Beranda Disbudpar Aceh Ini Dia Agrowisata dan Kuliner di Kolong Jembatan Cot Iri Aceh Besar

Ini Dia Agrowisata dan Kuliner di Kolong Jembatan Cot Iri Aceh Besar

BERBAGI
Pemandangan menarik di lokasi agrowisata bantaran Krueng Aceh di Banda Aceh. (Foto/cut nauval dafistri)

“Potensi pariwisata, termasuk agrowisata di Provinsi Aceh memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat”

— Kadisbudpar Aceh Jamaluddin —

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin, mengatakan bahwa Aceh memiliki potensi alam yang luar biasa. Keberadaan agrowisata, kata dia, dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di Provinsi Aceh.

Menjawab pertanyaan Waspadaaceh.com, Kamis (15/4/2021), Jamaluddin menyebutkan, hampir semua daerah di Provinsi Aceh memiliki potensi agriwisata dengan keunikannya masing-masing. Di Aceh Tengah misalnya, memiliki potensi besar sebagai kawasan pengembangan agrowisata kopi.

“Saat ini, seperti agrowisata kopi di Aceh Tengah, yang bisa menarik para tamu (wisatawan) untuk menikmati keindahan alam pertaniannya. Potensi ini tentu dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan pada akhirnya meningkatkan perekonomian masyarakat di sana,” tutur Jamaluddin.

Agrowisata Kolong Jembatan Cot Iri

Selain agrowisata yang disesuaikan dengan potensi daerahnya masing-masing, wisata agro juga bisa diciptakan atau didesain sesuai kebutuhannya. Contohnya areal di bawah kolong jembatan yang bisa dimanfaatkan untuk wisata kuliner dan agrowisata.

Biasanya kolong jembatan itu kondisinya terkesan kumuh dan tak terawat. Tapi siapa sangka, kolong jembatan Cot Iri di Aceh Besar, yang sebelumnya ditumbuhi ilalang dan semak belukar itu, kini menjelma menjadi agrowisata.

Sepanjang mata memandang, terlihat pot putih bergantungan berisi sayur-sayuran segar berupa daun sop, tomat, daun selada dan jenis tanaman lain. Semua tampak hijau dan “menggoda”.

Tampak aneka buah-buahan segar yang masih menggelantung di pohonnya dalam sebuah pot, menjadi menarik. Juga terlihat lima rak tanaman hidroponik. Beberapa petani sedang mencangkul di hamparan lahan untuk menanam sayur-sayuran.

Pada 6 Febuari 2021, lokasi tersebut dicanangkan dengan nama “Agrowisata Pertanian dan Kuliner Bantaran Krueng Aceh.” Agrowisata dan kuliner yang sudah dua bulan ini, dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB.

Di samping agrowisata, pengunjung dapat menikmati ragam kuliner yang tersedia. Di antaranya menikmati aneka minuman di Krueng Barona Jaya (KBJ) Kopi, berupa bakso, ayam geprek, es kelapa muda, empek-empek, kebab dll. Sambil mencicipi kuliner, pengunjung akan disuguhkan eloknya hamparan sawah dan pegunungan dari lokasi tersebut.

Pengelola agrowisata tersebut, Salihan, 50, mengatakan, agrowisata tersebut saat ini dibina oleh Kodam Iskandar Muda. Lahan tersebut merupakan lahan milik pemerintah. Sebelumnya kawasan tersebut dijadikan kandang sapi, banyak pohon mari, dan ditumbuhi ilalang serta semak belukar.

“Sudah lama saya lihat tidak ada yang mengelola. Potensinya bagus, jadi saya bersihkan. Muncul ide kemudian, perencanaan dari Koramil 08 untuk dibuat agrowisata pertanian, supaya membantu tenaga kerja desa setempat. Warga juga bisa berjualan di sini membuka usaha kuliner,” tutur Salihan kepada Waspadaaceh.com, Sabtu (3/4/2021).

Dengan adanya agrowisata, kata Salihan, bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan sumber daya lahan yang ada. Bisa memanfaatkan lahan pekarangan untuk tanaman holtikultura yang mampu memenuhi kebutuhan harian dan menjadi ketahanan pangan lokal.

Pemandangan menarik di lokasi agrowisata bantaran Krueng Aceh di Banda Aceh. (Foto/cut nauval dafistri)

Salihan menambahkan bahwa pengunjung dapat membeli segala jenis tanaman yang tersedia di agrowisata tersebut.

Komandan Rayon Militer (Danramil) Kecamatan Krueng Barona Jaya dan Kutabaro, Pelda Fahrul mengatakan, ada sembilan kelompok tani binaan Kodam Iskandar Muda. di antaranya dua desa di Kecamatan Kuta Baro dan tujuh desa di Kecamatan Krueng Barona Jaya.

“Jadi kelompok tani tersebut yang menggarap bantaran sungai Krueng Aceh, saat ini masih dalam tahap pembersihan lahan dan permulaan. Kelompok tani ini kita bina dengan menghadirkan penyuluh pertanian. Dengan adanya aktivitas pertanian di sini dapat menjaga ketanahan pangan masyarakat,” ujar Fahrul kepada Waspadaaceh.com.

Kata Fahrul, kawasan tersebut belum diusulkan ke Dinas Pariwisata Aceh, karena saat ini baru tahap pengembangan pertanian. Menunggu selesai semuanya, kata Fahrul.

Metamorfosa itu, kata Fahrul, tidak terjadi secara cepat, atau tidak pula semudah membalikkan telapak tangan. Butuh beberapa tahun dan keuletan, kesabaran, serta biaya besar untuk mewujudkan menjadi agrowisata yang akan banyak dikunjungi wisatawan.

Jika malam hari kawasan itu dihiasi dengan lampu-lampu yang warna-warni, sehingga suasana kawasan tersebut tampak sangat meriah. Pada sore hari hingga malam, lokasi ini semakin ramai pengunjung.

Di masa pandemi COVID-19, Kawasan ini tetap menjalankan protokol kesehatan, harus mengenakan masker. Pengelola menyediakan wastafel untuk mencuci tangan bagi pengunjung. Pengelola juga menyediakan mushalla mini, toilet, dan tempat wudhu.

Mendukung Ekonomi Masyarakat

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Aceh Besar, Ridwan Jamil mengatakan, terkait agrowisata di bawah jembatan Cot Irie, di pinggiran Krueng Aceh tersebut sangat mendukung dalam memajukan ekonomi masyarakat setempat.

“Agrowisata bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Dengan memanfaatkan lahan, bisa membentuk kelompok tani untuk bercocok tanam di bantaran sungai tersebut. Namun bagi pengelola di bantaran sungai harus sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. Jangan sampai menganggu fungsinya,” tutur Ridwan.

Saat membersihkan kawasan tersebut, kata Ridwan, Pemerintah Aceh juga telah mengadakan rapat bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk penataan bantaran sungai tersebut agar diperbolehkan untuk pengembangan agrowisata.

Ridwan menambahkan, dalam mengembangkan agrowisata di kawasan itu harus sesuai dengan formula atau prosedur yang sudah ditetapkan. Seperti tidak ada bangunan fisik permanen agar tidak menganggu aliran sungai dan untuk mencegah terjadinya banjir, ujarnya. (Cut Nauval Dafistri)