Teheran (Waspada Aceh) – Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras dan menyatakan akan segera memberikan tanggapan tegas terhadap tindakan militer Amerika Serikat yang menyita kapal dagang negaranya di perairan Teluk Oman.
Ancaman ini disampaikan menyusul meningkatnya eskalasi blokade yang membuat jalur strategis Selat Hormuz lumpuh total.
Juru bicara Komando Militer Khatam al-Anbiya Iran, Letkol Ebrahim Zolfaghari, menilai tindakan penyitaan tersebut sebagai bentuk “pembajakan bersenjata”. Ia menekankan bahwa angkatan bersenjata negaranya tidak akan membiarkan tindakan ini berlalu begitu saja.
“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera merespons tindakan tersebut dan membalas pembajakan bersenjata yang dilakukan militer AS ini,” tegas Zolfaghari, seperti dikutip dari kantor berita Reuters.
Insiden penyitaan itu terjadi pada Ahad, 19 April 2026. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukan mereka berhasil mengamankan kapal kargo berbendera Iran bernama Touska. Kapal tersebut ditangkap karena diketahui berupaya menerobos blokade laut yang diterapkan Washington di wilayah perairan tersebut.
“Pasukan AS yang beroperasi di Laut Arab memberlakukan tindakan blokade angkatan laut terhadap kapal kargo berbendera Iran, yang mencoba berlayar menuju pelabuhan Iran pada 19 April,” demikian pernyataan resmi CENTCOM.
Disebutkan bahwa kapal tersebut telah menerima serangkaian peringatan sebelum akhirnya ditahan dan kini berada sepenuhnya di bawah kendali militer AS.
Blokade Total dan Ancaman Trump
Ketegangan ini merupakan puncak dari aksi saling blokade yang dimulai sejak 13 April lalu. Pada tanggal tersebut, Angkatan Laut AS mulai menutup seluruh akses lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz.
Selat ini memiliki nilai strategis yang sangat vital karena menjadi jalur lalu lintas sekitar 20 persen dari total pasokan minyak mentah, produk olahan, dan Gas Alam Cair (LNG) dunia.
Washington menerapkan aturan bahwa kapal-kapal asing (non-Iran) sebenarnya masih diizinkan melintas, asalkan tidak melakukan transaksi pembayaran atau bea masuk kepada pemerintah Teheran. Namun, kebijakan ini memicu respons keras dari Iran yang juga menutup jalur tersebut, sehingga pada akhirnya seluruh aktivitas pelayaran di kawasan itu terhenti total.
Sikap AS tampak semakin keras melalui pernyataan Presiden Donald Trump. Dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (21/4/2026), Trump menegaskan bahwa blokade tidak akan dicabut selama belum ada kesepakatan damai yang ditandatangani.
“Blokade tidak akan dicabut sampai ada kesepakatan dengan Iran,” ujar Trump, sebagaimana dilansir AFP. Lebih lanjut, Trump bahkan mengeluarkan ancaman yang sangat keras, menyatakan siap untuk “meluluhlantakkan” Iran jika pihaknya tidak memenuhi tuntutan perdamaian.
Situasi kini berada pada titik paling genting. Lalu lintas di Selat Hormuz diketahui benar-benar terhenti karena kedua negara adidaya ini saling memberlakukan blokade terpisah. Dunia internasional kini menunggu dengan cemas bagaimana bentuk “balasan” yang akan diluncurkan Teheran, serta dampak lebih lanjut yang bisa terjadi terhadap stabilitas keamanan global dan pasokan energi dunia.
Sementara itu laporan terkini menyebutkan, Iran kembali membuka jalur pelayaran kapal-kapal komersial di Selat Hormuz pada Senin (20/4/2026) setelah sempat menutup selat tersebut pada Sabtu (18/4/2026).
Iran memperingatkan bahwa Teheran tak segan menutup kembali Selat Hormuz jika Amerika Serikat masih melakukan blokade di luar selat itu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan Teheran membuka kembali Selat Hormuz, dikutip dari AFP. (*)



