingi Deputi Komersil BPKS, Agus Salim, Direktur Aset, Audi, Direktur Perencanaan, Azwar, Ka.Humas, M.Rizal mengajak sejumlah pimpinan media dan wartawan, meninjau lokasi pembangunan jembatan pengubung Pulau Nasi dan Pulau Breuh tersebut.

“Momen kunjungan ini sangat bersejarah. Bila jembatan Lampuyang ini nantinya dapat terwujud,” ujar Heldi, yang siang itu menjadi sopir untuk rombongan BKPS dan wartawan. (**)

BERBAGI