Rabu, Juli 17, 2024
Google search engine
BerandaKulinerJejak India dalam Kuliner Aceh

Jejak India dalam Kuliner Aceh

Penulis: Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A

Hubungan perniagaan di masa lalu antara India dan Aceh berdampak pada interaksi sosial. Interaksi sosial yang dimaksud adalah adanya pengaruh budaya India dalam khazanah kuliner Nusantara, khususnya Aceh, berupa pengayaan kosa kata kuliner dan perkenalan bumbu masakan baru.

Pedagang India memperkenalkan bawang/bakung, jintan, jahe, cabai (cabai hijau), dan ketumbar yang berperan penting untuk masakan pedas dan bersantan seperti kari, gulai, dan rendang. Termasuk juga dalam memperkenalkan minyak samin (Food.detik.com dan Tirto.id).

Rempah-rempah yang populer di masa itu, seperti cengkeh, pala (bunga pala), lada hitam, kayu manis, jintan, jahe, dan kunyit yang kemudian banyak ditanam di Aceh. Di masa Hindia Belanda harganya bahkan melebihi emas (Factsanddetails.com).

Masakan khas Aceh cukup dikenal seperti kuah pliek-u, mie Aceh, kuah eungkot paya, gulai kambing, kari kambing Pidie, sate matang, bu guri, dalica, ie bu peudah, asam keumamah, kanji rumbi, sambai asam udeung, masam keueung, kuah sie itiek, kuah beulangong, dan martabak Aceh. Semua bumbu masakannya dipengaruhi oleh bumbu masakan khas India. Cita rasa masakannya sama dengan masakan khas India di Kepulauan Andaman-Nicobar.

Artinya, jika orang Aceh mengunjungi Port Blair atau pulau-pulau lainnya di Andaman dan Nicobar untuk pertama kalinya, besar kemungkinan tidak mengalami kesulitan untuk makan masakan khas India.

Namun berbeda halnya jika ke New Delhi, karena rasa masakannya akan terasa lebih ‘keras.” Bagi yang baru pertama kali ke sana mungkin perlu penyesuaian.

Sejarah Masuknya Pengaruh India pada Kuliner Aceh

Pada Abad Pertengahan telah terjadi hubungan dagang antara saudagar Mesir, India, dan Nusantara (sebutan untuk Indonesia). Beberapa bukti sejarah menunjukkan penemuan Arsip Geniza di Synagogue Fustat di Mesir pada abad ke-11.

Arsip itu memuat informasi seorang pedagang Yahudi Separdic yang berlayar ke Barus (Fansur) dan meninggal di sana. Barus yang dimaksud adalah kota yang saat ini berada di Tapanuli Tengah, yang di masa itu menjadi pusat perdagangan emas dan kapur barus terbaik di dunia (Goitein 1973, Wolters 1999, De Eredia,1997 dalam Teuku Cut Mahmud Aziz 2009).

Letak Bandar Barus cukup strategis. Lokasinya berhadapan dengan perairan Samudera Hindia dan pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Aceh. Pada masa itu rute pelayaran dimulai dari Mesir, Aden, India hingga berakhir di Nusantara.

Diperkirakan waktu tempuh pelayaran untuk tiba di Nusantara sekitar tiga hingga empat bulan lamanya (Goitein 1973, Wolters 1999, De Eredia,1997 dalam Teuku Cut Mahmud Aziz 2009).

Selanjutnya, saudagar Nusantara tidak hanya berinteraksi dengan para saudagar India dan Arab saja, namun juga dengan saudagar Cina. Rempah-rempah menjadi komoditas unggulan.

Kemudian komoditas tersebut semakin terkenal dan menjadi incaran para pedagang Eropa sejak Portugis berhasil menaklukkan Kerajaan Bandar Malaka pada 1511 (Abad ke-16). Melalui Afrika maka terhubunglah pelayaran antara Eropa dan Asia (Sutherland 2004 dalam Syahruddin Mansyur 2011).

Jika membagi periodesasi sejarah rempah-rempah maka sejak awal masehi hingga Abad ke-15, perdagangan rempah-rempah khususnya cengkeh dan pala (bunga pala) di Nusantara dikuasai oleh para saudagar Melayu (Muslim). Mereka mengambil cengkeh dan pala di Maluku (Tidore, Ternate, dan Bacan), lalu memasarkannya ke Malaka. Di Bandar Malaka rempah-rempat tersebut dikumpulkan untuk dikirim ke Ormus dan seterusnya ke Istambul.

Istambul waktu itu menjadi penghubung bagi pelabuhan di Eropa. Para pedagang Venesia, Italia mengambilnya untuk dijual ke Eropa. Pedagang yang menuju Roma membeli juga di Damaskus dan dibawa juga melalui Madagaskar dan Afrika Timur.

Barulah kemudian setelah Abad ke-15 perdagangan rempah-rempah dikuasai oleh para pedagang Eropa (Tome Pires, Armando Cortesao 1944, Muller Kruger 1966, dan Sewang (tanpa tahun) dalam Syahruddin Mansyur 2011 dan Factsanddetails.com).

Selanjutnya terjalin hubungan perniagaan antara India dan Aceh, yang berdampak pada pengaruh budaya, termasuk kuliner India terhadap kuliner Aceh, seperti telah disebutkan di atas. (***)

  • Penulis adalah dosen Prodi HI FISIP Universitas Almuslim
  • Penerima Hibat Riset dan Anggota Tim Market Intelligence BPPK Kemlu RI Tahun 2018
BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER