Senin, Juni 17, 2024
Google search engine
BerandaAcehIni Hasil Kajian Hidrogeologis ESDM Aceh Terkait Kekeringan di Lhoknga

Ini Hasil Kajian Hidrogeologis ESDM Aceh Terkait Kekeringan di Lhoknga

Aceh Besar (Waspada Aceh) – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Mahdinur memberikan penjelasan terkait fenomena kekeringan yang melanda Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Aceh dan menjadi isu krusial pada beberapa minggu terakhir.

Terkait kekeringan yang melanda tersebut, Mahdinur menyampaikan faktor utama penyebabnya adalah kemarau yang berkepanjangan yang telah terjadi sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya.

Kemudian, kepadatan air tanah di Kecamatan Lhoknga sebagian besar berasal dari daerah karst pada media rekahan di bawah tanah, aliran air pada media rekahan ini sangat bergantung pada tingkat curah hujan dan tutupan lahan pada zona resapan.

“Berdasarkan data curah hujan yang disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi, BMKG Indrapuri, data curah hujan di stasiun BMKG Lhoknga menunjukkan hampir setiap tahun terdapat curah hujan yang rendah,” kata Mahdinur dalam siaran persnya yang disampaikan melalui PT SBA, Sabtu (18/5/2024).

Mahdinur menjelaskan khususnya pada awal tahun 2024 curah hujan rata-rata berada dibawah 100 mm, bahkan di bulan Februari hanya 48 mm dan bulan April 60 mm. Dengan kondisi curah hujan yang rendah ini bahkan dibawah normal menjadi penyebab utama terjadinya kekeringan pada beberapa sumber air di daerah karst Kecamatan Lhoknga.

Selain itu, katanya, penyebab lainnya yang dapat terjadi adalah perubahan tutupan lahan pada zona-zona resapan, tentu saja hal ini perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut oleh instansi terkait.

“Secara hidrogeologis, berdasarkan beberapa kajian ilmiah yang dilakukan oleh BGR, Jerman pada tahun 2007 dan juga oleh Universitas Gadjah Mada pada tahun 2021, sumber air pada Pucok Krueng yang berdekatan dengan Desa Naga Umbang merupakan sebuah sistem hidrologi karst yang airnya terkoneksi dengan Gua Uleu,” ungkapnya.

Dia menuturkan Gua Uleu sendiri merupakan bagian dari hutan lindung atau zona resapan pada Lembah Lunto dengan arah aliran air tanah menuju ke utara.

Berdasarkan kajian tersebut juga diketahui bahwa zona resapan aliran Pucok Krueng berbeda dengan zona resapan lokasi PT Solusi Bangun Andalas (SBA) yang arah aliran air tanahnya menuju ke Barat atau menuju laut.

“Hal ini sudah dibuktikan melalui uji tracer test dengan melakukan injeksi media berwarna (zat uranine) pada gua dan rongga untuk menelusuri arah aliran air tanah di gua Uleu (zona resapan Pucok Krueng) ataupun di gua Quarry atau Zona resapan daerah PT SBA,” ungkapnya.

Sehingga berdasarkan kajian ini tidak dapat dibuktikan bahwa isu aktivitas penambangan berkaitan dengan kekeringan beberapa sumber air disekitar wilayah tersebut.

Selain itu, kondisi hidrogeologis di Gampong Lambaro Seubun yang berjarak hampir 10 km dari Pucok Krueng atau PT SBA merupakan sistem aliran air tanah yang sama sekali berbeda baik hulu atau zona resapannya sehingga tidak dapat di hubungkan dengan zona resapan pada Pucok krueng dan lokasi PT Solusi Bangun Andalas.

Terkait hal ini, Dinas ESDM Aceh juga telah mengundang PT SBA untuk memberikan keterangan dan penjelasan terkait kajian hidrologi karst di wilayah tersebut. Perlu diketahui juga bahwa pemakaian air permukaan oleh PT SBA sendiri saat ini mengutamakan sumber air yang berasal dari pengumpulan air hujan berupa embung.

Terkait permasalahan kekeringan ini, Mahdinur menyampaikan solusi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek pemerintah terkait atau melalui PDAM Tirta Mountala telah memberikan bantuan berupa tangki air secara regular kepada masyarakat.

Mahdinur memberikan apresiasi yang tinggi kepada Pemkab Aceh Besar dan juga PT SBA yang melakukan gerak cepat dalam memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat.

Sedangkan untuk jangka panjang, pemerintah atau instansi terkait dapat mengupayakan pembuatan embung penangkap air hujan dan atau pengambilan air dari sumber-sumber air yang mengalir sepanjang tahun dengan debit yang cukup besar seperti di Gua Ilup (11 l/detik) dan Gua Uleu (614 l/detik) serta Sungai Sarah di Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar.

Untuk Sungai Sarah sendiri berdasarkan informasi dari PDAM Tirta Montala, pernah merencanakan membangun SPAM dengan sistem penyediaan air dari Sungai Sarah dengan kapasitas 400 l/detik yang telah dianggarkan oleh pemerintah pusat.

“Dari Studi Hidrologi dan Hidrogeologi yang kami lakukan bersama Tim Universitas Gajah Mada menyimpulkan bahwa adanya perbedaan sistem aliran air bawah tanah dari Daerah Tangkapan Air (DTA) Tambang SBA dengan DTA Lembah Luntho serta Gua Uleu yang terbukti terkoneksi dengan Sungai Bawah Tanah Pucok Krueng dan diyakini merupakan sumber mata air bagi masyarakat di sekitar kawasan Lhoknga,” kata Mochamad Anwar Bakti, General Manager SBA menambahkan.

Anwar Bakti menambahkan saat ini sumber air baku untuk pabrik hanya menggunakan air limpasan hujan yang tertampung pada kolam settling pond di area quarry Batu Gamping namun kondisinya saat ini telah surut drastis dan hampir kering karena dampak kemarau berkepanjangan.

“Kami terus melakukan berbagai inisiatif dalam upaya efisiensi penggunaan air di pabrik SBA, salah satunya adalah dengan membuat Waste Water Treatment Plant (WWTP) agar air sisa proses pendinginan tidak terbuang ke badan air namun dapat digunakan kembali (closed loop circuit),” tambah Anwar.

Dia mengucapkan terima kasih atas penguatan penjelasan serta bimbingan dari Mahdinur, Kepala Dinas ESDM Aceh kepada SBA, semoga hal ini dapat memberikan informasi yang valid kepada masyarakat atas penyebab kekeringan yang terjadi di wilayah Kecamatan Lhoknga selama ini.

“Kami akan terus berkomitmen untuk senantiasa hadir dan berkontribusi bagi masyarakat yang terdampak oleh bencana kekeringan ini bersama dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar serta seluruh stakeholder terkait,” tutup Anwar. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER