BerandaAcehIrigasi Dipulihkan, Harapan Petani Mane Tunong Kembali Tumbuh

Irigasi Dipulihkan, Harapan Petani Mane Tunong Kembali Tumbuh

Aceh Utara (Waspada Aceh) – Hamparan persawahan di Gampong Mane Tunong, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, perlahan mulai berubah. Setelah hampir dua musim tanam terlewat akibat banjir yang melanda pada November 2025, lahan seluas sekitar 43 hektare ini kini kembali disiapkan untuk ditanami.

Saluran irigasi yang telah dipulihkan pemerintah menjadi pintu gerbang bagi warga untuk melanjutkan kehidupan yang sempat terhenti. Petani mulai turun ke sawah.

Banjir tahun lalu meninggalkan luka yang tak sekadar genangan air. Lumpur setebal 50 sentimeter menutupi petak-petak sawah, mengubur pematang, dan menyumbat jaringan pengairan. Permukaan endapan bahkan lebih tinggi dari saluran irigasi, membuat air sulit menjangkau lahan pertanian. Petani selama beberapa bulan tak bisa bekerja turun ke sawah meski air bah telah surut. Pemulihannya membutuhkan waktu, kesabaran, dan kerja sama lintas sektor.

Kini, perubahan tampak nyata. Saluran irigasi sepanjang 435 meter telah diperbaiki, dengan jalur tersier yang kini diperkuat beton, lebih kokoh dibandingkan sebelumnya. Pematang yang hilang tertimbun lumpur telah terbentuk kembali, membatasi petak-petak yang siap ditanami. Penaburan benih direncanakan pada pekan mendatang, dan harapan petani pun ikut tumbuh bersama tanah yang kembali gembur.

Pemulihan ini adalah buah dari permintaan warga yang disampaikan langsung saat kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Muara Batu pada 15 Januari 2026, didampingi Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto. Kini janji itu mulai terwujud di tengah hamparan sawah yang perlahan hidup kembali.

Muntasir, Petani Gampong Mane Tunong, mengucapkan syukur atas pemulihan sawah petani. “Alhamdulillah, berarti menurut petani cukup baik. Bersyukurlah,” ucap Muntasir, Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, kalau masalah dengan air, dalam minggu ini berarti petani sudah mulai buka air untuk persawahannya. “Dalam minggu ini berarti kita sudah mulai buka air untuk persawahan,” lanjutnya.

Sementara Kepala Desa Gampong Mane Tunong, Faisal, mengungkapkan pemulihan sawah petani memang sangat penting. Hal itu dikarenakan jaringan irigasi, pascabanjir ini rusak semua, sehingga tidak bisa mengairi sawah.

“Alhamdulillah, sampai dengan adanya jaringan irigasi ini, petani dan kami di sini sudah bisa membajak tanah. Dan untuk proses selanjutnya, petaninya tinggal menunggu untuk turun sawah dalam menanam padi,” tutur Faisal.

Para petani menyampaikan terima kasih banyak kepada Presiden Prabowo Subianto. Melalui Kementerian PU, pemerintah sudah membangun kembali atau merehab jaringan irigasi di daerahnya.

“Luas area persawahan kami di sini 43 hektare. Di saat ini, area yang bisa diairi jaringan irigasi sekitar 25 hektare. Ada masih banyak area sawah kami yang belum tercukupi untuk jaringan irigasi ini,” sebutnya.

Para petani di gampong tersebut, menurut Faisal, berharap program ini dilanjutkan Kementerian PU atau pun pada program lain di kementerian yang lain, sehingga jaringan irigasi bagi petani ini lebih maksimal.

Rahmat Kartolo, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Muara Batu, Rabu (14/10/2026), mengatakan, setelah dilakukan perbaikan ini, sawah sudah mulai ada pergerakan. Petani sudah mulai membajak sawah yang sebelumnya irigasi di desa ini rusak berat akibat banjir.

Ia menambahkan, kondisi saat ini telah mencapai 60–70 persen dari sebelum bencana. Dari total 1.200 hektare sawah di kecamatan ini, sekitar 800 hektare telah kembali ditanami. “Di Mane Tunong ini sendiri, baru bisa bersawah lagi setelah hampir satu tahun terhenti,” ujarnya dengan nada lega.

Secara keseluruhan, pemulihan lahan bencana di Aceh terus berjalan. Data Kementerian Pertanian per 13 Oktober 2026 mencantumkan target pemulihan di seluruh Aceh seluas 40.820 hektare dengan anggaran sekitar Rp361,89 miliar. Realisasi konstruksi telah mencapai 20.914 hektare atau 51,2 persen. Sementara di Aceh Utara, target mencapai 11.782 hektare dengan anggaran Rp110,23 miliar. Hingga kini, lahan yang telah diolah mencapai 3.443 hektare, dan yang sudah ditanami 3.191 hektare.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa jalan menuju pemulihan belum selesai sepenuhnya. Namun bagi para petani di Mane Tunong, air yang kembali mengalir di saluran irigasi adalah pertanda baik. Dalam sekitar empat bulan ke depan, mereka berharap dapat memanen hasil jerih payah yang sempat tertunda lama. Bukan sekadar padi, melainkan juga kebangkitan kehidupan yang kembali berdenyut di daerah itu. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER