“Meski isolasi di rumah, 3M tetap kami terapkan, terutama jaga jarak dengan istri. Tidak sebatas jarak 1 hingga 2 meter, tapi menjaga jarak, dari pisah makan, sampai harus pisah ranjang dan pisah kamar. Semua itu kami lakukan satu bulan lebih”
Baru-baru ini, tepatnya pada Minggu (25/10/2020), Mohammad Moralis, seorang jurnalis yang menjabat Sekretaris Serikat Media Siber (SMSI) Provinsi Riau, dilaporkan meninggal dunia. Dia sempat dirawat selama enam hari setelah dinyatakan positif COVID-19.
Pada Minggu sore, pukul 16.00 WIB, sejumlah wartawan menyempatkan diri ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, untuk ikut melaksanakan shalat jenazah sekaligus memberi penghormatan terakhir kepada almarhum.
Selanjutnya, jenazah Pemred/Penanggungjawab riaumandiri.id itu dikebumikan dengan standar protokol kesehatan COVID-19 di TPU Palas, Rumbai, Riau, sekitar pukul 17.00 WIB.
Moralis bukan satu-satunya jurnalis yang menjadi korban virus Corona. Bahkan menurut Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), pada Juni 2020, jurnalis yang terpapar COVID-19 di Indonesia telah mencapai 96 orang.
Itu data yang dilaporkan pada Juni 2020. Tentu datanya akan bertambah, karena belakangan, ada banyak jurnalis yang dilaporkan terpapar virus ini di hampir semua daerah di Indonesia. Bahkan beberapa orang jurnalis meninggal dunia, dan sebagian besar lainnya bisa bertahan dan sembuh.
Seperti juga yang dialami seorang jurnalis di Medan, Tengku Bobby Lesmana, yang sempat berjuang melewati hari-hari berat itu, untuk lepas dari “cengkeraman” COVID-19.
Bobby Penyintas COVID-19 di Medan
Adalah Tengku Bobby Lesmana atau Bobby, panggilan akrab pria bertubuh berisi ini, salah seorang jurnalis di Medan, yang lepas dari COVID-19.
Lelaki ini berjuang melawan virus Corona dalam isolasi mandiri yang dijalani di rumahnya di daerah Johor Medan. Tak lama setelah dia terinfeksi, istrinya pun kemudian terkonfirmasi positif Corona.
Bobby Lesmana, saat ditemui waspadaaceh.com, Sabtu (31/10/2020), mengatakan, kondisinya kini sudah sehat walafiat, begitu juga sang istri. Bobby dan istrinya bisa disebut sebagai penyintas dari keganasan COVID-19.
Bagaimana awal Bobby dinyatakan positif COVID-19, dia menceritakannya kepada waspadaaceh.com.
Awal Mula Menderita COVID-19
Kepada Waspadaaceh.com, Bobby menuturkan bagaimana pada awal September 2020, ketika penyakit itu menyerang dirinya dan istri. Bobby mengindikasikan, awalnya dia hanya menderita flu biasa disertai gejala tifus.
“Jarak demam awal aku dan isteri berselang dua hari saja. Sedangkan jarak swab kami berbeda 10 hari. Saat kami melakukan rapid test bersamaan pada tanggal 7 September 2020 lalu di Klinik UMSU, tetapi hasilnya non reaktif. Karena demam tidak kunjung sembuh, maka tanggal 15 September kami melakukan rapid test kedua di Posko Satgas COVID-19 Sumut di Rumah Dinas Gubernur. Di situ aku dinyatakan reaktif dari dua kali rapid test pada alat yang berbeda dan isteri tetap negatif,” jelasnya.
Karena hasilnya reaktif, maka Bobby diposisikan oleh Tim Satgas untuk swab di Dinkes Provinsi Sumatera Utara. Sedangkan isterinya, tidak dilakukan swab karena non reaktif.
“Sepekan kemudian hasil swabku dinyatakan positif, diambil oleh isteri ke kantor Dinkes pada 23 September. Dan isteri mengajukan diri untuk swab juga. Setelah 3 hari kemudian, isteri juga dikabarkan positif. Lambatnya diketahui gejala yang diderita istri, justru memperburuk kondisi comorbid-nya berupa bronchitis,” ujar Bobby yang juga dikenal sebagai fotografer ini.
Atas saran dari rekan medis, pada tanggal 6 Oktober, Bobby melakukan rontgen di salah satu laboraturium swasta di Medan. Hasilnya, paru-paru Bobby sudah bersih, tetapi tidak dengan paru paru istri, terutama pada paru kirinya.

Pada Rabu (22/10/2020), Bobby singgah ke Puskesmas Johor Medan untuk mengambil surat dari Dinkes Medan, yang menyatakan bahwa istrinya telah bebas dari isolasi mandiri. Sebelumnya Bobby juga telah mendapatkan surat yang sama terlebih dahulu.
“Berdasarkan panduan Penanganan COVID-19 Revisi 5, memang dijelaskan bahwa jika selama isolasi 10+3 hari tanpa gejala, maka dianggap sudah sembuh dan tidak perlu dilakukan swab ulang,” ungkapnya.
Bobby menuturkan, COVID-19 adalah musibah bukan aib. Maka bila terpapar Corona, tidak perlu disembunyikan, sebaliknya justeru harus segera ke rumah sakit untuk mencari pertolongan agar bisa terselamatkan. Sebagaimana juga berulangkali disampaikan oleh sejumlah pakar kesehatan.
“Memang ada pandangan dari masyarakat terutama masyarakat awam yang tidak memahami dunia medis. Mereka beranggapaan bahwa penyakit ini adalah aib bagi penderitanya. Seseorang terpapar COVID-19 bukan karena perbuatan yang menyimpang atau melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan, tetapi karena tertular dari orang lain melalui udara dan percikan ludah atau air liur,” kata Bobby.
Bobby, begitu mengetahui tertular, dia memiliki keyakinan dan optimisme bisa sembuh dari COVID-19. Tapi bagi yang masih sehat, Bobby mengingatkan, harus benar-benar menghindari virus yang membahayakan ini. Yaitu, kata Bobby, dengan menjalankan protokol kesehatan.
“Perilaku 3M (menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan pakai sabun atau menghindari kerumunan) harus dimulai dari diri sendiri. Itu yang paling penting,” ungkapnya.
Satu hal yang harus diketahui, sebagaimana informasi dari seorang petugas kesehatan, bahwa di Provinsi Sumatera Utara, termasuk Kota Medan, banyak OTG (Orang Tanpa Gejala).
“Inilah sebenarnya fenomena gunung es yang sangat berbahaya. Satu hal lagi, tanpa bermaksud memvonis sepihak seseorang itu mengetahui dirinya bergejala, apakah demam, batuk, flu. Tapi saat disarankan untuk rapid test atau swab, dia menolak dengan alasan tidak sakit, mahal dan takut ketahuan positif,” jelasnya.
Melewati Hari dalam Isolasi Mandiri
Ketika Bobby terkonfirmasi positif COVID-19, dia kemudian menjalani isolasi mandiri di rumahnya. Bobby menilai bahwa keputusan itu tidak sepihak darinya, namun melalui diskusi dan konsultasi dengan dokter spesialis paru serta keluarganya.

“Penanganan lebih lanjut untuk membersihkan paru itu yang membuat proses ini menjadi lebih lama dan serius. Tanggal 5 Oktober, aku dinyatakan bebas dari COVID-19 setelah proses swab kedua dilakukan pada 30 September. Dikarenakan istri belum sembuh hingga swab kedua, pada 9 Oktober lalu, maka aku juga ikut melakukan isolasi mandiri hingga keluar surat resmi tanggal 15 Oktober. Tapi aku masih membatasi keluar rumah maksimal hanya 2 jam per hari,” lanjut Bobby.
“Meski isolasi di rumah, 3M tetap kami terapkan, terutama jaga jarak dengan istri. Tidak sebatas jarak 1 hingga 2 meter, tapi menjaga jarak, dari pisah makan, sampai harus pisah ranjang dan pisah kamar. Semua itu kami lakukan satu bulan lebih. Karena kami sadar, harus saling menjaga untuk tidak terpapar satu sama lain. Bahkan ketika saya dinyatakan sembuh, kami tetap menjaga jarak, karena istri masih kondisi penyembuhan,” jelasnya.
Hal yang paling menyedihkan dalam menjalani isolasi mandiri, menurut Bobby, adalah saat dia membutuhkan pelukan dari orang terdekat. Seperti sekedar pelukan suami kepada istri, atau sebaliknya, untuk menguatkan dan memberi semangat, itu tidak bisa dilakukan.
“Bahkan istri berontak dan menangis, ketika ingin dipeluk karena sedih. Kami mencoba bertahan, namun akhirnya luluh, dan saya memeluk istri, lebih untuk memberi dukungan dan semangat. Paling tidak mengurangi beban kesedihannya,” tutur Bobby yang juga pengurus di Forum Daerah Usaha Kecil dan Menengah (Forda UKM) Sumatera Utara ini.
Mengapa Bobby dan istri memilih Isolasi Mandiri, karena hanya mereka berdua di rumah. Jika salah satu opname dalam waktu tidak terbatas, malah membuat satu sama lainnya semakin larut dalam kedukaan dan bisa stres, yang justru membuat semakin lama untuk recovery.
“Di rumah, kami menerima berbagai obat dan multivitamin dari rekan dan keluarga atau beli sendiri. Mulai dari obat keras yang harganya selangit, hingga ramuan herbal kami santap,” urainya.
Selain obat-obatan, silih berganti logistik dikirim dari rekan dan keluarga Bobby dan istrinya. Saban hari selama 3 pekan keduanya harus menjalani isolasi total di rumah.
“Hal ini yang menguatkan istriku, yang sempat shok bagaimana memenuhi kebutuhan dapur selama di rumah. Berbagai macam obat dan multivitamin dikirim juga kepada kami dari berbagai jenis dan daerah,” kata Bobby.
“Bahkan diantaranya kami tahu bukan produk yang murah, dikirim untuk kami. Saling bertukar informasi dengan rekan yang pernah kena dan sembuh, juga kami lakukan. Tentang apa yang bisa dilakukan dan tidak,” katanya.
Bobby menjelaskan, rasa sedih itu dirasakan saat keluarga dan rekan berkunjung ke rumah mengantar logistik. Mereka harus berbicara dari balik jendela mobil. Sedangkan dia hanya bisa berbicara dari balik pagar. Lalu sang istri bahkan hanya bisa mengintip dari balik pintu rumah yang disekat kawat.
Salam pun dilakukan hanya dengan melambaikan tangan dari balik jendela rumah, ke arah kendaraan rekan atau kerabat mereka. Kerap kali ada dukungan dan motivasi disampaikan dalam secarik kertas, dengan kata “Semangat!” dari mereka saat pamit atau akhir pembicaraan via telepon atau WA. Hal itu membuat Bobby menjadi lebih percaya diri dan termotivasi. Bobby semakin yakin adanya karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Salah satu yang dia syukuri juga, bahwa warga komplek tempat tinggalnya tidak mengisolasi atau menciptakan stigma kepada Bobby dan istrinya, sebagaimana pernah mereka dengar terjadi kepada penderita COVID-19 di wilayah Medan lainnya.
“Mereka tetap menyapa kalau kami berjemur jam 10 pagi di halaman depan. Kadang kala beberapa tetangga mengantar penganan ala kadarnya kepada kami, dengan meletakkan di pagar rumah kami. Dan selalu bersyukur kepada Allah, bahwa kami tidak sendirian, dan Allah sangat baik kepada hambanya,” ungkapnya.
Lepas dari Cenkeraman COVID-19
“Hingga status penderita Covid dicabut dari saya pada paruh Oktober dan isteri pada pekan ketiga Oktober 2020, saya merasa tidak sendiri. Teman dan saudara begitu besar perhatian kepada kami. Konsultasi via WA dan telepon tetap dilakukan selama waktu itu. Baik yang di Medan maupun luar daerah,” jelasnya.
Hingga kini, Bobby mengaku tidak ada perubahan perilaku dari orang-orang yang bertemu secara fisik dengannya dan istri. Walau mereka tahu, Bobby dan isteri sebagai penyintas COVID-19.
Kini Bobby lebih aktif mengampanyekan gerakan untuk membantu mereka yang sedang berjuang menghadapi COVID-19 dan sosialisasi kepada masyarakat, agar mendukung para penderita bukan malah menciptakan stigma.
Bobby dan isterinya juga aktif melakukan kampanye 3M dan selalu mengurangi atau menghindari pertemuan atau bertemu dengan seseorang yang tidak terlalu mendesak. Mantan pekerja sosial di sebuah lembaga asal Swiss, yaitu Swisscontact ini juga mengajak masyarakat untuk mendukung para dokter atau tenaga medis yang berjuang untuk menolong pasien yang terpapar COVID-19.
“Kami melihat bagaimana tenaga medis susahnya mengenakan pakaian APD ini. Ketika baju itu ditanggalkan, keringat mengucur dari leher dan kening mereka. Juga membayangkan kisah seorang teman paramedis yang berdinas di RSU Banda Aceh, menahankan dahaga dan buang air kecil hingga berjam-jam lamanya karena susahnya membuka dan mengenakan kembali APD itu,” jelasnya.
Bobby juga berpesan agar masyarakat menghentikan segala jenis opini bahwa COVID-19 ini adalah konspirasi global atau hoax. Apalagi, dia dan istri, telah mengalami begitu beratnya berjuang melawan COVID-19. Bobby sendiri merupakan salah satu pasien dan penyintas COVID-19.
“Saya berterimakasih pada rekan dan keluarga semua termasuk tenaga medis yang selama ini membantu saya dan istri untuk sembuh, dan memberikan semangat kepada kami. Kami berharap bahwa pandemi ini segera berakhir dan aktifitas normal bisa kembali berjalan seperti sedia kala,” tegas pria berkepala plontos yang dikenal ramah ini. (sulaiman achmad)